
...101💚...
Davin berusaha menduduk kan diri nya, di mana Aelin membantu sang suami.
"Sekarang buka mulut mu.. Kau harus makan dan aku akan menyuapi mu..!" Titah Davin mutlak tak ada bantahan sedikit pun.
Bahkan niat Aelin yang ingin menolak pun di urung kan, karna mendengar tekanan berat di setiap ucapan Davin.
Dengan perlahan, Davin mengangkat tangan nya dan menyuapi Aelin.
Aelin membuka mulut dan mulai memakan makanan yang di suapi Davin.
Perut nya langsung menjerit lapar, di mana cacing- cacing perut nya meronta karna sudah kelaparan.
Sungguh kemarin Aelin sama sekali tidak merasa lapar, tapi sekarang perut nya terasa panas dan minta di isi.
Mungkin efek karna diri nya yang terlalu mencemas kan Davin sehingga rasa lapar tak ia rasa kan.
Davin tersenyum, saat Aelin mulai mengunyah makanan yang ia suapi.
Perasaan senang langsung menyusup ke dalam hati Aelin.
Rasa nya ia merindu kan wajah lugu Aelin yang selalu menatap nya benci.
Rasa nya diri nya menemukan gurat kebahagian saat melihat wajah Aelin.
"Makan lah yang banyak... Aku tidak ingin kamu sakit..." Seru Davin dengan tersenyum manis, meski bibir hitam itu terlihat pucat namun tak mengurangi aura seksi nya.
"Biar aku menyuapi diri ku sendiri.. Om belum sehat.." Kini Aelin menyuarakan kecemasan nya.
Pasal nya ia masih bisa melihat tangan Davin yang sedikit bergetar.
"Apa kau tidak kasihan dengan diri ku.. Aku sehat kau membantah, lalu sekarang aku sakit kau juga membantah.. Dasar istri nakal...!" Davin memasang wajah cemberut.
Aelin tersenyum kecut melihat tingkah Davin, apa lagi wajah suami berumur nya yang cemberut.
Terlihat begitu gemas, tapi diri nya menyukai hal itu.
"Sekarang buka mulut mu.." Titah Davin lalu menjulur kan makanan ke bibir Aelin.
Aelin kembali membuka mulut nya , kali ini ia tidak bisa membantah.
Tapi jujur ia bahagia, Davin begitu memperhati kan diri nya. Meski pria itu sedang sakit tapi dia malah menyuapi nya.
Bukan kah ini terbalik seharus nya diri nya yang menyuapi Davin yang sakit, tapi diri nya yang malah di suapi.
Davin terus menyuapi Aelin dengan rasa senang yang membuncah, rasa senang yang belum pernah ia rasa kan dalam hidup nya.
Hingga sendok terakhir pun di lahap habis oleh Aelin.
"Pulang lah dulu, kamu terlihat sangat kacau..." Kata Davin sambil meletak kan bekas makanan di atas meja nakas di samping nya.
Mendengar perkataan Davin yang meminta nya untuk pulang dengan cepat Aelin menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau.. Aku mau di sini... Aku mau menemani mu..." Tolak Aelin dengan wajah memelas.
Sudut bibir Davin berkedut melihat sikap Aelin yang tidak ingin meninggal kan nya.
Davin merasa Aelin begitu sangat mengkhawatir kan diri nya, bahkan Davin dengar jika Aelin sampai tidak makan dua hari karna menunggu diri nya sadar.
Apa itu arti nya ia sudah berhasil memasuki tempat di hati gadis kecil itu.
Davin meraih tangan Aelin dan menggenggam nya erat.
"Aku sudah sadar , aku akan baik- baik saja.. Pulang lah.. Setidak nya beristirahat lah dulu. Kamu bisa membersih kan diri mu di rumah... Kamu bisa kembali nanti malam.. !" Perintah Davin mutlak meski dengan nada yang begitu lembut, namun bisa di rasa kan jika ia tidak ingin di bantah.
Aelin menghela nafas nya dalam. Lalu mengangguk kan kepala nya setuju.
"Darren antar Nona pulang...!" Kini Davin menatap ke arah Darren.
"Baik tuan..." Timpal Darren dengan hormat, lalu melenggang keluar dari kamar sang majikan.
Aelin beranjak dari duduk nya dengan lesu, sebenar nya ia tidak ingin pergi namun ia juga tidak mungkin bisa menolak perintah Davin.
Srapp...
Langkah Aelin terhenti saat merasa kan tangan nya di tarik.
Aelin bisa melihat tangan Davin yang mencegal pergelangan tangan nya.
Aelin mengalih kan pandangan nya pada wajah Davin.
"Kemari lah...!" Seru Davin menggerak kan tangan nya untuk memberi isyarat pada Aelin untuk mendekat.
Tangan Davin menarik tengkuk Aelin hingga wajah nya dan Aelin semakin dekat.
Cup..
Aelin memejam kan ke dua mata nya, saat merasa kan kecupan dalam yang mendarat di kening nya.
Deg.
Deg.
Deg...
Detak jantung nya yang semula stabil langsung memompa dengan sangat cepat, seperti sebuah genderang perang yang sedang di tabuh dengan cepat.
Detak jantung yang selalu ia rasa kan saat berada di sisi Davin belakangan hari ini.
Detak jantung yang selalu bekerja tidak normal , di mana ia begitu terbawa perasaan dengan setiap perlakuan manis Davin.
Sungguh membuat diri nya merasa menjadi sosok penting.
Davin mendorong tubuh Aelin yang masih melongo menjauh.
Di mana Aelin langsung menyentuh kening nya yang baru saja di kecup oleh Davin.
__ADS_1
"Apa kali ini kamu tidak akan memukul ku karna mencium mu dengan paksa...?" Seringgai terbit di bibir Davin.
Ke dua pipi Aelin langsung bersemu merah, bak kepiting rebus yang di rebus jutaan abad lama nya.
Bahkan Aelin bisa merasa kan wajah nya yang memanas karna malu.
"Sekarang pulang lah..!" Davin tersenyum gemas melihat wajah Aelin yang memerah.
Sungguh sangat manis dan lugu.
Aelin langsung memutar tubuh nya. Rasa nya saat ini ia akan meledak.
Tanpa sadar bibir nya tersenyum lebar di mana hati nya terasa berbunga - bunga.
Tidak ingin membuang waktu dengan terus berada dalam ruangan yang membuat diri nya rasa nya ingin meledak karna malu.
Aelin berlari keluar dari ruangan Davin. Sungguh ia sama sekali tidak bisa mendeskribsi kan rasa yang sedang ia rasa nya.
Sementara Davin yang melihat Aelin berlari dengan cepat keluar dari ruangan nya, tertawa ringan.
"Ternyata dia sangat lucu.. Hanya di cium kening nya saja ia langsung kabur pergi , bagaimana jika aku mencicipi bibir nya. Aku yakin dia pasti akan sangat malu.. Polos sekali..." Gumam Davin yang masih menatap pintu di mana Aelin keluar.
Rasa nya senang sekali melihat wajah malu- malu Aelin.
Namun satu hal yang masih membuat nya bingung.
Aelin sama sekali tidak marah atau mengamuk seperti banteng terluka saat ia mencium kening gadis itu.
Lalu Davin tidak melihat sorot kebencian dan kemarahan di kedua manik mata indah Aelin.
Lalu perasaan aneh yang muncul di hati nya. Di mana ia merasa bahagia berada di dekat Aelin.
Perasaan yang entah sejak kapan muncul di hati nya.
Bahkan ia pun tak tahu.
"Rasa apa yang ku rasa kan pada nya?" Davin menekan dada kiri nya di mana jantung nya berdetak dengan kecepatan tidak normal.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙