
...62🌱...
Aelin dan Davin berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit.
Tidak ada pembicaraan atau pun obrolan antara ke dua nya.
Mereka layak nya dua orang asing yang berjalan beriringan.
Di mana ke dua hanyut dalam pikiran nya sendiri.
Aelin sibuk dengan pikiran nya, yang sedang menimbang- nimbang permintaan ayah nya.
Yang rasa nya tidak mungkin untuk ia tolak.
Sementara Davin hanyut dengan pikiran nya yang benar- benar tidak menyangka jika Antoni sangat dekat dengan Aelin.
Bahkan Aelin memeluk Antonio dengan hangat, sementara diri nya hanya kebagian sikap kasar Aelin yang sudah segarang kucing baru melahir kan.
Padahal dari segi apa pun, ia jauh lebih semua nya dari Antonio.
Lebih tampan.
Lebih kaya.
Lalu kenapa Aelin bersikap begitu manis pada adik ipar nya itu ?
Seharus nya Aelin bersyukur pernah berbagi ranjang dengan nya, bahkan banyak sekali wanita yang bersedia melempar kan diri mereka ke atas ranjang Davin dengan sukarela.
Karna sibuk dengan pikiran masing- masing, tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di parkiran.
Sang pengawal langsung membuka kan pintu penumpang untuk Aelin.
Aelin langsung masuk ke dalam mobil, seperti nya memang benar ia membutuh istirahat.
Perjalanan yang cukup jauh, di iringi ketegangan dengan drama penusukan membuat kepala Aelin pening dan penat.
Tok..
Tok..
Tok..
Aelin menoleh saat pintu kaca mobil di dekat nya di ketuk, di mana sang pelaku adalah Davin.
Aelin menurun kan kaca mobil, menampilkan wajah Davin.
"Ada apa?" Tanya Aelin.
"Aku harus ke toilet sebentar.. Kau tidak apa kan jika menunggu sebentar saja..." Ujar Davin dengan wajah sedikit memelas, yang langsung mendapat anggukan dari Aelin.
Davin langsung menangkup wajah Aelin dan menarik nya mendekat ke wajah nya. Mencium sekilas kening Aelin dengan kedipan mata jahil. Sebelum ia berlari menjauh.
Aelin menatap punggung Davin yang menghilang di balik tembok rumah sakit. Di mana ke dua pipi nya memerah, semerah buah strawbery.
__ADS_1
"Dasar mesum.. Dia selalu saja mencium ku paksa..." Dumel Aelin dengan wajah tersipu malu, sementara tangan nya mengusap kening nya.
Davin terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, di mana ke dua tangan nya merapikan jas mahal yang membaluti tubuh kekar nya.
Wajah Davin menegas dengan tatapan tajam dan menyeram kan tersirat di ke dua mata nya.
Antonio yang sedang duduk termenung, sedikit terusik dengan suara langkah seseorang yang mendekat ke arah nya.
Antonio mengangkat wajah nya, di mana netra nya menangkap kehadiran Davin yang berjalan mendekat ke arah nya.
Antonio mengerjit, menaut kan ke dua alis nya dengan Davin yang kembali.
Apa ada sesuatu yang di lupa kan Davin, hingga membuat pria itu kembali?
Pikir Antonio yang langsung memasang wajah tak bersahabat saat Davin sudah sampai di depan nya.
"Kenapa kau kembali?" Tanya Antonio dengan nada menyelidik.
"Bagaimana bisa aku pergi tanpa menyelesai kan tugas ku..." Jawab Davin dengan seringgai devil yang terbentuk di wajah nya.
Antonio semakin bingung dengan maksud Davin, bahkan kini Antonio bisa melihat kilatan kebencian bak iblis yang menguar dari tubuh Davin.
Perasaan nya sungguh tidak enak, melihat sikap Davin yang cukup membuat nya merinding ngeri.
"Maksud mu apa Davin..?" Tanya Antonio bingung, sembari tangan nya menahan bahu Davin.
Davin menatap lekat ke arah pintu kamar inap Mr. Arkelin.
Lalu melangkah melewati Antonio yang masih menatap nya dengan penuh curiga.
Sementara Davin sama sekali tidak peduli dengan tatapan Antonio.
Karna kini sudah saat nya ia melakukan rencana nya.
Davin memutar knok pintu kamar inap Mr. Arkelin, melangkah kan kaki panjang nya masuk ke dalam ruangan itu, lalu menutup nya kembali. Bahkan Davin mengunci pintu tersebut.
Mr. Arkelin yang masih tersadar, cukup terhenyak mendengar seseorang masuk ke dalam kamar nya.
Ia mengira itu adalah Aelin, namun ternyata Davin menantu nya yang kini datang untuk menjenguk nya.
Mr. Arkelin tersenyum kecut saat melihat Davin berjalan mendekat ke arah nya.
Otak nya berpikir dengan keras, untuk mencari kata- kata yang tepat untuk menyampai kan musibah yang menghangus kan seluruh kilang minyak yang ada di bawah kendali nya.
Diri nya belum siap untuk berhadapan langsung dengan bos nya, meski kini Davin telah menjadi menantu nya.
Tapi tetap saja masalah pekerjaan dan masalah keluarga itu berbeda.
Bahkan kini rasa nya atmosfer di sekitar nya menjadi berat, saat melihat tatapan misterius Davin.
"Tuan Davin..." Lirih Mr. Arkelin dengan suara berat nya, berusaha untuk menduduk kan diri nya namun Davin segera menahan nya.
"Tetap lah di posisi mu... Karna itu akan sangat nyaman saat kita berbicara..." Sanggah Davin dengan wajah devil nya, yang sedikit membuat Mr. Arkelin mengerut kan dahi.
__ADS_1
Apa Davin ingin membicara kan tentang masalah kilang yang terbakar ?
Pikir Mr. Arkelin menyiap kan diri untuk menerima keputusan yang akan Davin pilih untuk nya.
"Tuan Davin terimakasih untuk pengertian nya... Maaf jika diri mu harus repot- repot datang kemari untuk mengantar Aelin... Aku juga ingin membahas tentang kilang yang terbakar..." Ujar Mr. Arkelin memaksa kan nafas nya yang terasa begitu berat, bahkan ia merasa tercekik saat berbicara.
"Hmmm Kata kan..." Balas Davin menunggu penjelasan dari sang mertua.
"Maaf kan keteledoran saya Tuan, kilang minyak yang berada di bawah kendali saya habis terbakar... Sebelum nya ini tidak pernah terjadi.. Tapi sungguh kali ini di luar dugaan.. Saya akan mengganti semua kerugian Tuan, dan akan menyelidiki sebenar nya apa yang terjadi, sehingga membuat kilang tersebut terbakar.. Saya hanya meminta waktu untuk memulih kan kesehatan saya dan saya akan bertanggung jawab dengan sepenuh nya." Jelas Mr. Arkelin panjang kali lebar.
Berharap Davin mengerti dan memberi kan diri nya sedikit waktu untuk memulih kan kondisi nya.
Nafas Mr. Arkelin terlihat semakin berat, usai mengata kan kalimat panjang tersebut.
Davin tersenyum miring.
"Kau tidak perlu bersusah payah untuk mengganti rugi atau pun mencari penyebab kebakaran..." Kata Davin dengan seringgai nya, yang membuat Mr. Arkelin bingung tujuh keliling.
"Maksud anda tuan?" Tanya Mr. Arkelin dengan nafas yang di paksa kan.
"Untuk apa mencari tahu penyebab kebakaran jika aku sendiri yang menyebab kan hal itu..."
Duar...
Blar...
Tubuh Mr. Arkelin rasa nya langsung di sambar petir di siang bolong, mendengar ucapan sang menantu yang langsung menarik pegas jantung nya untuk bekerja di luar batas normal.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1