Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Ikatan batin


__ADS_3

...42🐳...


"Nona Aelin...!"


Aelin langsung memutar tubuh nya menghadap kepala pelayan yang selama bertahun- tahun sudah bekerja di rumah nya.


Aelin menyungging kan senyum ramah kepada sang kepala pelayan yang berjalan mendekat ke arah nya.


"Apa Nona ingin mencari Tuan..?" Tanya sang kepala pelayan hanya memasang wajah datar, tanpa ekspresi sedikit pun.


Karna memang seperti itu lah, wajah sang pelayang sejak ia lahir.


Selalu menatap dengan tajam, tanpa ekspresi apa pun seperti tembok besar cina.


"Iya bi.. Tapi aku tidak melihat papy. Ini sudah jam pulang kerja kan? lalu di mana papy ku?" Tanya Aelin sembari melihat arloji yang masih menempel di pergelangan tangan nya, memasti kan jika benar waktu sudah menunjukkan sore hari. Di mana sang papy biasa nya akan bersantai usai pulang dari kantor.


"Apa tuan tidak mengata kan jika ia ada dinas keluar kota Non.. Bibi pikir Non sudah tahu tentang hal itu..."


"Astaga apa papy menelepon sejak tadi pagi karna ingin memberitahu ku tentang ini.. Ohhh aku memang putri yang sangat egois tapi aku sama sekali tidak tahu jika papy akan pergi keluar kota.. " Batin Aelin dengan wajah di tekuk ke dalam.


Tujuan awal nya kemari harus tertunda karna sang papy yang pergi keluar kota.


Itu arti nya ia harus menunggu sampai sang ayah pulang, dan membicara kan masalah pembatalan pertunangan nya dengan Arjun sang pujaan hati yang tak akan pernah ia miliki.


"Baik lah.. Tapi papy pergi bersama siapa Bi..? Tidak Mungkin dia dinas sendiri?" Kini Aelin yang melempar pertanyaan pada sang kepala pelayan.


"Tuan pergi bersama Tuan Antonio..." Jawab sang kepala pelayan, singkat padat dan jelas.


Namun mampu membuat Aeling menghela nafas lega, karna sang papy pergi bersama Antonio.


Pria yang lebih tua empat tahun dari nya, yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.


Pria dengan wajah bule dan terkesan manis itu, selalu menjadi sosok yang membuat bibir Aelin melengkung indah.


Aelin tahu, jika Antonio adalah asisten sang ayah, tapi ia merasa dengan kehadiran Antonio yang ceria dan begitu terbuka semakin menghiasi hari nya yang selalu kesepian saat bermain di rumah.


Bagaimana bisa ia melupakan pria tampan itu?.


Bahkan Antonio tidak tahu jika kini ia sudah menikah.


Antonio tidak tahu jika gadis kecil kesayangan nya sudah menjadi milik orang lain. Pikir Aelin yang lagi- lagi terjebak dalam lamunan kehidupan nya yang sangat rumit.


Seperti benang yang sudah terlanjur kusut, dan tak akan bisa di lurus kan kembali.


"Jika tidak ada lagi yang Nona butuh kan.. Saya akan kembali ke tempat saya." Cicit sang kepala pelayan, yang berhasil membuyar kan lamunan Aelin.


Dengan cepat, Aelin mengangguk ringan. Di mana sang kepala pelayan menunduk kan tubuh nya sebagai bentuk penghormatan.


Aelin menghela nafas nya pelan, memegang kepala nya yang benar- benar terasa berdenging.


Tapi ia tidak boleh kalah sekarang, ia harus menjadi sosok yang tangguh meski harus menghadapi semua nya sendiri.

__ADS_1


Aelin melangkah kan kaki nya menuju kamar lama nya, di mana kamar yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup nya, bahkan menjadi saksi pula kehancuran hidup nya.


Aelin memutar knok pintu kamar nya dengan perlahan, lalu mendorong pintu tersebut hingga terbuka.


Slashhh...


Bayangan pahit yang terjadi beberapa hari yang lalu langsung muncul begitu saja di kepala Aelin.


Di mana saat Davin dengan mudah nya mengambil sesuatu yang sangat berharga dari diri nya.


Ingatan itu berputar begitu saja, seperti vidio otomatis.


Dada Aelin terasa sesak, dengan kemarahan dan kebencian yang benar- benar menumpuk.


Trauma yang di rasa kan nya saat ini sedang menghancur kan tubuh nya, dengan leher yang terasa tercekik.


Air mata sudah tak terbendung lagi, buliran bening itu meluncur dengan bebas melintasi pipi indah Aelin.


Aelin mengepal kan ke dua tangan erat, memendam rasa yang terasa menyayat ganas seluruh tubuh nya.


Terasa sangat menyakit kan.


Namun bukan nya mundur, Aelin malah masuk ke dalam kamar nya.


Menelisik setiap bagian yang masih tersusun sama persis seperti kamar yang selalu menjadi surga nya namun di saat yang bersamaan menjadi neraka nya.


Aelin menghapus air mata nya kasar, menghirup oksigen yang melintas di sekitar nya.


"Apa pun alasan mu menghancur kan hidup ku.. Aku tidak akan menyerah secepat itu. Aku akan bertahan dengan rasa sakit ini. Dan akan menerima semua derita yang akan kamu berikan. Kau ingin membuat ku tenggelam kan Davin. Maka aku akan menahan nafas ku selama mungkin namun aku tidak akan mati. Di saat matahari terbit di saat itu kamu akan mati dan hancur berkeping - keping..." Ujar Aelin dengan tekad dan kekuatan yang entah datang dari mana.


Angin berhembus cukup kencang, menerbang kan gorden- gorden ringan yang menghiasi jendela kamar Aelin.


Hingga foto Mr. Arkelin yang sedang memeluk Aelin tanpa sengaja tersenggol oleh ujung Gorden dan


Prang....


Foto bahagia itu jatuh ke lantai, dengan pecahan kaca yang berserakan.


Aelin terperanjat, saat melihat foto diri nya dan sang ayah jatuh dan pecah.


Rasa cemas tiba- tiba membalut hati Aelin.


Ia langsung mengangkat foto bahagia diri nya dengan sang ayah yang tengah tersenyum manis.


Sungguh indah dan begitu harmonis.


Srak..


Namun saat jari lentik Aelin menyentuh pecahan kaca yang masih tertinggal pada foto tersebut. Jari nya tanpa sengaja tergores pecahan beling.


"Au..." Ringgis Aelin merasa kan rasa perih pada jari nya.

__ADS_1


Wajah Aelin semakin terlihat kalut, foto ayah nya terjatuh karna tertiup angin. Seperti sebuah pertanda jika sang ayah sedang mengalami sesuatu yang buruk.


Dada Aelin semakin memburu dengan ketakutan yang tiba- tiba melanda diri nya.


Mungkin ini adalah ikatan batin antara diri nya dan sang ayah.


"Aku harap papy baik- baik saja. Kenapa perasaan ku menjadi tidak karuan seperti ini..." Ringgis Aelin dengan kecemasan dan kekhawatiran yang semakin menjadi.


Aelin langsung merogoh ransel nya, mencari benda ajaib yang bisa membuat orang di belahan bumi lain nya terhubung.


Aelin mengobrak- abrik isi ransel nya dengan kasar.


Ia tidak bisa lagi menunggu , ia harus menelpon ayah nya dan memasti kan jika pria tua yang sangat di sayangi nya itu baik- baik saja.


"Seharus nya aku mengangkat telpon papy ... Ck..." Decak Aelin yang semakin frsutasi.


Aelin mengeluar kan benda persegi dengan layar menyala dari dalam ransel nya.


Memain kan benda pipih tersebut, lalu mendekat kan benda tersebut ke telinga nya.


Tut...


Tut...


Tut...


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2