
...163💚...
Darren segera bergegas keluar dari rumah. Merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan benda persegi. Memainkan jari-jarinya di atas layar pipih itu lalu mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Tuan, jawablah!!" gumam Darren sambil mengetuk-ngetuk dinding di sampingnya. Ia yakin akan terjadi badai sekarang.
Ini lah yang selalu di takutkan oleh Darren, sehingga dirinya selalu memperingati Davin. Namun sayang, Davin terus melanjutkan semuanya tanpa pernah bisa memilih.
Di sudut rumah besar itu, terlihat Antonio sedang mengintip Darren yang terlihat gelisah. Wajahnya terlihat kecewa dan begitu kesal.
Ke dua tangannya mengepal dengan erat, bahkan urat-urat di tangannya menyembul jelas.
Ia kecewa karna ternyata apa yang di pikirkannya sama sekali tidak terjadi, Aelin maupun Davin sama sekali tidak ada di rumah. Ia sangat kesal karna ternyata Davin begitu licik, pria brengsek itu pasti sudah memindahkan Aelin entah kemana. Sekarang dirinya khawatir dengan keadaan Aelin yang entah ada dimana.
Tapi angin segar juga datang di saat yang bersamaan, saudarinya Syaila sudah tahu jika suaminya itu ternyata sudah menikah lagi. Tentu saja, ia melihat semua yang terjadi di dalam rumah. Ia yakin semuanya akan berakhir dan ia bisa pergi bersama dengan Aelin.
Ia juga ikut terluka melihat Syaila yang begitu frustasi dan sakit hati, tapi ia rasa hal itu juga pantas di dapatkan oleh Syaila karna di sini saudarinya itu menjadi penyebab kehancuran hidup Aelin.
"Aku harus tahu, kemana Davin membawa Aelin." Antonio menajamkan pendengarannya, untuk mendapatkan informasi keberadaan Aelin dari Darren yang sedang menelpon majikannya.
Darren mendengus kesal, saat lagi-lagi panggilan ponselnya sama sekali tidak di jawab oleh Davin.
...----------------...
Di kamar hotel yang cukup redup, dimana hanya ada pencahayaan lampu tidur yang ada di ke dua sisi. Di atas ranjang terlihat Davin dan Aelin yang sedang tertidur dengan saling memeluk satu sama lainnya.
Drrtttt!!!
Drrrrtttt!!!
Suara getaran ponsel yang ada di atas meja nakas, di samping Davin terus bergetar tanpa henti, membuat tidur pulas Davin terganggu.
Davin mengerjapkan kedua kelopak matanya dengan paksa karna, getaran ponselnya tidak kunjung berhenti.
__ADS_1
"Siapa yang berani menggangguku," kesal Davin meraih ponselnya. Perlahan ia menarik tangannya yang di peluk oleh Aelin. Untuk sejenak Davin tersenyum melihat wajah Aelin yang begitu damai saat tidur.
Ingatan dengan apa yang barusan terjadi antara mereka, membuat wajah Davin bersemu merah. Davin menarik selimut, dan menyelimuti tubuh polos istrinya.
Ia menatap layar ponselnya, lalu menekan gambar gagang hijau di layar ponsel.
"Syukurlah Tuan, akhirnya kau mengangkat telponku," desah Darren lega saat panggilannya akhirnya di angkat oleh Davin.
"Darren ini sama sekali tidak lucu, aku sedang menghabiskan waktu dengan Aelin. Aku sudah mengatakan padamu, jangan ganggu aku," sarkas Davin dengan nada sedikit di tekan. Ia tidak mau jika Aelin sampai bangun karna mendengar obrolannya dengan Darren, yang sama sekali tidak tahu waktu.
"Aku tidak akan mengganggumu jika ini tidak penting Tuan. Nyonya Syaila ada di rumah, dan dia sudah tahu jika kau sudah menikah lagi. Sekarang Nyonya sedang mengamuk, menghancurkan barang-barang yang ada di kamar Nona Aelin. Sekarang kau harus pulang Tuan," jelas Darren panjang lebar.
Deg.
Jantung Davin seketika berhenti berdetak mendengar laporan dari Darren. Syaila sudah tahu jika dirinya sudah menikah lagi, dan sedang mengamuk di rumah.
Dengan wajah panik dan kalut, Davin segera meraih pakaiannya yang tergeletak begitu saja di lantai. Lalu meraih kunci mobil dan segera keluar dari kamar hotel, meninggalkan Aelin yang masih tertidur dengan pulas.
Saat ini yang terpenting bagi dirinya adalah menemui Syaila. Menjelaskan semuanya, ia tidak bisa melihat Syaila hancur karna perbuatannya.
Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa kalut dan gelisah kini menyerang dirinya.
.
Darren menghembuskan kan nafasnya lega, ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Tapi jujur, ia sedikit khawatir dengan apa yang akan di rasakan oleh Aelin. Setelah tinggal beberapa bulan dengan Aelin, rasanya melihat Aelin terluka membuat hatinya tercubit iba.
"Aku harap Davin segera kembali dari hotel Claunbeach!" lirih Darren lalu segera beranjak pergi. Sedangkan Antonio keluar dari persembunyiannya.
"Claunbeach? Untuk apa Davin ada di hotel itu? Aku harus segera ke sana," gumam Antonio yang langsung bergegas keluar dari gerbang samping, agar tidak terlihat oleh beberapa penjaga yang sengaja di letakkan di setiap sisi rumah oleh Davin.
Melewati beberapa titik yang gelap dan minim cahaya, Antonio berhasil masuk ke dalam mobilnya. Kini ia benar-benar merasa cemas dan khawatir pada Aelin. Ia berharap Aelin baik-baik saja dan Davin tidak menyakiti wanita malang itu.
Antonio menyalakan mobilnya, dan berlalu meninggalkan kediaman Arselion. Fokusnya kini adalah Aelin dan hanya Aelin.
__ADS_1
...----------------...
Davin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berpacu dengan rasa bersalah dan rasa cemas serta khawatir.
Menyalip puluhan mobil hingga truk tanpa mengurangi kecepatan kendaraan. Jarak tempuh dari hotel dengan rumahnya cukup jauh. Jadi ia harus memangkas waktu dengan mengebut agar segera sampai di rumahnya. Menemui Syaila dan menjelaskan semuanya. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Syaila. Hanya saja dirinya yang terjebak dengan permainannya sendiri.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Davin sampai di rumah. Satpam yang sedang berjaga langsung membuka gerbang untuk Davin.
Davin memarkirkan mobilnya asal, dan segera turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu utama dengan kasar, bahkan hingga menimbulkan suara yang membuat beberapa pelayan terkejut.
Davin terlihat begitu gusar dan gelagapan, dengan cepat ke dua kaki panjangnya menaiki tangga dengan melompati dua anak tangga.
Namun, langkah Davin langsung terhenti saat tubuhnya hampir menabrak Maya yang keluar dari kamar Aelin sembari membawa kantong plastik sampah, yang berisi barang-barang yang sudah di pecah dan di hancurkan oleh Syaila.
"Tuan, Kau---"
"Di mana Syaila?" potong Davin dengan cepat.
"Nyonya masuk ke kamar kalian Tuan," jawab Maya. Davin segera bergegas, meninggalkan Maya yang menatap punggungnya penuh arti.
"Aku sangat prihatin dengan Nona Aelin, Anda langsung datang saat mendengar Nyonya mengamuk. Bahkan Anda lupa jika Nona tidak ikut bersama Anda," gumam Maya berjalan sambil menenteng barang-barang Aelin yang sudah hancur.
Klek!
Davin membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Keningnya berkerut dalam saat ruang kamarnya gelap gulita.
Pandangan Davin jatuh pada cahaya lampu tidur yang menyala, dimana di depan lampu tersebut terlihat siluet seseorang yang sedang duduk di kursi goyang yang sedang bergerak.
"Syai!" panggil Davin mendekat, namun tidak ada sama sahutan sama sekali.
"A-- aku-- Akan menjelaskan --- Tidak!! Syaila!!!" Suara Davin yang terbata-bata, seketika berubah menjadi teriakan saat melihat tetesan darah segar menetes ke lantai keramik dari pergelangan tangan Syaila.
...----------------...
__ADS_1
...****************...
Yok jangan lupa like koment vote and gift