
...152π...
Suara gemericik air sedikit mengganggu tidur pulas Aelin, hingga dengan perlahan ke dua kelopak mata indah nya mulai terbuka dengan perlahan.
Aelin mengerjap kan ke dua mata nya beberapa kali, lalu menatap ke arah kamar mandi sebelum senyum lega terulas di bibir nya.
Pintu kamar mandi yang di pandangi Aelin tiba- tiba terbuka, lalu tampak sosok pria tampan dengan handuk melilit di pinggang nya.
"Kamu sudah bangun..?" Suara bass yang begitu merdu menyapa gendang telinga Aelin, yang semakin membuat senyum di bibir Aelin mengembang dengan sempurna.
"Bukan kah aku yang harus bertanya.." Balas Aelin dengan menelisik ke arah Davin yang sedang berjalan menuju meja rias.
Sungguh pemandangan yang begitu indah, yang selalu membuat Aelin candu untuk terus melihat pemandangan yang selalu memanjakan ke dua mata nya. Bagaimana tidak, jika di sajikan pemandangan pria tampan dengan tampilan setengah polos. Di mana otot perut seperti roti sobek yang pasti membuat semua air liur para wanita meleleh.
Namun kening Aelin langsung mengerut, saat ke dua tatapan nya terganggu dengan tanda merah yang ada di leher suami nya. Tanda merah seperti kissmark.
Merasa terus di perhatikan, Davin sedikit gugup dan salah tingkah. Berharap jika Aelin tidak curiga, apa lagi ia baru pulang pagi buta tadi, meninggal kan Syaila yang masih tertidur pulas karna lelah dengan permainan panas ke dua nya.
Namun sungguh jauh di lubuk hati Davin, ia benar- benar merasa menyesal atas apa yang sudah terjadi antara diri nya dan Syaila.
Setelah selesai memakai kemeja, Davin berbalik menatap ke arah wanita yang begitu di cintai nya, yang masih menatap nya dengan mata sayu khas bangun tidur.
Davin melangkah mendekat ke arah meja lebar yang ada di dalam kamar nya, lalu meraih nampan berisi sarapan pagi.
"Lihat aku sudah membuat kan sarapan untuk mu sayang.." Seru Davin dengan senyum maut nya, lalu duduk tepat di depan Aelin.
Sementara hati nya saat ini penuh dengan rasa bersalah.
"Tumben sekali kamu membuat kan sarapan seperti ini.. Terakhir kali kamu membuat sarapan untuk ku saat aku sakit..." Balas Aelin dengan perasaan bingung namun bahagia di saat yang bersamaan.
Glekk...
Davin menelan saliva nya paksa, mendengar ucapan Aelin.
"Ahhh... Bukan nya hari ini kamu akan ada ujian kelulusan. Jadi aku berinisiatif untuk membuat kan sarapan untuk istri kecil ku.. Agar dia semakin semangat.." Kilah Davin menekan kegugupan di dalam diri nya.
Aelin mengangguk kan kepala nya, bukan kah suami nya sangat romantis?.
"Tapi sayang.. Kenapa leher mu merah seperti itu?" Tanya Aelin dengan mengangkat tangan nya hendak menyentuh leher Davin.
__ADS_1
Plak...
Namun belum sempat tangan Aelin menyentuh leher Davin, Davin malah menepis tangan Aelin.
Davin merapikan kerah baju nya. Bagaimana ia bisa lupa jika Syaila membuat beberapa tanda kepemilikan di leher nya.
"Sial, Aelin melihat nya.. Dasar bodoh kenapa aku seceroboh ini..." Rutuk Davin mengumpat kebodohan nya sendiri.
Tapi tidak, ia tidak boleh terlihat gugup atau salah tingkah di hadapan Aelin. Jika tidak pasti Aelin akan curiga pada nya.
"Ohh ini.. Ini kemarin malam aku di gigit nyamuk, jadi karna gatal aku menggaruk nya hingga membekas." Bohong Davin tanpa dosa.
"Lalu kamu pulang jam berapa sayang?... Kamu tahu aku sangat khawatir, kamu pergi begitu saja.. Setidak nya jika kamu memiliki pekerjaan kantor yang penting, kata kan pada ku... Aku tidak ingin kehilangan mu, hanya kamu satu- satu nya tempat ku pulang..." Aelin meraih tangan Davin dan menggengam nya dengan erat, seolah Davin akan pergi jauh dari nya.
Slash...
Dengan satu kali tarikan, Davin merengkuh tubuh mungil Aelin. Mendekap dengan begitu erat.
Diri nya benar- benar merasa bersalah, ia sudah membuat Aelin begitu bergantung pada diri nya dan kini ia harus melepas kan dan menyakiti Aelin.
Jujur semua ini sangat menyakiti hati nya. Namun ia sama sekali tidak berdaya, ia tidak bisa memutus kan antara amanah dari mendiang ibu Syaila, atau wanita yang sangat di cintai nya.
"Maaf.. " Satu kata penuh penyesalan meluncur dari bibir Davin tanpa ia sadari.
Hal itu tentu saja membuat Aelin semakin bingung dengan tingkah Davin.
"Maaf?" Ulang Aelin dengan bertanya. Rasa nya aneh, tiba- tiba Davin meminta maaf pada nya padahal tidak ada kesalahan yang di lakukan pria itu.
Sadar akan ucapan nya yang salah, Davin mengurai pelukan nya dan segera berdiri.
"Segera lah bersiap, aku akan mengantar mu ke sekolah..." Ucap Davin dengan tegas lalu melenggang pergi meninggal kan Aelin yang masih menatap nya dengan bingung.
"Maaf? tapi untuk apa?" Gumam Aelin yang masih penasaran, namun segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap , di mana kini tubuh Aelin sudah di balut dengan seragam sekolah, ia segera beranjak keluar dari kamar. Menyusuri lorong- lorong lalu menuruni tangga hingga ia melihat ke arah meja makan super mewah di mana sang ibu mertua sedang sarapan dengan santai.
Namun wajah Nyonya Tissa langsung berubah pias, saat melihat kedatangan Aelin.
Kehadiran Aelin di sekitar nya, benar- benar mampu menghancur kan mood baik nya.
Ia benar- benar sangat benci dengan wanita dengan wajah lagu itu, andai saja ia tidak terikat kerja dengan Davin, pasti sudah dari dulu ia membuat Aelin meregang nyawa.
"Pagi ma.." Sapa Aelin dengan senyum terbaik yang ia miliki.
"Hmm..." Dehem Nyonya Tissa tanpa menoleh ke arah Aelin.
Bukan nya malah mendapat kan jawaban hangat dari sang ibu mertua, malah ia harus mengelus dada karna mendapat sikap dingin dari Nyonya Tissa.
Tidak ingin memulai perdebatan, Aelin memilih untuk pergi dari hadapan Nyonya Tissa. Sebelum mulut pedas cap bon cabe level seratus milik Nyonya Tissa bergerak.
Namun baru beberapa langkah, kaki Aelin harus berhenti karna Suara Nyonya Tissa.
"Semoga kamu bisa lulus.." Seru Nyonya Tissa dengan dingin , namun mampu membuat hati Aelin menghangat.
Demi apa pun ia tidak menyangka jika ibu mertua yang begitu membenci nya kini mengucap kan kata- kata itu.
Apa itu arti nya ia sudah berhasil meluluh kan hati Nyonya Tissa?
"Karna sebentar lagi kamu akan di tendang oleh Davin dari rumah ini. Setidak nya ketika kamu sudah lulus kamu bisa mencari pekerjaan. Meski hanya pendidikan tingkat rendah. Mungkin seperti Office Girl atau mungkin seorang pelayan kafe atau toko. Tapi bukan kah itu adalah pekerjaan yang pantas untuk wanita rendah seperti mu." Lanjut Nyonya Tissa sinis.
Deg..
...----------------...
...****************...
Wadidau... Author comeback setelah beberapa hari tidak UP.
Heheπππ Maaf ya sudah menggantung kalian..
Yah, tapi begitu lah Author kemarin lagi butuh hiburan dan me time karna sedikit lelah..
Eittss.. Tapi sekarang Author udah balik jadi tenang tetep UP donk. Asal vote like komen dan gift nya di lancarin biar othor makin semangat.
__ADS_1
Ya udah chusssss baca cerita om aki- aki yang mulai nerima karma nya.