
...47🐳...
Semburat cahaya jingga kini telah di ganti kan dengan petang.
Di mana cahaya sang surya telah hilang di telan gelap nya malam.
Malam berawan tanpa ada bintang atau pun bulan.
Malam terlihat bersedih namun entah untuk siapa. Situasi yang berbeda terlihat dari dalam villa dengan pencahayaan yang cukup terang.
Terlihat Davin tengah asik berbincang- bincang dengan wajah bahagia dengan dokter Nashila.
Usai memeriksa Syaila dokter Nashila sudah menentukan metode apa yang akan ia guna kan untuk menyembuh kan putri tidur itu, yang sudah tertidur selama dua bulan.
Davin sangat senang mendengar hal itu, harapan nya semakin besar dan ia yakin wanita nya akan cepat sadar.
Glar....
Blar...
Suara petir tiba- tiba bersahutan dengan cahaya kilat putih membelah langit malam.
Suara yang memekak kan telinga, di iringi dengan derai hujan yang mulai berjatuhan ke bumi.
Malam semakin larut, Dokter Nashila undur diri untuk istirahat.
Begitu pula dengan Davin yang kembali ke kamar nya.
Davin menghempas kan diri nya di atas kasur, merasa kan empuk nya kasur tidur yang terasa begitu memanjakan otot- otot tubuh nya.
Setelah sekian lama akhir nya ada kabar baik yang menghampiri hidup nya.
Lagi- lagi bibir Davin tersenyum lebar, dengan ke dua mata menatap lampu besar yang tergantung di langit- langit kamar.
Davin merentang kan tangan panjang dan cukup berotot nya, menekan saklar lampu yang berada di samping ranjang tidur.
Klep...
Hanya satu kali tekan cahaya lampu gantung itu akhir nya hilang.
Menyisa kan cahaya- cahaya kilatan petir yang seolah sedang memotret kegiatan manusia.
Davin memejam kan ke dua kelopak mata, menikmati suasana dingin dengan alunan musik yang terdengar menyeram kan, di tambah rintik- rintik hujan yang seperti sebuah belaian tidur.
...----------------...
Sementara di rumah besar Arselion tampak sang nyonya palsu, Mrs. Tissa sedang mondar- mandir di depan pintu, menatap gerbang yang sejak tadi tidak kunjung menampak kan sosok yang sedang ia tunggu.
Sejak pagi ia sudah menyiap kan rencana untuk Aelin.
Di mana ia sudah mengumpul kan banyak baju kotor dari setiap kamar untuk di cuci oleh menantu palsu nya.
__ADS_1
Tapi sejak siang hingga sore menjelang Aelin tidak kunjung pulang ke rumah.
Padahal ia sudah menyiap kan rencana penyiksaan ala mertua jahat.
Namun seperti nya gadis kecil itu bernasib mujur, bahkan hingga malam hari gadis itu tidak kunjung pulang.
Sebenar nya kemana menantu nya pergi? Tanya Mrs. Tissa yang hanya bisa berjalan mondar- mandir sejak tadi sore.
Seperti nya hari ini ia harus gagal untuk memberikan penyiksaan kepada Aelin.
Rasa nya sedikit kesal, karna ia sudah merencakan semua nya dengan matang. Malah sang korban menghilang entah kemana?.
"Aelin benar- benar licik, ia sengaja kembali bersekolah dan bahkan tidak pulang ke rumah... Apa dia kabur? atau ia sedang pergi bersama Tuan Davin... Hhhh aku seperti pengemis yang sedang menunggu sedekah jika begini..." Oceh Mrs. Tissa lalu melangkah kan kaki nya masuk ke dalam rumah.
Menaiki tangga untuk kembali ke kamar karna ini sudah menunjuk kan pukul sepuluh malam.
Namun langkah nya terhenti saat melihat Maya, pelayan pribadi Aelin keluar dari kamar Aelin.
"Maya....!!!" Panggil Mrs. Tissa mendekat ke arah Maya yang sudah berdiri dengan tegap.
"Kenapa Aelin belum pulang?" Tanya Mrs. Tissa terdengar tajam.
"Untuk itu saya juga tidak tahu Nyonya..." Jawab Maya apa ada nya.
Mrs. Tissa kembali berdecak, mendengar jawaban tidak berguna Maya.
"Kamu ini kan pelayan pribadi nya seharus nya kamu tahu kemana majikan mu pergi.. Dan mengawasi nya...!" Gertak Mrs. Tissa.
Wajah Mrs. Tissa berubah masam, mendengar ucapan Maya yang sedang mengingat kan posisi nya.
Tapi ia juga tidak terima di rendah kan oleh pelayan seperti Maya.
"Aku tahu itu, kau tidak perlu mengingat kan aku jika aku bukan nyonya di sini... Tapi Tuan Davin sudah memberikan tanggung jawab sebagai nyonya di sini... Dan kedudukan ku dalam sandiwara ini jauh lebih tinggi dari diri mu... Jadi lakukan lah semua nya seperti natural... Bersandiwara lah dengan baik... Karna tembok di sekitar mu juga punya telinga..." Balas Mrs. Tissa tak kalah sinis.
Mrs. Tissa kembali melangkah kan kaki nya, namun terhenti kembali.
"Hubungi menantu ku.. Dan suruh dia cepat pulang...!" Tegas Mrs. Tissa menekan suara nya, memberi perintah mutlak tanpa ada penolakan dari bibir Maya, yang hanya bisa menatap datar punggung Mrs. Tissa yang berlalu.
"Bocah ingusan itu benar- benar sangat merepot kan... Belum lagi mertua palsu itu berani memerintah diri ku... Aku harap pembalasan dendam ini cepat berakhir dan aku bisa kembali ke pekerjaan awal ku..." Gumam Maya sembari mengeluar kan ponsel nya.
Memencet nomer Aelin dan mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.
...----------------...
Aelin masih meringkuk dengan tangisan yang tak kunjung henti.
Hati nya kalut dan takut dengan bayangan kehilangan ayah nya.
Blar...
Plar...
__ADS_1
Suara petir yang begitu memekak kan telinga menjadi teman dalam sedih nya.
Dengan suara hujan turun yang begitu deras menambah cuaca dingin menusuk tulang malam ini.
Mungkin langit sedikit mengasihi nya hingga ikut bersedih melihat penderitaan nya yang terus datang dengan bertubi- tubi.
Aelin berharap setelah hujan ini reda, ada pelangi yang akan membentang. Di mana diri nya berharap agar kesehatan sang ayah semakin membaik dan bisa kembali ke kota dengan selamat.
Hanya itu keinginan nya.
Drrrt.....
Drrrt ...
Getaran ponsel nya membuat Aelin melirik benda pipih yang sedang menyala di dekat nya.
Mengulur kan tangan nya yang gemetaran dan suara tangis yang sudah menyatu dengan diam.
Aelin menatap sayu nama kontak Maya yang tertera di layar ponsel nya.
Meski ia sama sekali tak ingin di ganggu, tetap saja Aelin mengangkat panggilan pelayan nya itu.
"Iii.... I... Iya Maya...!" Suara parau dan serak di iringi dengan kalimat terbata- bata.
"Nona... Kau di mana? Ini sudah malam kenapa kau tidak pulang?.. Nyonya sejak tadi menunggu mu pulang.. Bahkan ia marah besar kepada ku karna tidak menemukan mu... Nona pulang lah sekarang... Jika tidak Nyonya akan semakin marah besar...." Seru Maya dengan suara panik dan memelas dari ujung telpon.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1