Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Jangan sampai Davin tahu


__ADS_3

...124💚...


Aelin terlihat meringkuk di atas kasur kamar nya.


Di mana kepala nya di tenggelam kan di antara ke dua lutut nya.


Masih terdengar samar- samar isakan tangis nya.


Aelin semakin mengerat kan pelukan ke dua tangan nya pada tubuh nya.


Murahan...


Kotor...


Wanita ******...


Ucapan- ucapan pahit dan pedas dari mulut Nyonya Tissa masih terdengar begitu jelas di daun telinga Aelin.


Rasa nya hati nya di remas dengan begitu kuat, di mana dada nya benar- benar merasa sesak.


Seakan sebuah bongkahan batu besar sedang menindih dada nya hingga menghimpit saluran pernafasan nya.


Kata- kata Nyonya Tissa lagi- lagi mengingat kan luka yang dengan susah payah ia tutupi.


Sematan panggilan yang begitu rendah tersemat dengan begitu indah di nama nya.


Sebenar nya di mana letak kesalahan nya?


Bahkan jika waktu bisa di ulang kembali ia tidak ingin semua kejadian menyakit kan itu terjadi pada nya.


Diri nya hanya korban dari kejahatan orang lain.


Namun kenapa hanya diri nya yang di vonis dengan sangat kejam.


Seakan semua hal tersebut adalah kesalahan diri nya sendiri.


Semua orang menutup mata dan telinga untuk melihat sebuah kebenaran yang membuat diri nya berada di situasi yang sangat menyakit kan ini.


Apa mungkin mereka mengira jika diri nya adalah gadis yang kuat?


Walau di serbu oleh hinaan dan cacian yang menyakit kan diri nya hanya diam dan memasang wajah tersenyum.


Tidak..


Diri nya sama sekali tidak sekuat itu.


"Kenapa harus sebutan itu lagi yang ku dengar.. Apa serendah itu diri ku di mata semua orang... Hiks.. Jika aku bisa memilih aku bahkan tidak ingin ada di situasi ini.. Aku sudah berusaha membuka hati dan menerima takdir,, Namun seperti nya itu semua tidak akan pernah terlihat oleh Mama... Hiks... Hiks..." Gumam Aelin di mana suara nya bergetar karna menahan isakan tangis.


Hidup nya yang selama ini bertabur dengan tawa dan kebahagian kini berubah seutuh nya. Di mana hanya tangisan dan derita yang ia rasa kan.

__ADS_1


Maya yang sejak tadi berdiri di balik pintu kamar Aelin yang terbuka sedikit benar- benar merasa kasihan.


Ia sengaja tidak masuk ke dalam kamar dan tetap berdiri di luar. Ia mendengar semua keluhan derita dan rasa sakit Aelin. Seorang gadis yatim yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, yang di hancur kan dengan merenggut kehormatan yang begitu di jaga nya. Lalu di banting lagi dengan kepergian sang ayah yang juga sudah di rencana kan kematian nya.


Wanita yang benar- benar malang.


Maya melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam kamar Aelin. Mendorong daun pintu untuk memberikan diri nya jalan.


Aelin yang menyadari kehadiran Maya segera menghapus air mata nya.


Menelan rasa sakit dan memendam nya sendiri.


Meski pun ia lemah, ia tidak akan mau memperlihat kan kelemahan dan sisi rapuh nya meski itu pada Maya sekali pun.


Aelin berusaha memaksa kan ekspresi wajah nya agar terlihat baik- baik saja.


"Maya...!" Lirih Aelin menatap Maya yang semakin mendekat ke arah nya dengan membawa kotak P3K.


"Nona.. Aku akan mengobati luka mu..." Seru Maya lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Aelin.


"Jangan duduk di sana.. Duduk lah di sini.. Kamu tidak akan bisa mengobati ku jika duduk di lantai..." Sahut Aelin dengan menepuk kasur di sebelah nya.


Bagi nya Maya sudah ia anggap teman, meski hubungan mereka tidak sedekat itu.


Sesuai dengan permintaan Aelin, Maya bangun dan duduk di samping Aelin.


Nyonya Tissa benar- benar menyiksa Aelin, batin Maya di mana tangan nya mengobati luka Aelin dengan hati- hati.


"Nona.. Kenapa anda diam saja saat Nyonya besar menyiksa anda sampai seperti ini?" Pertanyaan Maya melebur kan keheningan di antara mereka.


"Ini bukan apa- apa Maya.. Aku yang salah karna berlarian di dalam rumah sampai menabrak mama... Jadi wajar jika mama marah pada ku..." Jawab Aelin dengan lembut, di mana sudut bibir nya terangkat.


"Astaga Nona.. Mengapa ada orang senaif diri mu... Setelah di siksa sampai terluka kamu masih membela Nyonya Tissa... Andai kamu tahu jika dia hanya mertua palsu yang di sewa untuk mu... Mungkin kamu akan melawan..." Batin Maya.


Aelin yang melihat Maya melamun langsung menepuk bahu pelayan pribadi nya itu.


"May...!" Tegur Aelin yang langsung membuat Maya tersentak.


"Ada apa kok kamu ngelamun?" Tanya Aelin lagi kini menatap wajah Maya dengan lekat.


"Ahh tidak nona.. Saya baik- baik saja..." Jawab Maya dengan sedikit tersendat- sendat.


Aelin meraih tangan Maya dan menumpuk nya pada ke dua tangan nya.


Apa yang di lakukan Aelin membuat Maya mengerut kan dahi nya.


"May.. Berjanji lah pada ku jika kejadian ini tidak akan di ketahui oleh om Davin... Aku ingin kamu mencegah semua pelayan yang mengetahui ini untuk tutup mulut..." Pinta Aelin dengan memasang wajah memelas.


Sementara Maya terdiam mendengat permintaan Aelin yang bagi nya sangat mustahil.

__ADS_1


Ia tidak bisa menyembunyi kan hal sebesar ini dari Davin.


Sedang kan tugas nya di sini untuk melayani dan mengawasi Aelin lalu memberikan laporan pada Davin.


"Maya... Berjanjilah pada ku...!" Renggek Aelin kini memasang puppy eyes.


Maya segera menarik tangan nya dengan cepat.


"Tidak Nona... Saya tidak bisa berjanji karna ini di luar kuasa saya... Tuan Davin harus tahu perbuatan Nyonya Tissa...--"


"Tidak... Tidak Maya om Davin tidak boleh tahu..." Sosor Aelin memotong ucapan Maya.


"Kalau sampai om Davin tahu pasti mereka akan bertengkar.. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi... Ibu dan anak tidak boleh bertengkar Maya. Lagi pula aku baik- baik saja.." Aelin menjelas kan apa yang ia pikir kan.


Demi apa pun ia tidak ingin anak dan ibu itu sampai bertengkar gara- gara diri nya.


Maya menghembus kan nafas nya. Ia tidak mengira jika Aelin berpikir seperti itu.


Mungkin jika wanita lain yang ada di posisi Aelin. Pasti wanita itu akan mengadu pada suami nya.


"Kamu juga tahu kan Maya jika aku ingin mama menerima ku sebagai menantu.. Mungkin saat ini hal itu tidak terjadi.. Tapi aku akan berusaha...." Lanjut Aelin mencerita kan keinginan nya pada Maya.


Keinginan yang begitu sederhana.


"Baik lah aku akan mandi dulu... Terimakasih sudah mengobati luka ku Maya..." Aelin memeluk tubuh Maya dengan hangat.


Pelukan yang selalau mampu memhuat sudut bibir Maya terangkat untuk tersenyum.


"Tapi nona.. Jika ada apa- apa.. Atau Nyonya besar menyakiti mu lagi.. Cepat lah panggil aku..." Ucap Maya yang entah mengapa peduli pada Aelin.


"Oke..."


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2