
...202...
Raut wajah Syaila terlihat begitu semringah dan bahagia. Senyum tak pernah luntur dari bibir yang dipoles dengan pewarna merah. Hatinya begitu berbunga-bunga, seolah sedang berada di sebuah ladang bunga. Aroma cinta pun bisa dicium dengan sangat jelas oleh kedua rongga hidungnya. Malam ini, adalah akhir dari semua kisah Aelin. Malam ini, adalah malam yang begitu ia nantikan. Bahkan, bintang serta bulanpun tersenyum indah malam ini. Syaila menatap ruangan yang telah di sulap menjadi ruangan yang begitu indah. Lampu-lampu kecil berkerlap-kerlip bergantungan acak. Bunga-bunga segar tujuh rupa dirangkai begitu serasi. Kemudian, kue ulang tahun atas nama Davin terpajang di atas meja bundar bertaplak putih.
"Woww, dekorasi yang sangat indah. Aku tidak memungkiri kalau selera Aelin sangat berkelas," gumam Syaila berbicara pada dirinya sendiri. Selain menunggu kedatangan Davin, ia juga menunggu pengirim pos untuk mengantarkan apa yang ia inginkan. Hal yang pasti akan membuat kebencian Davin berlimpah tumpah dari gelas kesabaran.
Malam ini, ia memakai dress mewah dan juga mahal. Berdandan dengan baik dan memastikan kalau penampilannya sempurna.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara derap langkah kaki terdengar begitu jelas di telinga Syaila. Ia menoleh ke arah pintu, dimana derap langkah kaki itu terdengar semakin mendekat. Itu pasti Davin, sepertinya pria itu pulang lebih cepat. Syaila memperbaiki tatanan rambut serta bajunya. Memasang senyum termanis untuk menyambut Davin.
"Hai, Dav. Selamat ulang tahun!" seru Syaila saat Davin memasuki ambang pintu. Ia menghambur memeluk tubuh Davin.
"Terimakasih," jawab Davin datar terkesan dingin. Ia mengurai pelukan Syaila. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang terlihat memukau, mencari sosok yang membuat ia berlari masuk ke dalam rumah.
Syaila merasa geram melihat Davin mencari Aelin. Sedetikpun dia tidak melihat ke arahnya. Padahal ia sudah bersiap dengan begitu baik.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Apa kamu ingin Aelin tahu kalau kamu bukan Livia?" sinis Davin menatap tajam pada Syaila. Sangat terlihat pancaran kekesalan dari kedua bola Davin.
"Apa kamu bisa menghargai usahaku, Dav? Lihat aku, aku sudah berdandan begitu cantik untukmu. Yah, aku tahu ini berisiko, tapi Aelin tidak ada di sini. Aku janji, kalau dia datang aku akan bersembunyi dan kembali ke kamar."
"Memangnya, Aelin di mana?"
"Entahlah, mungkin dia masih mempersiapkan kejutan untukmu. Dia begitu bahagia menyiapkan ini semua, lihatlah dekorasi ini adalah idenya." Syaila memejamkan matanya sebentar untuk menahan gejolak amarah yang terus terbakar. Ingin sekali rasanya, ia memelintir bibir sendiri karena terus mengucapkan kata-kata baik untuk Aelin. Namun, ia harus bersabar sampai pengirim foto itu datang. Setelah itu ia tidak perlu lagi bermain peran ganda.
Davin menatap setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh hiasan lampu, bunga, dan sebagainya. Hatinya tiba-tiba menghangat, dimana masalah yang sedang menumpuk di kepalanya sedikit berkurang. Aelin begitu niat untuk mempersiapkan kejutan untuknya. Ia berjalan mendekat ke arah kue, melihat coretan tulisan namanya sendiri yang terpampang. Senyum senang terlukis begitu ringan di bibir Davin. Sungguh, ia merasa menjadi orang yang paling bahagia malam ini. Ia berbalik menatap Syaila yang berdiri tak jauh darinya.
"Oh, aku hampir lupa. Aku punya hadiah untukmu," celetuk Syaila yang lansung meraih paperbag di atas meja nakas, lalu memberikannya pada Davin.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Bukalah, ini hadiah. Kalau aku memberitahumu itu tidak akan menjadi hadiah lagi."
Davin tersenyum seraya mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar dari paperbag. Ia menatap ke arah Syaila yang lansung mengangguk, memberikan isyarat untuk segera membuka kotak tersebut.
Senyum tipis terulas indah di wajah tampan Davin saat melihat kemeja berwarna hitam terlipat rapi. Tidak ia pungkiri, Syaila masih begitu ingat apa yang ia sukai.
"Ini sangat bagus," ucap Davin, cukup membuat kepercayaan diri Syaila mengembang.
"Aku sangat tahu apa yang kamu suka, atau tidak. Baju dengan warna gelap sangat cocok untukmu, Dav."
"Aku tahu, kamu memang tahu apa yang aku sukai."
"Itu wajar, istri mana yang tidak tahu apa yang disukai dan tidak oleh suaminya."
Senyum tipis di bibir Davin seketika luntur. Ada sesak dan rasa bersalah tiba-tiba masuk ke dalam hatinya. Ia terlalu jahat untuk membuat dua hidup wanita menjadi menderita. Balas dendam memang hal yang tidak baik. Akan tetapi, semua telah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.
"Kenapa, wajahmu sedih? Apa aku mengatakan hal yang salah?" Syaila mendekati Davin. Ia menatap lekat wajah Davin sehingga tatapan mereka saling bertaut.
Air mata yang tak diundang luruh dan jatuh begitu saja dari sudut mata Syaila. Gendang telinganya terasa bergetar setiap mendengar ungkapan cinta Davin untuk Aelin. Ungkapan cinta yang selama ini tertuju padanya kini telah menuju arah yang berbeda. Hati istri mana yang tidak terluka, mengetahui kalau suami sendiri tidak lagi mencintai dan menginginkan dirinya. Terasa seperti jutaan tombak tengah menusuk setiap sisi hatinya hingga tak ada lagi tempat yang tidak terluka.
"Aku tahu, kamu terluka mendengar kenyataan ini. Maafkan, aku Syai. Aku tidak bisa menghalangi cinta yang tumbuh di antara aku dan Aelin. Cinta yang dulu ku rasakan untukmu. Bukanlah cinta, tapi rasa sayang dan tanggung jawab atas janji yang aku berikan pada ibumu. Di sini aku yang salah, tanpa tahu apa yang terjadi pada kecelakaan itu aku balas dendam pada Aelin dan merenggut segala yang ia miliki. Mungkin, ini karma untukku," lanjut Davin melanjutkan ucapannya diiringi dengan senyum getir.
Srak.
Dua tangan lentik milik Syaila melingkar sempurna di pinggang Davin. Namun, ia tidak menolak atau menghentikan aksi Syaila. Ia mengerti bagaimana terlukanya wanita itu. Syaila juga masih tetap istrinya dan dia memiliki hak atas itu.
"Ini sangat menyakitkan, Dav. Rasa sakit atas kehilangan ibu dan keluarga sudah ku rasakan, tapi ini adalah rasa sakit yang paling sakit," lirih Syaila dengan suara tersendat.
"Maaf."
"Seorang istri mana yang bisa tahan mendengar ungkapan cinta untuk wanita lain dari mulut suaminya sendiri. Aku terluka, dan ini benar-benar menyakitkan."
__ADS_1
"Maaf." Hanya kata maaf yang kini bisa Davin ucapkan atas kesalahan yang sudah ia perbuat pada Syaila.
"Dulu, kamu begitu mencintaiku, tapi kini kamu adalah pria yang sama yang membuat aku sesakit ini. Katakan, apa yang tidak aku memiliki dan Aelin miliki sehingga kamu begitu mencintainya?"
Davin melepas pelukan tangan Syaila. Berbalik dan menatap wajah wanita di depannya yang kini telah sembab karena menangis.
"Kamu tidak memiliki kekurangan apapun. Hanya saja, hati tidak memilih kemana dia akan berlabuh."
"Tapi, kenapa bukan aku? Aku ini istrimu." Tangis Syaila semakin pecah dengan nafas memburu.
"Aku tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaanmu, Sya. Aku tidak memilih jatuh cinta pada Aelin, tapi aku juga tidak bisa menghindar kalau aku mencintai dia. Untuk itu, aku tidak bisa lagi membuat kalian terjebak dalam hubungan ini. Aku tidak bisa menjadi nakhoda dalam dua kapal laut."
"Maksudmu?"
"Dengar, Sya. Aku tidak ingin membuat kalian terluka. Kau berhak bahagia dalam hidup ini. Untuk itu, lebih baik kita bercerai dengan cara baik-baik. Jangan Khawatir, aku akan memberikan setengah hartaku sebagai harta gono-gini yang akan menjamin hidupmu aman tanpa kekurangan apapun."
Lidah Syaila terasa dipotong seketika, dengan kerongkongan yang tiba-tiba terasa panas. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya seakan kelu dan terkunci. Ia meremas dada kirinya yang terasa sangat sakit. Detakan jantung yang bisa ia rasakan terasa berhenti berdetak. Rasanya begitu sakit hingga paru-paru dalam rongga dada terasa tidak bekerja. Tangisan yang sempat keluar dengan begitu lancar, kini malah terhenti. Seolah-olah ada sesuatu yang menghambat.
Syaila berjalan mundur perlahan menjauh dari Davin yang hanya bisa menundukkan kepala dalam. Ia terus melangkah menjauh keluar dari ruangan yang begitu menyesakkan walau telah dihias dengan begitu indah. Ia tidak bisa bertahan dan terus mendengar kenyataan yang begitu pahit.
Detik berikutnya, Syaila berlari pergi menuju kamarnya. Menumpahkan rasa sakit yang begitu menyayat hati. Ia tidak peduli raungan tangisan yang mulai terdengar dari mulutnya. Ia juga tak peduli dengan tatapan semua mata pelayan yang tertuju ke arahnya. Semua ini sangat menyakitkan untuk ia terima.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
LIKE
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips