Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Suara Syaila


__ADS_3

...149💚...


Sudut bibir Aelin tersenyum. Akhir nya ia menemukan sosok yang ia cari.


Dengan perlahan Aelin berjalan mendekat ke arah Davin yang sedang memunggungi diri nya.


Lalu menyentuh bahu Davin yang cukup terkejut akan sentuhan nya.


Tubuh Davin langsung memutar, menatap wajah Aelin yang kini berada di hadapan nya.


Wajah yang terlihat begitu cantik , dengan sinar rembulan yang menerpa wajah Aelin.


"Kenapa kamu berdiri di sini Sayang...?" Celetuk Aelin yang langsung membuat Davin tersadar dari pesona wajah indah yang hampir sempurna di hadapan nya.


"Ohh.. Aku hanya sedang ingin menghirup udara segar..." Jawab Davin dengan sedikit tergagap.


Sebenar nya ia berdiri di sini, karna suasana hati nya yang semakin gelisah gundah gulana.


Memikir kan kerumitan masalah yang sudah ia buat, di mana kini ia terjerat dan tidak bisa menemukan jalan untuk kembali.


Raut wajah Davin menyendu, di mana di ke dua bola mata nya terlihat rasa yang tidak bisa di arti kan oleh Aelin.


Semilir angin berhembus menyapu lapisan kulit terluar mereka, di mana angin tersebut berhasil membangun kan bulu roma Aelin.


"Di sini sangat dingin... Masuk lah jam makan malam sudah tiba..." Aelin meraih tangan suami nya dengan hangat, menggengam erat tangan Davin lalu menuntun nya untuk masuk ke dalam.


Hati Davin semakin bimbang, di mana tatapan nya berfokus pada tangan Aelin yang sedang menggengam tangan nya dengan begitu hangat.


Rasa nya Davin tidak ingin Aelin melepas kan genggaman itu.


Sungguh diri nya adalah pria yang paling egois dan serakah.


Nyonya Tissa yang melihat Aelin datang bersama Davin langsung menghenti kan makan malam nya.


Di mana terlihat tatapan tidak suka di mata nya untuk Aelin.


Sementara Aelin berusaha untuk tersenyum, meski bibir nya terasa kaku karna melihat tatapan Nyonya Tissa.


"Malam Ma...!" Ucap Davin menyapa ibu palsu nya, lalu menarik kursi. Di mana Aelin dengan telaten langsung menyiap kan makanan untuk Davin.


"Malam Davin.. Apa setiap malam kamu akan selalu telat untuk makan malam? Rasa nya ada atau pun tidak istri di samping mu, tidak pernah ada yang berubah.. Atau istri mu yang tidak becus untuk mengurus mu..." Sindir Nyonya Tissa dengan senyum miring nya. Di mana ia kembali memasuk kan makanan ke dalam mulut nya.


Aelin menggigit bibir bawah nya, selalu saja ia mendapat kan kata- kata panas membakar dari mulut Nyonya Tissa.


Seakan kesalahan nya tidak pernah ada habis nya di mata mertua nya.


Setiap yang ia lakukan selalu saja salah, Nyonya Tissa selalu mencari celah untuk menghina diri nya.


Davin menatap tajam pada Nyonya Tissa. Ingin sekali rasa nya ia merobek mulut wanita yang sudah ia sewa sebagai ibu palsu nya.

__ADS_1


Sebelum nya ia sudah memberhenti kan Nyonya Tissa dengan mengasing kan nya jauh dari kota.


Tapi jika seorang ibu tiba- tiba menghilang dan tidak kembali ke rumah lagi, hal itu pasti sangat janggal.


Apa lagi Aelin selalu bertanya kenapa ia mengirim Nyonya Tissa ke luar negri. Dan istri kecil nya selalu merenggek untuk memulang kan mertua palsu nya.


Jadi dengan sangat berat hati, Davin kembali memperkerjakan Nyonya Tissa. Dengan catatan Nyonya Tissa tidak boleh melukai Aelin.


"Ma... Aelin mengurus ku dengan sangat baik.. Aku telat makan malam itu karna kesalahan ku sendiri..." Davin membela Aelin di mana nada bicara nya terasa begitu dingin, hingga rasa nya mampu membekukan seluruh sendi Nyonya Tissa.


"Bela lah terus istri mu yang sempurna itu.. Tapi di mata ku dia tidak lebih dari seorang pelayan , yang akan segera kamu buang..." Sarkas Nyonya Tissa lalu bangkit dari duduk nya dan melenggang pergi.


Rasa nya ia tidak bisa terus berdekatan dengan Davin yang notabene nya adalah majikan nya.


Davin menatap pada Aelin, di mana wajah istri nya itu tersenyum manis ke pada nya.


"Makan lah.. Aku membuat kan ini dengan penuh cinta..."


Davin tersenyum lebar mendengar ucapan Aelin yang terdengar seperti gombalan di telinga nya.


Tapi sangat manis.


"Kamu selalu saja membuat ku malu..." Balas Davin dengan mencubit gemas pipi Aelin.


Davin mulai memasuk kan makanan ke dalam mulut nya , sementara tatapan nya tak pernah lepas dari wajah Aelin yang kini juga ikut mengunyah makanan nya.


"Bahkan di saat Nyonya Tissa menghina mu.. Kamu masih bisa tersenyum... Kamu tidak selemah yang aku pikir kan..." Batin Davin.


Drett...


Drett...


Getaran ponsel membuyar kan makan malam hening antara Davin dan Aelin.


Di mana ke dua mata ke dua nya berfokus pada ponsel Davin.


Davin segera mengangkat panggilan tersebut , lalu mendekat kan ke telinga nya.


"Halo..." Ucap Davin dengan menyuap kan makanan ke mulut nya.


"Davin...!"


Deg...


Tangan Davin yang hendak memasuk kan makanan ke dalam mulut nya, tiba- tiba berhenti dan mengambang di udara saat gendang telinga nya di sapu oleh suara lembut yang begitu familiar untuk nya.


Sudah sangat lama, ia tidak mendengar suara lembut itu.


Suara lembut yang selalu memanggil nama nya dengan senyum merekah di wajah cantik itu.

__ADS_1


Kilasan bayangan seorang wanita yang tengah berlari dengan suara tawa yang begitu indah berputar dengan otomatis di kepala Davin.


Untuk sesaat diri nya tenggelam dalam bayangan yang selama ini ia rindu kan.


"Sayang...!" Aelin menggoyang kan bahu Davin di mana sendok yang berisi makanan langsung tumpah ke lantai.


Trang....


Davin langsung terkesiap, di mana ia menatap Aelin yang menatap nya cemas.


"Syaila... Ini suara Syaila..." Batin Davin yang masih terkejut tak percaya.


Davin langsung beranjak dari duduk nya dengan tergesa- gesa. Di mana ia langsung meninggal kan Aelin yang masih menatap punggung nya dengan heran.


"Ada apa dengan Davin ? kenapa dia tiba- tiba pergi...?" Gumam Aelin dengan pertanyaan - pertanyaan yang mulai bermunculan di kepala nya.


Ia benar- benar bingung dengan tingkah Davin.


Sebenar nya siapa yang baru saja menelpon suami nya?.


Bahkan Aelin bisa melihat wajah terkejut dan penuh rasa yang tak bisa ia arti kan di wajah tampan suami nya.


"Apa itu pegawai perusahaan..? Tapi kenapa Davin pergi tanpa pamit seperti itu..? Biasa nya dia selalu mengata kan kemana dia akan pergi..." Lirih Aelin di mana mata nya kini menatap pada makanan yang sedikit berserakan di lantai.


Ada yang aneh dengan sikap Davin belakangan ini.


Pertama Davin terlihat sering melamun.


Ke dua, Davin sampai mengamuk di dalam ruang kerja nya, bahkan sampai melukai diri nya.


Dan kali ini, Davin pergi tanpa sepatah kata pun.


Aelin memejam kan ke dua mata nya, menepis pikiran- pikiran negatif yang mulai menyerbu otak kecil nya.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


.


__ADS_2