
...100💚...
Davin mengerjap kan ke dua kelopak mata nya.
Namun ke dua kelopak mata nya, benar- benar terasa berat.
Seperti ke dua mata nya di tempeli oleh lem perekat, sehingga sangat sulit untuk di buka.
Davin kembali mencoba mengerjap kan ke dua mata nya.
Di mana ke dua netra nya langsung di sapa dengan silau nya cahaya.
Davin memejam kan ke dua mata nya kembali, lalu membuka ke dua kelopak mata nya secara perlahan.
"Akhh..." Ringgis Davin saat merasa kan sakit di bagian wajah kanan nya, pipi nya terasa sobek.
Davin mencoba menggerak kan tangan nya, namun tangan nya terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menggenggam tangan nya.
Davin mengalih kan tatapan nya, dan melihat tangan lentik yang sedang menggengam tangan nya erat.
Di mana sebuah kepala dengan wajah cantik bak peri sedang tertidur dengan lelap.
Sudut bibir Davin terangkat, melihat siapa yang tertidur di pinggir brangkar nya.
Yang tak lain dan tak bukan adalah Aelin istri kecil nya.
Davin menatap lekat wajah Aelin yang terlihat sembab , di mana mata wanita cantik itu terlihat membengkak.
Dapat Davin tebak jika Aelin pasti habis menangis.
"Kau di sini...!" Lirih Davin dengan mengelus tangan Aelin yang sedang menggenggam nya.
Tangan yang terasa begitu hangat dan lembut.
Davin tidak memungkiri jika wajah Aelin sangat cantik.
Bulu mata lentik dengan ke dua kelopak mata yang sedang tertutup rapat itu terlihat begitu damai.
Rasa nya sangat damai melihat wajah cantik Aelin.
Davin mengedar kan pandangan nya sejenak, dan menyadari jika diri nya kini berada di rumah sakit.
Tentu saja, di mana lagi diri nya akan berakhir setelah kecelakaan yang cukup tragis itu jika bukan rumah sakit.
Ciiitttt...
Suara decitan pintu yang terbuka, membuat Davin mengalih kan pandangan nya pada Darren yang sedang mendorong pintu dan masuk.
"Tuan an--"
Davin langsung meletak kan jari telunjuk nya di depan bibir nya, mengisyarat kan agar tidak berbicara.
Darren langsung melipat bibir nya dalam, saat melihat isyarat dari sang majikan, di mana sorot mata Davin melirik pada Aelin yang sedang tidur, membuat Darren mengerti dan mengangguk.
__ADS_1
Darren melangkah masuk dan meletak kan paper bag makanan yang ada di tangan nya di atas meja.
Bahkan derap kaki nya ia buat tidak berbunyi, karna takut Aelin sampai terbangun.
Bibir Davin terus tersenyum tipis sembari tangan nya mengelus tangan Aelin.
Hal itu pun tidak luput dari perhatian Darren, yang merasa tingkah sang majikan semakin ke sini semakin melunak.
Aelin yang merasa ada elusan lembut di tangan nya, perlahan membuka ke dua bola mata nya.
Sejak kemarin malam, ia tidak bisa tidur dan terus menangis.
Bahkan ia tidak sempat makan atau pun minum.
Davin belum tersadar sejak kemarin, hal itu yang membuat Aelin terus menunggu Davin sadar dan melupakan diri nya sendiri.
Aelin mengucek ke dua mata nya, di mana netra nya langsung terhenti saat melihat wajah tampan yang sedang tersenyum manis ke arah nya.
"Om sudah sadar..." Lirih Aelin dengan suara senang dan terharu.
Tanpa aba- aba, Aelin langsung menghambur memeluk tubuh Davin.
Ia benar- benar sangat takut, saat Davin tidak sadar kan diri.
Ia tidak ingin Davin meninggal kan diri nya. Ia pasti tidak akan bisa hidup jika sampai Davin pergi.
Aelin memeluk erat Davin, menyalur kan rasa khawatir dan cemas serta ketakutan yang ia rasa kan dua hari ini.
Sementara Davin tersenyum senang ketika Aelin memeluk diri nya.
Pelukan ini begitu terasa sangat nyaman, bahkan mampu membuat hati Davin bergetar.
"Aku takut... Hiks..." Bisik Aelin dengan tangis yang pecah.
"Tenang lah aku baik- baik saja hmmm..." Ujar Davin mencoba menenang kan Aelin, di mana tubuh wanita yang kini dalam pelukan nya bergetar.
Davin mengelus punggung Aelin lembut.
"Berhenti lah menangis, jangan cengeng..." Kekeh Davin membuat suasana sedikit mencair.
Aelin segera mengurai pelukan nya, ia menatap Davin penuh kelembutan, berbeda dengan cara ia menatap Davin dulu.
Di ke dua bola mata indah nya, bahkan tidak tampak sedikit pun kebencian dan kemarahan yang selama ini di tunjuk kan.
Yang ada hanya tatapan lembut.
Davin mengusap air mata Aelin, mengelus lembut pipi Aelin.
"Kamu jelek sekali..." Ledek Davin, melihat tampilan Aelin yang sudah seperti setan Falaq.
"Aku seperti ini karna kamu menakuti ku... Aku hampir mati jantungan..." Timpal Aelin dengan kesal.
Ia sedang terharu melihat pria yang notabene nya adalah suami nya sadar, malah di ejek seperti itu.
__ADS_1
Tapi sungguh Aelin benar- benar lega sekarang.
"Maaf aku tidak memberi tahu mu sebelum pergi.." Wajah Davin berubah menjadi bersalah.
Melihat Aelin yang begitu khawatir pada diri nya, entah mengapa membuat diri nya merasa senang.
"Tidak papa.. Yang penting diri mu sudah sadar.. Jangan tinggal kan aku..."
Deg..
Jantung Davin semakin berdebar tidak karuan, mendengar ucapan Aelin yang meminta diri nya untuk tidak meninggal kan nya.
"Apa dia tidak membenci ku lagi..? Hingga dia meminta ku untuk tidak meninggal kan nya.. Lalu kenapa aku terbawa perasaan.. Rasa nya aku tidak tega melihat nya menangis.. Rasa apa ini?" Batin Davin bertanya- tanya pada diri nya, tentang perubahan perasaan nya yang menjadi melow.
Davin hanya mengangguk ringan, di mana kini pertanyaan - pertanyaan aneh mulai menumpuk di kepala nya.
"Nona.. Makan lah dulu.. Saya membeli kan makanan untuk anda... Anda belum makan dari kemarin karna terus menunggu Tuan Davin.." Sela Darren, yang mulai terganggu dengan intraksi suami istri di hadapan nya.
Jiwa jomblo nya meronta- ronta.
Wajah Davin berubah tajam pada Aelin, saat mendengar istri kecil nya belum makan apa- apa.
Sementara Aelin menatap Darren bermusuhan karna mulut Darren benar- benar lemes.
"Apa itu benar Aelin?" Tanya Davin penuh penekanan.
"Aku hanya tidak lapar..." Bela Aelin.
"Kau menunggu ku untuk bangun.. Tapi kau malah menyakiti diri mu sendiri.. Jangan ulangi lagi.. Bisa- bisa kamu juga terbaring di ranjang rumah sakit karna tidak makan... Darren berikan makanan nya..!" Davin mengulur kan tangan nya pada Darren, di mana Darren langsung memberi kan makanan yang baru saja di beli nya pada Davin.
Melihat sikap peduli Davin membuat Aelin tersenyum tipis, bahkan sangat tipis hingga Darren dan Davin tidak melihat senyuman nya.
Hati nya berbunga- bunga karna Davin yang peduli pada nya.
Apa ia telah jatuh hati pada pria dengan umur yang terpaut jauh dari nya?
Bahkan pria yang di panggil om oleh diri nya.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙