Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Airport


__ADS_3

...55🌲...


Aelin dan Davin terlihat sedang duduk di airport, menunggu kedatangan Darren.


Aelin terlihat semakin cemas dengan peluh keringat yang mulai terbentuk di dahi nya.


Sejak tadi ia tidak bisa memikir kan apa pun selain keadaan sang ayah.


Tapi ia sangat bersyukur karna akhir nya tiba di airport, di mana sebelum nya ia merasa sesak satu mobil dengan Davin.


Entah lah, tapi jantung nya selalu berdegup saat Davin menunjuk kan perhatian kepada nya.


Rasa nya saat itu jantung nya meledak karna menerima perlakuan Davin, yang entah mengapa kini berpengaruh kepada nya.


Davin masih fokus dengan ponsel nya, memeriksa dan memesan penginapan di kota B.


Ia sengaja memilih sendiri, tapi ia juga tidak tahu kenapa ia tertarik untuk mencari penginapan yang akan ia dan Aelin tempati.


Karna biasa nya Darren yang akan mengurus semua keperluan nya.


Davin mematikan ponsel nya, lalu menatap pada Aelin di depan nya, yang tanpa henti terus berjalan mondar- mandir seperti setrikaan.


"Aelin... Bisakah kamu duduk.? Jangan mondar- mandir seperti itu... Kondisi tubuh mu belum sehat total..." Ujar Davin memeringat kan dengan nada lembut penuh perhatian.


Glek...


Aelin menelan saliva nya paksa, saat mendengar suara lembut Davin yang membuat tubuh nya membatu di tempat.


Di mana ke dua kaki nya langsung menurut untuk berhenti, meski kepala nya mengata kan untuk bergerak.


Davin memutar bola mata nya jengah, melihat sifat pembangkang Aelin.


Davin mendekat ke arah Aelin lalu memutar tubuh ringkih Aelin, yang rasa nya akan hancur saat di genggam terlalu erat.


Blushhh...


Pipi Aelin seketika merona saat ke dua mata nya menubruk tatapan tajam Davin.


Sehingga ke dua nya saling menukar pandangan satu sama lain.


Davin sedikit terhanyut dengan keindahan bola mata Aelin yang rasa nya begitu menenang kan.


Namun ia segera menepis pikiran aneh itu dari dalam kepala nya, mengingat kan jika Aelin hanya mainan balas dendam nya tidak lebih.


"Lihat kamu berkeringat... Kau ini tidak pernah mendengar kan apa yang suami mu kata kan.. " Davin mengeluar kan sapu tangan dari saku jas nya, lalu mengusap keringat di kening Aelin.


Darah Aelin berdesir saat Davin mengusap kening nya.


Sebenar nya apa yang terjadi pada nya, sehingga ia merasa kan hal- hal aneh saat berada di dekat Davin.

__ADS_1


Dan jantung nya semakin berdegup tak karuan.


Apa jantung nya sedang mengalami gangguan?.


Pikir Aelin sambil menggigit bibir bawah nya, di mana ia langsung membuang wajah nya yang sudah memerah seperti kepiting rebus sembarang arah, Agar Davin tidak melihat nya.


"Aku akan duduk..." Celetuk Aelin dengan gugup.


Dugh...


Namun belum sempat ia sampai di kursi tunggu, kaki bodoh nya malah saling bertabrakan hingga membuat keseimbangan nya goyah dan hampir membuat tubuh nya jatuh ke lantai yang keras.


Namun dengan sigap, Davin menangkap tubuh Aelin, membuat wajah mereka berdekatan di mana tatapan ke dua nya saling bertemu.


Davin dan Aelin beradu tatapan, bahkan rasa nya waktu berhenti di antara mereka.


Rambut indah Aelin berkibar di tiup angin, di mana wajah putih dengan mata besar itu tak berkedip sama sekali.


Davin tak memungkiri jika tuhan menciptakan Aelin nyaris sempurna.


Begitu pula dengan Aelin yang tak bisa lepas untuk tidak menatap wajah Davin.


Ternyata wajah suami nya sangat tampan, meski umur mereka beda jauh.


Tapi Aelin tak menampik jija kegagahan Davin tak luntur oleh usia nya.


"Ekhhhhmmmm....." Dehem Darren yang baru saja sampai, namun melihat adegan yang cukup intim antara Davin dan Aelin membuat bibir nya berkedut untuk tersenyum.


Aelin dan Davin langsung tersadar dari pikiran masing- masing, saat mendengar deheman Darren.


Dengan cepat Aelin kembali ke posisi berdiri, tentu saja dengan bantuan Davin yang menopang pinggang langsing nya.


"Kau tidak apa- apa?" Tanya Davin memasti kan keadaan Aelin.


"Hmmmm" Dehem Aelin sebagai jawaban, karna sungguh ia benar- benar salah tingkah sekarang.


"Maaf Tuan, Nona. Seperti nya saya datang di waktu yang salah.." Seru Darren dengan tatapan jahil nya.


"Ahhh tidak apa- apa Darren... Tadi hanya sebuah kecelakaan..." Balas Davin dengan memicing kan alis nya ke arah Aelin.


"Seharus nya anda mencium nona sedikit Tuan..." Seru Darren tanpa sensor, yang langsung membuat Aelin terbelalak kaget.


"Tutup mulut mu Darren, atau tidak akan ku cincang tubuh mu..!" Bentak Aelin kesal dengan melempar tatapan tak bersahabat ke arah Darren.


Ternyata diri nya baru tahu, jika Darren tidak hanya dingin seperti es batu. Tapi juga mesum sama seperti majikan nya.


Davin terkekeh mendengar ancaman menyeram kan Aelin, terdengar seperti ancaman anak kecil yang tidak berarti apa- apa.


Begitu pula dengan Darren yang hampir ingin tertawa terbahak- bahak. Namun berusaha ia tahan karna menjaga image di depan sang bos.

__ADS_1


Tapi sungguh melihat wajah Aelin memerah dan menggeram kesal, benar- benar menggelitik perut sispack nya.


Saat menggemas kan.


"Pergilah... Darren..." Titah Davin.


"Baik Tuan... Nona mari... Selamat menikmati bulan madu anda dengan tuan..." Seru Darren dengan senyuman jahil nya yang langsung membuat Aelin melongo dengan asap keluar dari ke dua telinga.


Darren segera pergi menjauh dari Aelin, setelah membuat kemarahan Aelin naik hingga ke ubun- ubun.


"Sial... Berani sekali dia mengata kan hal itu.. Lihat saja setelah aku kembali aku akan membalas asisten mesum seperti mu..." Umpat Aelin setengah berbisik namun masih bisa di dengar jelas oleh Davin.


"Tenang saja.. Aku akan memberi nya hukuman karna telah berani membuat istri ku kesal..." Davin mengelus pundak Aelin di mana Aelin langsung menepis tangan itu.


"Kau tidak perlu sok baik di hadapan ku.. Bagi ku kamu hanya orang jahat yang akan selali aku benci." Sarkas Aelin dengan sinis. Menatap Davin dengan penuh kebencian sebelum melenggang pergi.


Davin menatap punggung Aelin tak kalah tajam.


Dengan tangan mengepal dengan kuat, hingga buku- buku tangan nya memutih.


"Kau sangat Sombong Aelin diwantar... Lihat saja sebentar lagi kamu akan menangis pilu... Seharus nya aku membiar kan mu mati kemarin malam... Supaya kesombongan mu berakhir... Tapi lihat saja aku akan bersabar sampai aku mendapat kan hati mu..." Batin Davin yang langsung melemas kan otot- otot wajah nya agar tak terlihat marah.


Meredam emosi nya, meski ia sudah sangat ingin melampias kan nya.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2