Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Racun


__ADS_3

...211...


Sepasang mata sendu dengan nampan berisi makanan menatap nanar pemandangan yang barusan terjadi. Ia menatap pintu yang sama yang ditatap oleh Davin. Kemudian memutar knok dan mendorong daun pintu tersebut.


Kedua netranya lansung di sapa dengan pemandangan serba putih tanpa warna. Begitu terasa aura dingin penuh derita dalam ruangan yang begitu sunyi ini. Ia menatap lurus ke arah wanita hamil yang tengah duduk membelakangi dirinya menghadap ke arah jendela kaca besar. Air mata seketika berlinang melihat wanita cantik yang selalu tertawa dulu kini menjadi manusia patung tanpa pernah berbicara sedikitpun.


"Nona," panggil wanita itu, yang tak lain adalah Maya, sedangkan wanita yang tengah duduk di depannya dengan perut membesar adalah Aelin. Ia duduk dan meletakkan nampan berisi makanan di samping Aelin.


Wajah cantik yang selalu cerah, kini terlihat sangat pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Tatapan lurus ke depan yang terlihat kosong dan dalam. Tidak ada ekspresi apapun yang ditampilkan oleh Aelin selain diam membisu layaknya mayat hidup. Setelah pertengkaran hari itu, ia tak pernah keluar dari kamar ini. Maya yang selalu mengantarkan makanan untuknya. Bahkan, untuk sekedar bicara pun ia tak mau. Seakan dunia yang pernah ia buat, kini hanya menyisakan ia tanpa nyawa. Rasa sakit yang diberikan oleh Davin membuat ia kebas dan tak merasakan apapun. Ia hanya hidup karena bayi dalam perutnya. Seandaikan ia tidak hamil, mungkin ia sudah bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari lantai atas rumah ini.


Kabar Davin pun tak lagi ia pedulikan. Rasa sakit itu sudah mengubah ia seperti patung batu yang hidup. Sangat menyedihkan.


"Nona, aku bawakan sarapan untukmu. Minumlah vitamin supaya bayimu tetap sehat," ucap Maya lagi berbicara pada Aelin. Namun, tetap saja tidak ada respon atau jawaban, yang ada hanya sunyi. Maya menelan ludahnya paksa.


"Nona, ini sudah delapan bulan berlalu, apa kamu tidak ingin keluar dan melihat suasana di luar. Sudah banyak yang berubah. Kamu tahu, aku sangat merindukan dirimu yang dulu. Saat bayi kecilmu lahir, aku yakin kalian akan bermain bersama dan melewati hari-hari yang indah." Buliran bening merembes begitu saja di kedua mata Maya. Ia selalu sedih saat berbicara dengan Aelin yang lebih terkesan seperti orang gila. Ia selalu berbicara sendiri tanpa jawaban atau respon.


...----------------...


Davin terlihat fokus dengan laptop di depannya. Tatapan tajam dan dingin layaknya elang terluka tak teralihkan sedikitpun. Ia begitu antusias membaca laporan perkembangan bisnisnya yang semakin hari semakin sedikit karena terus diserang oleh Antonio. Sepertinya, pria itu benar-benar ingin membuat ia jatuh miskin. Tidak dalam urusan kantor, bahkan di rumah pun ia tak pernah bisa tenang karena Antonio selalu menemukan cara untuk membuat hidupnya tidak tenang.


"Tuan!" seru Darren yang lansung masuk dengan nafas terenggah-enggah. Dimana tangannya membawa amplop coklat besar. Davin cukup terlonjak kaget dengan kedatangan asistennya itu. Ia memasang wajah siap menerkam detik itu juga.


"Sekali lagi kamu masuk dengan cara tidak sopan seperti ini. Aku akan menendangmu keluar dari perusahaan ini," sarkas Davin marah.


"Ini sangat penting, Tuan."


"Apa, Antonio kembali berulah?"


"Bukan, tapi ini tentang Nona Aelin."


"Kalau ini tentang dia, keluarlah dari sini. Bahkan, aku tidak ingin mendengar namanya."


"Tapi ini penting, Dav."

__ADS_1


"Jangan panggil namaku. Saat ini kamu bukan temanku melainkan bawahan," tegas Davin yang kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Ini tentang kecelakaan Syaila. Ini tentang kenyataan dan kebenaran yang harus kamu tahu." Suara Darren berubah serius dengan nada yang berat. Penuturan yang membuat Davin terhenyak dan membeku di tempat. Ia menoleh ke arah Darren, lalu berdiri dan mendekat.


Darren memberikan amplop coklat yang ada di tangannya pada Davin. Wajahnya terlihat menyendu dengan gurat kesedihan.


"Aku berhasil menangkap Arjun dan menemukan semua bukti serta rekaman ini. Lihatlah," ucap Darren.


Davin menatap sejenak amplop tersebut. Lagi-lagi ia harus membuka luka lama atas kecelakaan Syaila yang membuat ia terjebak cinta dengan Aelin. Kebenarannya memang sudah terungkap, bahkan ia sudah memerintahkan Darren untuk menutup kasus itu. Namun, luka itu kembali hadir dan sekali lagi ia akan melihat Aelin yang bersalah dalam peristiwa itu.


Dengan tangan gemetar serta peluh keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Davin membuka amplop tersebut dan mulai menonton rekaman, serta bukti tertulis lainnya.


Wajah Davin menegang dengan kedua mata melotot. Kedua tangannya meremas dengan keras kertas bukti. Ekspresi dingin, kaget, marah, serta benci bercampur menjadi satu tak dapat diprediksi. Detik berikutnya Davin melepas semua bukti tersebut hingga berserakan di atas meja kaca. Ia mengusap seluruh wajahnya dengan nafas yang mulai sesak. Ia segera merogoh ponselnya dalam saku jas dan menekan satu nomer. Hanya dalam dua nada sambung, panggilan tersebut terjawab.


"Hallo, Baby." Suara ceria Syaila terdengar dari ujung telpon.


"Hallo, Datanglah ke kantorku sekarang. Aku menunggumu," tekan Davin dengan suara yang sedikit serak.


"Hmm."


"Kenapa kamu menyuruhku ke sana? Apa kamu merindukanku?"


"Hmm."


"Tapi kita akan minum kopi di rumah, kan. Kenapa aku harus ke sana. Kamu yang harus pulang, Baby."


"Kita bisa minum kopi di kantor. Cepatlah datang." Davin memutus sambungan telpon secara pihak sebelum Syaila sempat memberikan jawaban.


Syaila yang sedang duduk manis ditemani jus jeruk mengendikkan bahu bingung setelah menerima panggilan dari Davin. Ia merasa ada yang aneh dengan suara Davin saat menelpon. Akan tetapi, ia tidak peduli setelah sekian lama akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama sang suami. Ia tidak mau membuang waktu dengan tetap duduk di sini. Ia akan segera bersiap secantik mungkin dan pergi menemui sang pujaan hati.


"Sekarang adalah waktuku untuk bahagia. Sudah cukup aku menderita karena Aelin. Setelah Davin pulang, dia akan mengusir Aelin dari rumah ini, dan semuanya akan kembali seperti dulu lagi," gumam Syaila dengan senyum mengembang. Ia berlari menuju kamarnya untuk bersiap.


Tidak butuh waktu terlalu lama. Mobil Syaila sampai di depan kantor Davin. Ia segera turun dengan cepat sembari wajahnya tersenyum semringah. Semua karyawan yang ia lewati memberikan salam hormat padanya, yang hanya di balas dengan sikap cuek dan acuh.

__ADS_1


Syaila langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dimana netranya lansung disapa oleh sosok Davin yang duduk di sofa dengan satu kaki menopang kaki yang lainnya. Ia lansung menghambur memeluk Davin.


"Baby, aku mencintaimu," ucap Syaila dengan manja. Sementara Davin hanya diam memandang dua cangkir kopi di depannya.


"Aku sudah menyiapkan kopi untukmu. Kamu suka rasa latte, kan," balas Davin dingin.


"Kamu ingat apa yang aku suka."


"Tentu saja."


Dengan semangat dan penuh rasa bahagia. Syaila meraih secangkir kopi cinta yang ditawarkan oleh Davin. Hal yang selalu diimpikan olehnya kini menjadi nyata. Ia rasa hidupnya sudah sangat indah. Davin memperhatikan Syaila yang sedang menyeruput kopi dengan nikmat.


Cairan hangat dengan rasa latte itu mengalir membasahi kerongkongan Syaila. Rasa lembut dan juga menggoyang lidah begitu memanjakan. Namun, di detik berikutnya, tiba-tiba tenggorokannya menjadi panas seperti terbakar, bersamaan dengan nafasnya yang menjadi sesak. Secangkir kopi yang ada di tangannya pun jatuh, tumpah mengotori pakaiannya. Ia menoleh ke arah Davin yang malah hanya diam melihat ia kesakitan.


"Aku menambahkan racun dalam kopimu," seloroh Davin santai, tapi berhasil membuat Syaila kaget dengan mata melotot.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


Komentar


Gift


Vote


tips


Promosiin

__ADS_1


__ADS_2