Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Honeymoon


__ADS_3

...159💚...


Tatapan Davin terlihat begitu tajam, seakan siap untuk menghancurkan apa pun yang ada dihadapannya. Rahangnya mengeras dengan sempurna, dengan urat-urat kemarahan yang berusaha ia tahan dengan membungkam mulutnya. Davin terus fokus memandang jalanan yang cukup ramai di hadapannya. Menyalip dan melajukan kemudi dengan cukup tinggi.


Hatinya sedang terbakar api cemburu, melihat pria lain berani memeluk istrinya. Hati suami mana yang tidak akan terbakar.


"Sayang, aku mohon bicaralah! sejak tadi kamu hanya diam. Kamu jangan marah pada ku," ujar Aelin sambil menyentuh bahu Davin.


Akan tetapi Davin tetap tidak bergeming, ia masih sangat marah.


Aelin menghembuskan nafasnya berat, melihat sikap Davin yang mendiamkannya. Tentu saja Aelin tahu jika Davin sedang marah padanya atas kejadian tadi. Tapi percayalah ia sudah berusaha melepaskan pelukan Arjun, tapi pria itu malah semakin menempel padanya seperti permen karet.


Ciiiitttt!!!


Tiba-tiba Davin mengerem mendadak, membuat tubuh Aelin terjungkal ke depan hampir membentur dashboard.


Detak jantung Aelin benar-benar di pompa dengan begitu cepat, rasanya jantungnya jatuh ke dasar perutnya sendiri karna terkejut dengan Davin yang mengerem mobil secara mendadak.


"Apa sebenarnya hubunganmu dengan pria ingusan itu?" Tanya Davin dengan nafas memburu, niat kejutan yang sudah disiapkan untuk Aelin kini hancur. Karna, moodnya yang berantakan.


Aelin mengelus dadanya, mengatur keterkejutannya dengan menghela nafas panjang. Bibirnya yang merah terlihat memucat.


"Jawab!!!" bentak Davin menatap Aelin penuh amarah.


"Kamu jangan marah dulu, aku akan menjelaskannya‐--"


"Bagaimana aku tidak marah, melihat istriku di peluk oleh pria lain? Apa selama ini kamu selalu seperti itu di belakangku?" sosor Davin memotong ucapan Aelin, ia benar-benar di kuasai kabut amarah dan cemburu yang melebur menjadi satu. Tanpa Davin sadari setiap perkataan yang di ucapkan menyakiti Aelin.


Aelin menatap Davin tidak percaya, ternyata Davin bisa menuduhnya serendah itu.


"A--pa yang kamu katakan?"


"Aku bilang jawab!! Aku tidak memintamu untuk bertanya," sergap Davin dengan cepat, yang kembali membuat Aelin tersentak.

__ADS_1


"Arjun adalah mantan tuananganku, tapi itu dulu Dav. Kami sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Aku tidak tahu tiba-tiba dia datang dan memelukku seperti itu. Demi apapun aku tidak pernah mengkhianati kepercayaanmu. Semua yang kamu pikirkan tadi tidak benar," jelas Aelin menyakinkan Davin, sementara ke dua matanya sudah meneteskan air mata.


Davin menundukkan wajahnya dalam, mengontrol emosi yang sedang meledak dalam dirinya. Ia sangat menyesal sudah membentak Aelin hingga mata indah istrinya meneteskan air mata. Ia tidak pernah bisa melihat air mata mengalir di wajah Aelin, hatinya ikut di remas dengan kuat.


Aelin langsung memeluk Davin, ia tahu suaminya sedang cemburu, dan baginya itu adalah hal yang wajar.


"Maaf, aku janji tidak akan membiarkan Arjun memelukku lagi. Jadi ku mohon jangan marah lagi, aku tidak akan bisa menerima kemarahanmu." Aelin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Davin, menghirup aroma maskulin yang selalu membuatnya melayang ke angkasa.


Mendengar perkataan maaf lirih Aelin, mampu membuat hati keras Davin tercubit. Ia pun membalas pelukan Aelin bahkan sesekali mencium puncak kepala istrinya.


"Aku sangat mencintaimu Ae."


"Aku juga sangat mencintaimu."


Aelin mengurai pelukannya, menatap wajah Davin yang kini menatapnya dengan intens. Dengan sigap, Davin menghapus sisa-sisa air mata di pipi putih Aelin.


"Maaf, aku telah membentakmu," ucap Davin penuh penyesalan.


Aelin kembali memeluk Davin dengan erat, posisi yang selalu membuat Aelin nyaman berada dalam pelukan suaminya.


"Apa pernah aku tidak menuruti keinginanmu? Sayang."


Aelin mengurai pelukannya, lalu merogoh tas ranselnya, dan mengeluarkan dua vocher hotel yang diberikan oleh Lia sebagai hadiah perpisahan mereka. Sebenarnya kemarin malam ia rela menunggu Davin pulang, untuk memberikan vocher ini pada Davin. Namun sayang ia harus menunda hal itu, karna Davin yang pulang entah jam berapa.


Davin mengambil vocher hotel tersebut dari tangan Aelin, ia mengulum senyum melihat vocher hotel tersebut.


"Lia akan pergi ke luar negri untuk belajar menjadi seorang pemain biola. Dia memberikan vocher hotel itu sebagai hadiah honeymoon kita. Dia tahu jika sejak menikah, kita tidak pernah pergi honeymoon. Apa kita bisa menginap di hotel malam ini?" Aelin menyentuh paha Davin. Berharap Davin akan setuju.


Davin memandang wajah memohon Aelin, benar-benar terlihat menggoda. Apalagi Aelin sedang meminta honeymoon, suami mana yang akan menolak hal tersebut.


"Baiklah, tentu saja aku mau sayang." Davin mencubit pipi Aelin dengan gemas. Aelin kembali memeluk Davin, ia benar-benar senang lagi-lagi Davin menuruti keinginannya.


"Jadi istri kecilku memaafkan ku kan?" goda Davin dengan mencium punggung tangan Aelin dengan mesra.

__ADS_1


"Tentu saja, apa aku bisa marah terlalu lama dengan suami tampan ku," balas Aelin tak kalah menggoda.


"Kamu semakin nakal, ternyata kamu sudah berani menggodaku. Lihat saja aku pastikan kamu akan menjerit malam ini." Davin mengedipkan sebelah matanya, lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan benda besi itu.


Sedangkan Aelin langsung menunduk, dimana wajahnya sudah memerah dengan sempurna seperti kepiting yang di rebus ribuan tahun. Bibirnya ingin tersenyum namun, Aelin berusaha menahannya. Ia tidak mau Davin melihat wajahnya dan semakin menggodanya. Bisa-bisa ia akan pingsan detik itu juga.


"Aku harap malam ini, tuhan mempercayakan satu benih janin ke dalam perutku. Sebelum melakukannya nanti aku akan meminum obat penyubur kandungan yang di berikan dokter. Calon bayiku, cepatlah tumbuh di rahim ku." batin Aelin sembari mengelus perutnya yang masih rata. Ia benar-benar menginginkan seorang bayi dari Davin.


Davin yang melihat Aelin mengelus perutnya, tersenyum lebar.


"Kamu sedang sakit perut? Apa perlu kita berhenti di pengisian bensin?" tanya Davin sedikit khawatir.


"Tidak sayang, perutku hanya gatal saja."


"Kamu membawa obat penghalang kehamilan kan?"


Wajah Aelin langsung gelagapan, saat mendengar pertanyaan Davin. Tentu saja ia tidak membawa obat tersebut. Karna, obat tersebut tidak termasuk ke dalam rencananya.


"Hmm iya," bohong Aelin memasang wajah menyakinkan.


"Bagus, kamu harus selalu meminumnya dengan teratur. Kamu ingatkan janjimu padaku akan selalu menuruti apa yang aku katakan?"


"Tentu saja, kamu adalah suamiku. Aku akan menuruti perkataanmu."


"Tapi tidak untuk kali ini, kamu mungkin lupa jika sebentar lagi aku akan lulus. Jadi tidak masalah jika aku hamil." batin Aelin, yang hanya bisa mengungkapkan di dalam hatinya.


Davin sejak dulu, selalu meminta dirinya meminum obat penghalang kehamilan, dengan alasan takut dirinya hamil karna masih sekolah. Jika ia hamil Davin takut ia akan menerima bullian bahkan konsekuensi terburuknya, Ia bisa di keluarkan dengan cara tidak hormat. Dan memang benar, Aelin menyetujui hal itu.


Namun, alasan sebenarnya Davin meminta Aelin untuk terus mengkonsumsi obat tersebut, agar Aelin tidak hamil di saat Davin menyentuhnya. Karna kehamilan Aelin akan memperburuk keadaan Davin. Apalagi sekarang Syaila sudah kembali. Jadi, jika Aelin hamil itu akan sangat merepotkan Davin yang masih bimbang antara memilih Syaila atau Aelin. Keduanya sama-sama penting dan berarti untuk Davin.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Davin mau enaknya doang..


Oke jangan lupa like koment gift anda vote ya


__ADS_2