Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Pikiran masing-masing


__ADS_3

...154πŸ’š...


Mobil mewah Davin berhenti di depan sekolah Elit kota. Sekolah di mana beberapa hari lagi Aelin akan lulus dari sana.


Aelin masih diam dan sibuk dengan pikiran nya sendiri, sejak melihat tingkah Davin yang aneh dan mencurigakan semakin membuat diri nya tidak tenang.


Ingin sekali ia menghapus semua pikiran negatif tersebut, namun sayang akal sehat nya terus bertanya- tanya tanpa tahu jawaban nya.


Davin memandangi Aelin, ia sedikit aneh dengan sikap Aelin yang terkesan diam sejak masuk mobil.


Saat di tanya, Aelin hanya menjawab sekenanya saja. Hal itu membuat Davin merasa Aelin sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa Aelin diam sejak tadi? Bahkan beberapa kali dia mengacuh kan semua pertanyaan ku. Apa dia mulai curiga pada ku?" Batin Davin mulai menerka- nerka dan menebak- nebak apa yang sedang di pikir kan oleh istri kecil nya.


"Sayang!" Tegur Davin dengan menyentuh kepala Aelin.


"Hah?" Aelin yang merasakan sentuhan tiba- tiba di rambut nya langsung tersentak kaget.


Davin memicing alis nya melihat Aelin yang terkejut.


"Kita sudah sampai? Apa kamu tidak ingin masuk ke sekolah?."


Aelin mengalih kan pandangan nya keluar jendela. Ternyata benar ia sudah berada di depan gerbang sekolah, ia sama sekali tidak menyadari sudah berapa lama ia melamunkan sesuatu yang tidak penting.


"Baiklah, aku masuk dulu sayang." Ucap Aelin dengan sedikit kaku, lalu mengambil ranselnya yang ia letak kan di jok belakang.


Namun gerakan tangannya berhenti, karna di cekal oleh tangan Davin.


Tatapan Aelin dan Davin bertubrukan, di mana ke duanya menyelami ke dua mata masing- masing seolah mencari jawaban yang menganggu pikiran masing- masing.


"Kau baik- baik saja?" Lirih Davin yang terlihat khawatir.


Aelin memejam kan ke dua matanya, memutus kan kontak mata dengan Davin.


"Tentu, aku baik- baik saja. Memangnya aku kenapa?" Timpal Aelin dengan melempar pertanyaan pada Davin.


Davin melepaskan cekalan tangannya pada Aelin, sehingga Aelin bisa mengambil ransel nya.


"Kamu harus menjawab semua soal dengan benar. Buatlah suami tampan mu ini bangga." Seru Davin dengan menyunggingkan senyum manisnya, menyemangati Aelin agar istri kecil nya bisa melewati ujian dengan lancar.

__ADS_1


Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan, untuk mengurangi rasa bersalah di dalam dirinya.


"Ha.. Ha.. PD sekali diri mu." Cela Aelin dengan tertawa bahkan bibir nya mencebik mengejek.


"Tapi aku memang tampan, bahkan diri mu sangat mengagumi hal itu."Jawab Davin polos lalu mencubit pipi Aelin gemas.


"Baiklah sayang masuklah!!. Pulang nanti tunggu aku, aku akan menjemput mu!!." Lanjut Davin lagi, lalu menarik tengkuk Aelin dan mendarat kan bibir nya di bibir Aelin sekilas.


Sementara Aelin yang menerima perlakuan manis dari Davin, tersipu malu bahkan ke dua pipi nya bersemu merah.


"Dasar nakal..." Aelin membalas Davin dengan mencubit rahang tegas suami nya lalu segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam sekolah.


Sedangkan Davin melebarkan ke dua matanya, sembari mengelus rahangnya yang terasa sedikit panas bekas cubitan Aelin.


"Istri kecil ku semakin liar saja." Gumam Davin lalu melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Aelin.


Sementara Aelin terus berjalan dengan bibir yang terus saja tersenyum. Meski ia sudah berciuman sangat sering dengan Davin, namun entah kenapa setiap pria tampan itu menyentuh nya dan menciumnya ia pasti tersipu malu dan ke dua pipinya yang putih akan memerah.


"Ekhmm ada yang dapet asupan gizi nih pagi- pagi." Celetuk Lia yang tiba- tiba merangkul Aelin dari belakang.


Aelin cukup terkejut dengan kehadiran Lia yang sudah seperti jaelangkung. Datang tak di undang, pergi tak di usir.


"Ck,,,Ngagetin aja." Kesal Aelin.


"Ya jelas lah, orang kamu datengnya udah kayak jaelangkung."


"Jaelangkung cantik kalau aku hehe.." Kekeh Lia dengan percaya diri.


Ya kali dirinya yang cantik seantero kota di katakan jaelangkung, hanya orang rabun yang berani mengatakan hal itu, dan Aelin sahabat laknatnya ini malah dengan teganya mengatainya tanpa dosa.


Sedangkan Aelin mencebikkan bibirnya mendengar kepercayaan diri Lia yang sudah level akhir.


"Dari pada kamu ganggu aku Li, mending kamu sekarang belajar karna kali ini aku ngak akan kasi kamu contekan..." Seru Aelin dengan senyum liciknya. Ini adalah balasan yang pantas untuk Lia karna sudah berani menggodanya.


Biarkan saja wajah sahabatnya itu memucat seperti mayat. Pikir Aelin dengan tersenyum miring.


Sementara Lia memasang wajah panik. Demi apa pun jika ia tidak mendapat contekan dari Aelin sudah di pastikan nilainya akan jelek seperti itik buruk rupa.


"Hah, Aelin ayo donk jangan seperti itu." Renggek Lia yang benar- benar tidak berdaya jika bersangkutan dengan hal belajar dan menjawab soal.

__ADS_1


"Siapa suruh kamu menggodaku seperti itu, anggap saja itu karma mu." Aelin melenggang masuk ke dalam kelas lalu duduk di kursi nya.


Sementara Lia segera mengejar sahabatnya, bagaimana pun caranya ia harus berhasil membuat Aelin mau membagi jawabannya. Ia tidak mau mati karna menjawab soal yang lebih sulit dari apa pun itu.


"Ih, Ae kamu kok gitu banget sih sama aku. Mentang- mentang kamu udah dapet ciuman mesra dari Davin kamu malah menghukum ku." Seloroh Lia dengan menggoyangkan badan nya ke samping dan ke kiri.


"Hah?" Aelin menganga mendengar ucapan sahabat konyolnya tanpa sensor.


"Kamu pikir aku tidak tahu apa kalau kalian..." Lia menyatukan kedua tangan dengan tatapan jahil.


Wajah Aelin memerah dengan sempurna seperti buah strawberry yang hampir busuk.


Ia sangat malu, ternyata saat Davin menciumnya Lia melihat hal itu.


"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain mengintip ku?." Ketus Aelin dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Aku tidak sengaja, lagi pula kalian yang melakukannya di depan umum. Toh, bukan aku saja yang melihat nya dua adik kelas juga melihat adegan ++ kalian."


"Astaga.!!!"


"Tapi tenang saja, aku bisa menangani dua adik kelas itu. Menutup mulut mereka serapat mungkin untuk mu asal kamu berikan contekan untuk ku, bagaimana?."


Aelin menghembuskan nafasnya panjang. Niat hati ingin mengerjai Lia malah diri nya yang masuk dalam jebakan Lia.


"Oke, Aku akan memberimu contekan." Pasrah Aelin lalu menyembunyikan wajahnya.


Lia tersenyum penuh kemenangan, senjata jitunya ternyata sangat berguna.


"Lain kali kalau ada adegan lebih, vidioin ya Lin. Terus kirim ke aku, buat edukasi masa depan."


"Lia...!!!" Teriak Aelin kesal mendengar ucapan abstrak sahabatnya.


Sedangkan Lia langsung berlari terbirit- birit keluar dari kelas sebelum Aelin kembali mengancamnya dengan urusan soal.


Aelin mendengus, dan mengusap pangkal hidungnya. Rasanya saat ini ia ingin menenggelamkan diri di palung laut terdalam saking malunya karna ulah Lia.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Lia... Lia.. Suka banget kamu goda Aelin.. Entar kalau lihat Aelin dan Davin lagi mesra- mesraan jangan lupa di foto atau di vidion ya, kirim ke othor. Othor kan juga pengen lihatπŸ˜†πŸ˜†


Oke jangan lupa like, koment, gift, vote kalau bisa koinnya ya.πŸ˜„


__ADS_2