Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Siapa gadis ini?


__ADS_3

...51🌲...


Maya membuka kan pintu kamar Aelin untuk Stefan.


Di mana dokter muda itu melenggang dengan tergesa- gesa masuk ke dalam kamar, di mana netra nya langsung di sapa oleh kehadiran Davin yang duduk di tepi ranjang.


Stefan menatap lekat penuh menelisik ke arah seorang wanita yang terkesan seperti gadis remaja yang sedang tertidur dengan bibir membiru.


"Kau sudah datang? cepat periksa dia..!" Seru Davin dengan nada memerintah yang langsung membuyar kan tatapan penuh tanda tanya Stefan.


^^^"Siapa gadis cantik ini?" Batin Stefan dengan seribu pertanyaan yang sudah bermunculan di kepala nya. Yang pasti nya akan segera ia layang kan kepada Davin sahabat nya itu. Setelah tanggung jawab nya selesai.^^^


Davin menyingkir memberi kan ruang untuk Stefan memeriksa Aelin.


Ia berharap gadis kecil itu baik- baik saja. Fokus nya kini mengarah pada Maya yang berdiri dengan kepala menunduk di dekat pintu.


Ia sangat marah dengan tingkah ceroboh Maya, rahang nya mengeras begitu saja, dengan tatapan mata yang menatap tajam penuh aura mengintimidasi.


Yang tiba- tiba membuat atmosfer di dekat Maya menjadi berat.


Davin melirik ke arah Stefan yang masih menangani Aelin.


Sebelum ia menghampir Maya dan mengata kan sesuatu.


"Ikut aku...!" Ucap Davin dengan suara datar dan dingin, yang langsung membuat tubuh Maya gemetar hebat.


Davin berjalan keluar dari kamar Aelin, lalu menuju ruang bawah di mana di belakang nya Maya mengekor dengan tubuh gemetar ketakutan.


Davin merebah kan tubuh kekar nya di sofa, kini mereka sedang berada di ruang keluarga.


Di mana Davin akan mengeksekusi keteledoran Maya yang hampir membunuh Aelin.


Sebelum Davin menggerak kan bibir nya, Maya langsung berlutut bahkan hampir bersujud di hadapan Davin yang sudah menatap nya dengan penuh amarah.


"Tuan maaf kan saya... Saya janji tidak akan mengulangi nya lagi..." Seru Maya dengan nada bergetar.


Ia sungguh takut, ia lebih memilih di hadap kan dengan lima preman sekaligus , dari pada harus berhadapan dengan Davin yang hanya dengan tatapan pria itu saja nyawa nya terasa terangkat dengan begitu menyakit kan.


"Apa aku perlu menjelas kan tugas mu Maya...? Menjelas kan tujuan mu di pindah kan ke rumah ini..." Seru Davin dengan aura membunuh yang tertuju pada Maya.


Entah apa yang saat ini terjadi pada diri nya. Melihat Aelin terkapar tak sadar kan diri membuat diri nya benar- benar marah dengan kemarahan yang tak terkendali.


Ada letupan aneh yang muncul di hati nya, namun diri nya tidak bisa mengetahui rasa apa itu. Tapi ia yakin jika rasa itu adalah dendam dan benci. Di mana dua rasa itu belum tersalur kan untuk membuat hidup Aelin menderita.


Maya menelan saliva nya dengan bersusah payah, mengumpul kan kekuatan untuk menjawab pertanyaan sang majikan yang seperti nya akan memberi kan hukuman berat untuk nya.


"Saya tahu Tuan.. Maaf kan atas keteledoran saya... Tapi maaf jika saya lancang tuan.. Anda sangat membenci Nona Aelin bukan?. Bukan kah hal ini bagus karna membuat nya menderita..."

__ADS_1


"Berani sekali kamu mengata kan hal itu Maya...!!!" Bentak Davin kini dengan mata melotot.


Seperti nya ia harus memberi kan pelajaran untuk pelayan nya yang sudah mempertanya kan tindakan nya.


Tubuh Maya tersentak saat mendengar teriakan menggelegar penuh amarah Davin.


"Hanya aku yang boleh menentu kan bagaimana Aelin akan menderita... Kau atau pun orang lain tidak boleh melakukan apa pun tanpa perintah dari ku... Jangan berani sok mengajari ku.. Jika kamu masih menyayangi nyawa mu..." Ujar Davin dengan amarah menggebu- gebu, lalu mendekat ke arah sebuah lemari.


Mengeluarkan sesuatu dari sana yang tak lain adalah sebuah alat cambuk.


Gigi Maya bergemelatuk semakin ketakutan saat di tangan tuan nya sudah ada alat cambuk yang pasti nya akan sangat sakit jika mengenai tubuh nya.


Ia sudah melakukan kesalahan, ia sudah mengangap Aelin sebagai sosok yang tidak penting. Namun karna pemikiran nya itu ia harus menahan hukuman yang sangat menyakit kan.


Maya benar- benar tidak habis pikir dengan majikan nya.


Di mana Davin mengata kan membenci Aelin dan ingin membuat hidup wanita itu hancur. Namun saat melihat wanita itu di ambang maut Davin begitu marah dan terlihat begitu panik.


Apa ini sesuai dengan kebencian dan balas dendam Davin atau semua itu kini berubah.?


Davin berjalan mendekat ke arah Maya, menatap Maya yang sudah memposisi kan diri nya.


Tangan Davin menggengam cambuk dengan erat, dan dengan cepat mengayun kan benda itu ke arah punggung Maya.


Cetter....


Cetter...


Bahkan rasa nya ke dua mata nya ingin melompat keluar dari cangkang nya, karna menahan rasa sakit yang benar- benar menghancur kan seluruh tubuh nya.


Maya tidak berani untuk berteriak atau mengadu kesakitan.


Karna jika sampai ia melakukan hal itu, kegilaan majikan nya akan semakin menjadi- jadi.


Cetarrrrrr...


Satu cambukan terakhir menembus kulit punggung Maya, yang seperti nya baju nya sudah terkoyak.


Sepuluh kali cambukan untuk kesalahan nya.


Tubuh Maya langsung ambruk di tempat dengan kesadaran yang menghilang seutuh nya.


Davin menghembus kan nafas nya kasar, lalu mendongak kan kepala nya ke atas.


Tangan nya yang memegang cambuk langsung menjatuh kan benda laknat itu.


"Pengawal....!" Teriak Davin yang langsung membuat dua pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Mereka terhenyak saat mendapati tubuh seorang pelayan telah tumbang dengan luka cambukan yang cukup parah di punggung nya.


Sangat mengerikan, batin mereka yang hanya mampu menelan saliva nya ketakutan.


"Bawa tubuh pelayan ini pergi...." Perintah Davin yang langsung di laksana kan.


Tubuh Maya yang sudah lemas, segera di angkat oleh ke dua pengawal tersebut, lalu membawa tubuh Maya keluar dari ruangan yang membuat ke dua nya sesak.


Davin menatap datar, percikan darah di lantai, lalu berjalan dengan santai seperti tidak terjadi apa- apa.


Saat ini ia harus kembali ke kamar Aelin, memastikan kondisi wanita kecil yang sangat merepot kan itu.


Namun baru saja Davin memasuki kamar Aelin, ia langsung di sambut dengan tatapan tidak bersahabat dari Stefan.


"Aku butuh penjelasan Davin...!" Seru Stefan dengan nada sarkas.


"Kamu ingin mengetahui apa? Apa yang harus aku jelas kan pada mu?" Jawab Davin dengan pertanyaan yang berhasil membuat Stefan semakin kesal dengan tingkah sahabat nya.


Namun saat ini ia membutuh kan jawaban tentang seorang gadis remaja yang ada di hadapan nya.


"Siapa gadis remaja ini?" Tanya Stefan to the poin dengan tatapan mengintimidasi.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2