Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Kenapa bisa?


__ADS_3

...204...


"Permisi," ujar pelayan yang tiba-tiba masuk. Davin dan Syaila menoleh bersamaan.


"Pergilah, aku sedang bicara dengan suamiku!" bentak Syaila mengusir pelayan tersebut.


"Baik, Nyonya. Saya hanya ingin memberikan ini pada, Tuan." Pelayan tersebut memberikan amplop besar pada sang majikan, lalu pergi keluar dari ruangan tersebut.


Davin menatap nanar amplop besar berwarna coklat di tangannya. Ia segera membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Sedetik kemudian kedua mata Davin melebar dengan sempurna bersamaan dengan tubuhnya yang terasa lemas. Seluruh tulang dalam tubuhnya terasa meleleh seketika melihat wajah Aelin dan pria lain yang tengah tidur dalam satu ranjang dengan posisi mesra. Sebuah bom seolah meledak bersamaan dengan hatinya yang hancur berkeping-keping. Rasa kecewa, cemburu, serta sakit hati menyatu bercampur menjadi satu. Membuat rasa sesak yang terasa mencekik hingga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.


Tubuh Davin ambruk ke lantai dengan foto-foto mesra Aelin yang berhamburan di lantai. Ia begitu hancur, sangat hancur dan merasa terkhianati. Wanita yang ia tunggu semalaman tanpa tidur malah sedang bermalam dengan pria lain. Hati siapa yang tidak hancur melihat orang yang dicintai berbagi ranjang bersama pria lain.


Syaila tersenyum tipis melihat respon Davin yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ia segera memasang wajah lugu dan khawatir, berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Dav, kamu baik-baik saja?" Syaila meraih bahu Davin yang sedikit bergetar dengan nafas memburu. Melancarkan sandiwara menjadi yang paling peduli, lalu menambahkan bumbu pedas untuk membakar amarah Davin.


"Dav, katakan sesuatu!" seru Syaila lagi dengan wajah begitu khawatir. Ia meraih kertas-kertas foto yang berserakan di depan Davin. Melihat satu persatu dengan ekspresi terkejut. Namun, sebenarnya sangat senang. Ternyata Arjun melakukan tugas dengan sangat baik. Sandiwara Syaila juga tak kalah keren. Dia sudah seperti aktris papan atas yang memainkan peran dengan sangat baik. Bau niat jahatnya pun tak tercium sedikitpun.


"Astaga, Aelin bermalam bersama pria lain?" Syaila menutup mulutnya terkejut.


"Kenapa, Ke--kenapa Ae?" lirih Davin dengan air mata menetes. Rasa sakit di hatinya membuat air mata yang tak pernah tumpah, kini mengalir begitu saja. Ia merasa mati detik ini juga. Tidak ada yang melukai dirinya sesakit ini.


Syaila memanfaatkan momen ini dengan menjadi sandaran terbaik untuk Davin. Ia merengkuh tubuh Davin, memeluk dengan begitu hangat diiringi dengan usapan lembut di punggung.


"Kamu menunggu dia semalaman sampai tidak tidur, tapi lihat apa yang dia lakukan. Bukannya memikirkan dirimu, dia malah bermalam dengan pria lain. Lihat, Dav, apa ini yang disebut cinta?" Syaila mulai menanamkan racun kebencian dan keraguan dalam hati Davin agar membenci Aelin.


"Tidak, ini tidak mungkin,"


"Stop, Dav. Bukti sudah ada di depanmu. Aelin tidak pernah mencintaimu, apa kamu mengerti itu? Kalau dia mencintaimu dia tidak akan mengkhianatimu," sentak Syaila sambil mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Aelin sangat mencintaiku, dia mengatakan itu, Sya. Dia janji tidak akan menyakiti dan meninggallkanku. Kenapa dia bisa melakukan hal ini padaku? Aku tahu, aku sudah sangat menyakiti dirinya, tapi cintaku tulus, Sya." Tangis Davin pecah diiringi isak tangis rasa sakit yang begitu dalam. Syaila kembali memeluk tubuh Davin, menangis bersama pria itu untuk menunjukkan rasa peduli atas duka Davin.


"Tidak ada yang lebih mencintaimu dari aku. Aelin mengatakan hal itu hanya untuk menumpang hidup padamu seperti benalu pada pohon. Dia hidup sendiri tanpa memiliki apapun, dia memanfaatkan dirimu untuk menyambung hidup. Dia tidak lebih dari perempuan matre, Dav. Selama ini, kamu tidak bisa melihat hal itu. Namun, sekarang semua niat busuk Aelin sudah terlihat. Apa kau pikir, dia memang mencintaimu?"


Davin terdiam seribu bahasa dengan tatapan kosong lurus ke depan. Ekspresi hampa yang ditunjukkan tak bisa mengartikan apa yang sedang dia pikirkan. Rasa sakit karena dikhianati dan dikecewakan membuat dunianya hancur dalam sekejap. Mencintai memang indah, tapi terluka karena cinta sungguh lebih buruk daripada kematian.


...----------------...


Aelin mengerjapkan kedua kelopak matanya yang terasa begitu lengket dan berat. Dimana pandangannya juga buram. Ia mengucek kedua matanya dengan tangan. Kepalanya terasa begitu pening dan pusing sehingga ia merasa melayang tanpa menyentuh bumi.


"Selamat pagi," ujar Arjun dengan senampan sarapan di tangannya. Aelin yang mendengar suara yang tidak ia kenal serta melihat sosok Arjun lansung bangkit dan mundur dengan wajah bingung. Bagaimana bisa, ada Arjun di kamarnya?


Hati Arjun sedikit tercubit melihat raut syok dan kaget Aelin saat melihat dirinya.


"Kenapa kamu bisa ada di dalam kamarku?" tanya Aelin dengan sinis. Ia menatap tubuh bagian atas Arjun yang tidak memakai baju, sedetik kemudian ia memilih membuang wajah.


"Kita sedang tidak di kamarmu, Ae. Kita sedang di hotel," jawab Arjun.


"Tidak, ini tidak benar. Aku harus segera pulang." Aelin segera turun dari ranjang. Namun, Arjun menangkap pergelangan tangannya.


"Jangan pergi tanpa sarapan, Ae," cegah Arjun. Aelin lansung menepis cekalan tangan Arjun dengan kasar. Menatap Arjun dengan tatapan jijik.


"Sarapan?"


"Iya, ini sudah pagi."


"Hah?" Aelin mengusap seluruh wajahnya. Kalau ini sudah pagi dan dirinya tidur di tempat ini sepanjang malam, maka ia sudah melewatkan malam ulang tahun Davin.


"Tidak, aku pergi berbelanja dengan Livia untuk kejutan ulang tahun Davin. Kenapa aku bisa berakhir di sini? Katakan apa yang terjadi, Arjun? Kamu menculikku?" Aelin menatap tajam ke arah Arjun.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak menculikmu, Ae. Kamu bilang kamu mencintaiku dan kita menghabiskan waktu semalaman bersama. Ayolah, jangan bercanda." Arjun melangkah mendekati Aelin.


"Bohong!" teriak Aelin sambil memajukan kedua tanganya agar Arjun berhenti.


"Ae, apa ini?"


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu katakan itu. Aku hanya mencintai Davin, dan aku tidak mungkin mengatakan kalau aku mencintaimu."


"Davin tidak pantas untukmu, hanya aku yang pantas." Arjun hendak memeluk tubuh Aelin. Namun, dengan cepat Aelin mendorong tubuh pria tersebut hingga jatuh ke ranjang.


"Jangan dekati aku! Berhenti berbohong, aku akan memberitahu Davin kalau kamu menculikku, Arjun. Dia tidak akan mengampunimu." Aelin berlari ke arah pintu. Akan tetapi, Arjun bergerak cepat dan menangkap tubuhnya dari belakang.


"Jangan tinggalkan aku, Ae," renggek Arjun mengeratkan pelukannya pada tubuh Aelin.


"Lepaskan, aku. Jangan berani menyentuhku, Berengsek!" Berontak Aelin berusaha melepaskan diri dari pelukan Arjun.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2