
...151π...
Tik..
Tik..
Tik..
Suara detik jarum jam terus bergerak melingkar tanpa jeda.
Aelin sedang berdiri di balkon sambil menatap ke arah gerbang utama, berharap jika Davin pulang karna malam sudah semakin larut bahkan hampir tengah malam.
Namun sosok Davin tak kunjung muncul, membuat Aelin semakin merasa cemas dan khawatir, belum lagi sebelum nya Davin pergi tanpa mengata kan apa pun pada nya. Bahkan makan malam suami nya itu masih tersisa banyak di atas piring.
Semilir angin malam dingin menusuk ke tulang terdalam menghembus tubuh Aelin yang masih betah berdiri di balkon kamar nya nya, tanpa bergeming sedikit pun.
Aelin memeluk tubuh nya sendiri, tentu saja hembusan angin itu terasa nyilu saat menyentuh kulit nya. Tapi ia enggan untuk berjalan masuk dan tidur di dalam kamar.
"Huhhh..." Aelin menghembus kan nafas nya panjang, raut wajah nya benar- benar terlihat sangat cemas.
"Di mana diri mu sekarang Davin? Sebenar nya apa yang terjadi pada mu..?" Lirih Aelin dengan pertanyaan yang sama yang selalu terngiang di kepala nya.
Ia merogoh saku baju tidur transparan yang ia kenakan, mengambil benda persegi yang tidak akan pernah lepas dari tangan nya.
Ia memencet kontak atas nama Davin lalu mendekat kan nya di telinga nya.
"Maaf nomer yang anda tuju di luar jangkauan... Coba lah beberapa saat lagi..."
Aelin memejam kan mata nya, saat lagi- lagi yang terdengar adalah suara operator yang sangat menyebal kan dan membuat telinga jengah.
Entah sudah berapa kali ia mencoba menghubungi Davin, tapi tetap saja nomer Davin berada di luar jangkauan. Hal itu semakin membuat diri nya takut jika terjadi apa pun pada pria yang sangat di cintai nya itu.
Aelin menengadah kan kepala nya, menatap langit yang semakin lama semakin kelam.
"Tuhan, lindungi lah Davin, jika kali ini kamu mengambil kebahagian ku. Maka aku tidak akan bisa bertahan lagi. Aku tidak akan bisa hidup lagi. Semua duka yang kau beri kan membuat ku hampir hancur, tapi Davin ada untuk menguat kan ku.. Dia yang membuat ku berpijak hingga detik ini.. Untuk itu aku mohon lindungi lah dia..." Gumam Aelin berdoa dengan segenap hati nya.
"Nona kenapa kau belum tidur..?" Celetuk suara Maya dengan ke dua tangan nya menyampir kan jaket tebal berbulu di tubuh Aelin.
Aelin cukup tersentak saat merasa kan ada yang memasang kan jaket di tubuh nya.
Ia pikir jika yang datang adalah Davin, tapi seperti nya ia terlalu berharap, karna yang datang adalah pelayan pribadi nya.
Aelin mengerat kan jaket di tubuh nya , lalu mengulas senyum kaku dan berbalik menghadap Maya.
__ADS_1
"Aku sedang menunggu Tuan Davin pulang. Aku merasa sangat cemas May, dia pergi tanpa mengata kan apa pun. Lalu sampai tengah malam begini dia belum kembali..." Jujur Aelin dengan wajah sendu.
"Tapi kau? Kenapa kamu belum tidur?" Lanjut Aelin melempar kan pertanyaan pada Maya.
"Sebenar nya, aku ingin mengambil air minum, dan tanpa sengaja aku melihat nona yang masih terjaga. Karna aku tidak ingin Nona masuk angin, jadi aku masuk dan memakai kan jaket... Tapi Nona , Nona tidak perlu khawatir tentang Tuan Davin. Aku yakin dia baik- baik saja, mungkin sedang ada urusan pekerjaan yang sangat penting sehingga Tuan belum pulang... Lebih baik nona masuk dan beristirahat lah.. Bukan kah besok nona ada ujian kelulusan..." Jelas Maya, di iringi dengan kalimat bujukan agar majikan nya masuk dan beristirahat.
"Kau benar May, pikiran ku yang selaku overthingking membuat ku sangat terganggu. Baik lah aku akan masuk..." Aelin memutus kan untuk mendengar kan perkataan Maya, apa lagi besok ia harus menghadapi ujian kelulusan. Sesuatu yang sangat ia nanti kan. Dan diri nya harus bersiap untuk esok hari.
Aelin melangkah masuk, sementara di belakang nya Maya mengekor.
"Jika begitu, aku permisi nona..." Pamit Maya dengan membungkuk kan tubuh nya sembilan puluh derajat, lalu berangsur keluar dari kamar Aelin, di mana sebelum nya Aelin mengangguk kan kepala nya.
Aelin merebah kan tubuh nya di atas ranjang king size, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi separuh tubuh nya. Lalu memejam kan ke dua mata nya meski sebenar nya rasa kantuk sama sekali tidak ia rasa kan.
Di ujung dunia lain nya, tepat di villa dengan pencahayaan yang begitu terang.
Terlihat di sebuah kamar, Syaila tengah berbaring dengan Davin dengan posisi saling memeluk.
Wajah Syaila terlihat begitu bahagia, sementara Davin hanya menunjuk kan ekspresi yang tak bisa di arti kan.
Syaila memajukan wajah nya, mencium lembut pipi Davin, hingga tubuh Davin seketika menegang.
Glek...
"Malam ini aku sangat senang.. Karna setelah sekian lama akhir nya kita bisa kembali bersatu..." Bisik Syaila dengan nada manja, di mana hembusan nafas nya tepat di telinga Davin, yang semakin membuat tubuh Davin meremang.
Davin segera bangkit dan menyandar kan tubuh nya pada headbord ranjang.
Ia menatap sekilas pada ponsel nya yang ada di atas meja nakas di samping tempat tidur.
Benda pipih berbentuk persegi itu tidak berdering sama sekali, karna ia sudah menyala kan mode pesawat. Sehingga panggilan atau pun pesan tidak akan masuk.
Ia sengaja melakukan hal itu, karna ia yakin Aelin pasti akan berusaha menghubungi nya.
Ia tidak ingin jika sampai Syaila curiga atau pun sampai tahu tentang keberadaan Aelin.
Ia sama sekali tidak sanggup untuk menyakiti istri nya yang baru sadar dari koma panjang nya.
Malam ini ia harus tetap tinggal di villa, karna Syaila tidak mengizin kan diri nya pulang.
Ia juga tidak bisa menolak karna diri nya tidak memiliki alasan apa pun yang bisa ia kata kan untuk mengecoh Syaila.
"Situasi ini benar- benar sangat rumit.. Aku harus segera menyelesai kan hal ini.. Dan aku tidak bisa menyakiti Syaila, dia sudah sangat menderita bahkan hampir saja dia tidak selamat dari maut..." Batin Davin yang masih termenung dengan pikiran nya.
__ADS_1
Melihat Davin melamun, dan sedikit aneh karna sejak tadi Davin terus menghindari nya. Membuat Syaila beringsut dan duduk di samping Davin.
"Honey.. Tatap aku..!" Titah Syaila dengan menarik wajah Davin untuk menatap nya.
Tatapan mereka bertemu , adu pandang- pandangan pun terjadi.
Saling menelisik ke dalam mata masing- masing, di mana ke dua nya semakin terhanyut dalam pandangan itu.
Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat, hingga ke dua bibir mereka menempel dengan sempurna.
Menyalur kan setiap rasa, serta kerinduan yang sudah sangat lama di pendam.
Khusus nya Syaila yang semakin agresif, hingga menggiring Davin menjalan kan tugas nya sebagai seorang suami.
Tanpa Davin sadari, ada wanita lain yang tengah menunggu kepulangan nya. Namun dia terlena dengan permainan nya bersama dengan Syaila.
...----------------...
...****************...
Gila si Davinππ
Ya ampun kasian banget si Aelin,, ngak bisa tidur gara- gara mikirin Davin.. Ehh Si Davin malah asik- asik kan sama Syaila...πππ
Ngak ada yang Vote, ya pasti up nya kurang teratur yaπππ
makin banyak yang koment and like, makin banyak othor upπππ
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangatπ
.
__ADS_1