Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Terluka untuk sekian kalinya


__ADS_3

...206...


"Kenapa kamu mengatakan itu, Dav? Aku tahu aku salah karena tida pulang kemarin malam. Aku akan menjelaskan semuanya." Aelin bangkit dengan memegang pipinya yang terasa sakit.


"Memberitahuku kalau kamu sangat menikmati malam bersama pria lain," sarkas Davin tersenyum kecut.


Aelin terdiam mematung tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Davin. Dia tahu kalau ia bersama dengan Arjun, tapi apa yang dituduhkan sang suami tidaklah benar.


"Tidak, apa yang kamu pikirkan itu salah. Aku tidak melakukan apapun dengan Arjun---"


Belum sempat Aelin menuntaskan ucapannya. Davin melempar lembaran-lembaran foto tepat di wajahnya. Davin tersenyum getir melihat foto-foto mesra yang bertebaran di udara dan jatuh tepat di kaki sang istri. Aelin terperanjat dengan apa yang ia lihat. Banyak sekali, foto dirinya dengan Arjun yang begitu mesra dan tidur dalam satu ranjang yang sama. Bagaimana bisa, foto-foto bohong ini sampai di tangan Davin?


"Hehh, kenapa kau diam? Ae. Apa saking menikmati malam dengan pria itu kamu menjadi bisu?" sindir Davin dengan hinaan yang tentu sangat melukai Aelin.


"Bagaimana, foto-foto ini sampai di tanganmu?" balas Aelin dengan pertanyaan. Ia yakin, kalau semua hal yang terjadi antara dirinya dan Davin adalah sebuah konspirasi.


"Bagaimanapun caranya, foto itu sudah membuktikan kalau kamu pengkhianat!" bentak Davin, lalu mencengkram kedua bahu Aelin dengan sangat keras. Wanita itu meringgis kesakitan karena bahunya terasa akan lebur.


"Kamu menya--kitiku, Dav," lirih Aelin terbata-bata.


"Rasa sakit yang kamu rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku karena pengkhianatanmu. Semua kata-kata cinta yang kamu katakan, semuanya bohong. Kamu hanya memanfaatkan aku sebagai tempat bernaung ketika kamu hanya sendiri. Apa kurangnya aku? Sehingga kamu bermalam dengan pria itu? Apa aku kurang liar untuk memuaskanmu, Ae?"


"Cukup! Aku tidak semenjijikkan itu," pekik Aelin dengan tangis yang semakin kencang. Kata-kata Davin sungguh menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Apa yang dituduhkan Davin tidaklah benar, ia tidak menyangka kalau suaminya sendiri bisa memikirkan hal kotor seperti itu.


"Lalu, apa ini? Foto-foto itu sudah membuktikan betapa rendah dan murahannya dirimu!" hardik Davin mendorong tubuh Aelin dengan sangat keras hingga terjungkal dan hampir jatuh. Namun, untung Aelin bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tubuhnya tidak membentur lantai yang keras.


"Foto-foto itu hanya manipulasi, Dav. Aku tahu aku memang bersama Arjun, tapi---"


"Bahkan kamu mengakuinya sekarang, apalagi yang perlu dibuktikan? Kamu ingin menjebakku lagi? Tidak akan bisa." Davin memotong ucapan Aelin begitu saja. Ia begitu terbakar amarah saat mendengar kalau Aelin memang bermalam bersama Arjun. Sungguh menyedihkan nasibnya, ia pasti terlihat seperti pecundang sekarang.

__ADS_1


"Aku mohon, dengarkan aku. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kemarin, aku pergi bersama Livia untuk berbelanja. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, aku tiba-tiba terbangun di kamar hotel pagi ini. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan ini pada Livia."


"Apa yang perlu ku jawab?" tanya Syaila yang masuk ke dalam ruangan dengan membawa segelas air. Ia berjalan mendekat ke arah Davin yang tengah diselimuti kabut amarah.


Aelin mengerutkan dahinya dalam melihat wanita yang sangat ia kenali. Akan tetapi, suara wanita itu adalah suara Livia. Namun, tidak dengan wajah atau penampilan. Ia begitu mengingat dengan jelas milik wajah wanita yang kini mendekati Davin. Dia adalah wanita yang sama, yang mengalami kecelakaan karena ingin merebut video transaksi antara dia dan Arjun. Akan tetapi, kenapa wanita itu bisa ada di sini? Ia benar-benar bingung dan tidak mengerti semua yang sedang terjadi saat ini.


"Ka--u," ucap Aelin terbata-bata.


"Kenapa? Oh, perkenalkan, aku Syaila dan aku istri pertama Davin."


Jeduar.


Duar.


Ribuan petir seakan menyambar tubuh Aelin dan meledakkannya. Ia merasa dunia tempat ia berdiri saat ini hancur seketika mendengar ucapan wanita itu. Seluruh sendi yang menyangga tubuhnya terasa melebur hingga tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Tenaga yang masih tersisa pun menghilang seketika. Tubuh Aelin linlung hendak jatuh ke lantai. Namun, kedua tangan kokoh menangkap tubuh ringkih tak bertenaga itu.


"Ae," panggil Antonio sambil menyangga tubuh Aelin. Davin yang melihat hal itu semakin cemburu dan marah. Ia mengepalkan tangan erat hingga buku-buku tangannya memutih sempurna.


"Dav, apa yang dikatakan wanita itu tidak benar, kan? Tidak mungkin dia istrimu, Dav. Kamu tahu, dia itu adalah wanita yang membeli jasa Arjun untuk memuaskan nafsunya---"


Plak.


Lagi-lagi tamparan keras dari tangan Davin melayang dengan sempurna di pipi Aelin. Tamparan yang kembali membuat Aelin terdiam membatu.


"Kamu sangat menjijikkan, kamu menuduh istriku menyewa pria. Cih, bukankah itu sebenarnya kamu yang melakukan hal itu. Kamu malah menuduh Syaila. Ternyata kamu itu sangat picik," sembur Davin dengan hinaan. Akan tetapi, dari semua kata-kata itu yang hanya ditangkap oleh Aelin adalah pengakuan Davin bahwa wanita yang berselingkuh bersama tunangannya itu adalah istrinya.


Kali ini, Aelin benar-benar tidak punya tenaga untuk menghadapi kenyataan yang begitu mengerikan untuk dirinya. Tubuhnya ambruk duduk seketika di lantai dengan tatapan menyedihkan.


"Aelin," pekik Antonio mendekat ke arah Aelin yang begitu terlihat hancur. Melihat Aelin seperti ini membuat ia terluka, tapi semua ini memang harus diketahui oleh wanita itu.

__ADS_1


Buliran bening merembes begitu lancar tanpa hambatan dari kedua sudut mata Aelin yang telah sembab. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang diletakkan di atas. Hatinya terasa berhenti berfungsi dan mati rasa. Ternyata, pria yang di anggap sebagai pelindung dan penyelamat tak ubahnya seorang pembohong besar. Pria yang begitu ia cintai sudah memiliki seorang istri, dan ia adalah orang ketiga dalam rumah tangga orang lain.


Aelin memukul keras dada kirinya, untuk membuat ia sadar kalau ini bukan mimpi. Takdir begitu kejam padanya, dan Davin begitu jahat telah menempatkan ia dalam posisi ini.


"He ... He ...," Aelin tertawa hambar, menertawakan kisah hidupnya yang begitu tragis. Antonio yang melihat perubahan ekspresi Aelin menjadi khawatir.


"Ae---"


"Kenapa kamu bisa ada di sini, Kak?" sosor Aelin melempar pertanyaan pada Antonio dengan tatapan kosong. Antonio terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan Aelin. Ia tidak sanggup mengatakan kalau ia di sini karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia adalah adikku." Bukan Antonio yang menjawab, melainkan Syaila.


Aelin tertawa nyaring dan sangat keras setelah mendengar jawaban Syaila. Ia memandang semua orang yang ada di ruangan ini dengan tatapan sakit. Ternyata, mereka semua adalah satu keluarga yang sedang mempermainkan hidupnya. Pria yang ia anggap kakak pun juga membohongi dirinya dan berpura-pura menjadi kerabat dekat. Hatinya kembali menerima luka yang begitu menyakitkan hingga ia merasa malaikat maut sedang menyabut nyawanya.


"Kau sudah beristri, kau adalah adiknya, dan kau adalah wanita yang merebut tunanganku. Bahkan, kamu juga Livia. Aku mengerti sekarang, kalian semua merencanakan semua ini untuk menghancurkan hidupku. Kalian memang pembohong besar." Aelin bertepuk tangan menertawakan diri sendiri. Kali ini, ia benar-benar sendiri. Ia terluka dan sangat terluka.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


Gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2