
...87😻...
Pelayan yang sedang berada di dapur, langsung membungkuk kan tubuh nya hormat saat melihat Aelin masuk.
Aelin mengulas senyum kepada semua pelayan, yang kini melontar kan tatapan terkesan aneh kepada nya.
Aelin terus melangkah kah kaki nya menuju wastafel dengan beberapa tumpukan piring.
Sementara Maya terus mengikuti kemana langkah Aelin, dengan dahi berkerut bingung.
Sebenar nya apa yang akan di lakukan nona nya?.
Semua mata para pelayan melebar sempurna, saat melihat Aelin mencuci piring.
Begitu pula dengan Maya yang kaget nya bukan main.
"Nona.. Apa yang anda lakukan...?" Sergap Maya dengan wajah panik.
"Diam lah.. Lebih baik kamu mengerja kan pekerjaan mu... Biar kan aku mengerja kan pekerjaan ku..." Jawab Aelin terus memain kan piring- piring tersebut di tangan nya.
Tanpa peduli jika kini semua sorot mata mengarah kepada nya.
Jujur ia merasa risih, namun ia harus tetap melakukan ini semua.
Jika di pikir kan apa yang di kata kan Nyonya Tissa memang benar.
Ia di bawa ke rumah ini sebagai menantu, bukan ratu yang terus di layani.
Meski jujur, di rumah nya sekali pun ia sangat jarang menyentuh peralatan dapur.
Namun bukan berarti diri nya asing dengan semua benda ini.
Hanya saja di rumah nya, selalu ada pelayan wanita yang mengerja kan semua pekerjaan rumah.
Sementara papy nya akan marah saat melihat nya mengerja kan pekerjaan dapur.
Sementara di sini, di rumah suami nya ia malah di suruh mencuci piring.
Ternyata memang benar, roda kehidupan terus berputar.
Terkadang kita berada di bawah, dan juga berada di atas.
Aelin menipis kan bibir nya. Mungkin ini lah takdir nya menjadi seorang istri di usia yang sangat belia.
Tapi mulai sekarang ia harus menerima semua kenyataan pahit itu, dan mulai menjalan kan hidup nya dengan lapang dada.
"Nona Aelin berada di dapur?"
"Astaga bagaimana jika tuan Davin tahu...?"
"Kita pasti akan di hukum..."
"Tapi kita juga tidak bisa menghenti kan nya.. Bagaimana ini?"
Ujar Semua pelayan yang mulai berbisik- bisik takut, melihat kehadiran Aelin di dapur.
Pasal nya mereka tahu jika Aelin adalah istri majikan nya.
__ADS_1
Bagaimana bisa mereka membiar kan kulit mulus Aelin mengerja kan pekerjaan rumah yang kasar.
Di mana mereka juga sangat takut, jika Davin mengetahui apa yang di lakukan Aelin.
Pasti mereka semua akan terkena amarah Davin, sama seperti yang pernah terjadi saat nyonya rumah besar ini masih ada.
Sementara Maya sudah berkeringat dingin, melihat Aelin yang sedang mencuci piring di hadapan nya.
Ia masih bisa merasa kan luka cambuk yang di beri kan Davin sebagai hukuman kepada nya, karna teledor dalam menjaga Aelin.
Bahkan luka cambuk di punggung nya belum sembuh total, bagaimana lagi- lagi ia akan di hukum oleh Davin karna melihat Aelin mencuci piring di dapur seperti seorang pelayan.
"Nona berikan.. Biar kan saya yang mencuci piring ini.. Lebih baik Nona kembali ke kamar...!" Seru Maya dengan rasa takut dan juga rasa panik yang bercampur menjadi satu.
Aelin memutar bola mata nya jengah, menurut nya respon para pelayan ini termasuk Maya sangat lah lebay.
Ia hanya mencuci piring, apa salah nya? lagi pula ini perintah sang pemilik rumah, tapi semua wajah terlihat takut dan khawatir.
Seperti kehadiran nya di dapur ini adalah sebuah bencana.
Aelin meletak kan piring, lalu memutar tubuh nya berbalik ke arah semua pelayan, yang di mana wajah mereka semua memucat.
"Kalian semua kenapa? Kenapa aku tidak boleh mencuci piring atau pun melakukan pekerjaan rumah.. Ayo lah lagi pula ini perintah mama.. Jadi kalian jangan menatap ku seperti itu.." Seru Aelin mencoba menenang kan rasa takut para pelayan, yang bagi nya tidak jelas.
Sementara Maya berusaha memutar otak untuk membuat Aelin keluar dari dapur ini.
Seorang pelayan langsung berlutut di kaki Aelin, dengan air mata yang mengalir deras di wajah nya. Bahkan tangan nya mengatup memohon pada Aelin.
"Nona.. Kami mohon nona pergilah dari dapur ini.. Kami tidak ingin di hukum oleh tuan besar jika dia sampai tahu nona mencuci piring... Kami tidak ingin di pecat.. Kasihani lah pekerjaan kami..." Ujar sang pelayan dengan renggekan memohon di depan Aelin.
Aelin cukup tersentak dengan apa yang di lakukan pelayan yang sedang berlutut di depan nya.
Hukuman?
Di pecat?
Apa ia sebegitu membahaya kan nya buat semua pelayan ini.?
"Tapi ini perintah mama.. Jadi kalian jangan takut.. Aku pasti kan Tuan Davin tidak akan menghukum atau pun memecat kalian.. Jadi kau berdiri lah..." Sahut Aelin yang masih saja kekeh, di mana ke dua tangan nya memegang bahu pelayan tersebut agar bangun dari lantai.
"Dengar.. Jika kalian masih memaksa ku untuk keluar dari dapur... Maka aku sendiri yang akan meminta Om Davin untuk memecat kalian... Jangan peduli kan aku.. Kalian kerja kan perkerjaan kalian..." Lanjut Aelin dengan ancaman pada ucapan nya.
Yang langsung membuat seluruh wajah para pelayan semakin takut dengan ancaman Aelin.
Tanpa membantah apa pun lagi, Para pelayan tersebut kembali melakukan pekerjaan nya masing- masing.
Aelin hanya bisa menggeleng kan kepala nya.
Sistem di rumah ini sangat aneh, pikir nya.
"Nona...--"
"Diam Maya.. Atau aku akan menendang mu keluar dari planet ini jika kau berani melarang ku...!" Sebal Aelin karna Maya terus saja merecoki pekerjaan nya.
Ternyata mencuci piring bukan lah hal yang buruk.
Meski Aelin tidak begitu terbiasa, tapi semua nya ia lakukan dengan baik.
__ADS_1
Aelin mengedar kan pandangan nya, ke seluruh sudut dapur.
Di mana netra nya terhenti pada fasilitas yang ada di dapur ini.
Dapur ini bukan nya terlihat seperti dapur, melain kan mirip toko yang menjual peralatan dapur.
Bagaimana tidak, bahkan sebuah televisi dengan layar besar tertempel dengan sempurna di dinding dapur ini.
Lalu deretan sofa yang berjejer dengan begitu rapi.
Bahkan jika dapur hotel berbintang pun, akan kalah dengan dapur rumah ini.
"Selera om Davin memang sangat berbeda.." Batin Aelin dengan mengendik kan bahu nya.
"Maya...!" Panggil Aelin saat piring terakhir selesai di cuci.
Maya cukup terhenyak dengan panggilan Aelin, karna ia sempat terdiam untuk mencari alasan yang tepat jika nanti Davin bertanya pada nya.
Sungguh ia tidak ingin di cambuk lagi.
"I.. Iya Nona..." Jawab Maya dengan suara terbata- bata.
"Di mana aku bisa meletak kan piring- piring ini...?" Tanya Aelin dengan setumpuk piring bersih di tangan nya.
"Di sana Nona...!" Jawab Maya dengan guratan takut di wajah nya.
Aelin menatap ke arah jari Maya yang menunjuk kan tempat meletak kan peralatan dapur yang sudah bersih.
Namun baru beberapa langkah kaki nya melangkah, wajah Aelin berubah tegang saat melihat dan mendengar sebuah siaran yang tengah tayang pada televisi di depan nya.
"Pemirsa telah terjadi sebuah kecelakaan tragis, antara dua buah mobil mewah yang saling menubruk, hingga mobil hitam menabrak tiang listrik dan terbalik.. Di ketahui jika kini hanya ada satu korban yang di nyata kan tewas...."
Jantung Aelin rasa nya langsung berhenti berdetak saat netra nya, melihat mobil yang begitu familiar bagi nya.
"Itu mobil om Davin..."
Prang...
Srang....
...----------------...
...****************...
Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙