
...186...
Tak!
Tak!
Tak!
Aelin cukup terkejut, saat mendengar suara kaca jendela kamarnya yang dilempar kerikil. Aelin menautkan alisnya lalu turun dari ranjang.
"Ck, siapa yang melempar kaca jendela kamarku?" gumam Aelin dengan perasaan kesal.
Aelin berjalan mendekat ke arah jendela besar yang menghubungkan dirinya dengan balkon kamar. Ia membuka kaca besar tersebut. Seketika mulut Aelin terbuka lebar dengan ke dua mata membulat sempurna saat melihat kumpulan balon dengan tulisan 'Aku minta maaf, tolong buka pintunya', melayang di depan balkon kamarnya.
Aelin segera keluar dan menoleh ke bawah. Dimana ia melihat Davin tengah menatapnya dengan wajah memohon.
Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung memiliki dirimu, hidup kita akan bertambah bahagia saat bayi kecil lahir di rumah ini. Batin Aelin dengan tatapan berkaca-kaca sembari mengelus lembut perutnya.
"Apa kamu akan membiarkanku mati berdiri di sini?" teriak Davin dengan mengerucutkan bibirnya.
Aelin terkekeh melihat tingkah Davin. Ia sudah membuat Davin merasa kesusahan karena sifat keras kepalanya. Davin harus melakukan hal seperti ini untuk membuat dirinya mau membuka pintu.
__ADS_1
"Naiklah, aku akan membuka pintu untukmu!" timpal Aelin dengan nada setengah berteriak.
Davin tersenyum lebar mendengar Aelin yang kini sudah mau membuka pintu dan mau menemui dirinya. Ternyata usahanya tidak sia-sia dan membuahkan hasil sesuai dengan ekpektasi.
Davin merasa begitu lega, saat melihat senyum Aelin. Rasanya ia mendapatkan separuh hidupnya kembali. Entah sejak kapan ia mulai hidup dengan senyum indah Aelin yang sudah menawan dirinya begitu erat.
Tidak ingin membuang waktu, Davin segera mengambil sebuah tangga yang sudah sengaja ia siapkan. Lalu meletakkannya tepat di bawah balkon. Ia segera menaiki tangga tersebut untuk segera mencapai Aelin. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan kembali masuk ke dalam dan masuk melalui pintu.
Aelin membuka mulutnya dengan lebar, melihat semua yang dilakukan oleh Davin.
"Dav, apa yang kamu lakukan?" ujar Aelin sedikit panik dan khawatir melihat Davin yang begitu nekat masuk ke kamarnya melalui balkon.
Davin mendongakkan kepalanya, menatap Aelin dengan ke dua alisnya yang bertaut.
Aelin membalas pelukan Davin tak kalah erat. Davin berhasil membuat jantungnya bekerja dua kali lipat karna takut jika pria itu sampai terjatuh.
"Jangan ulangi lagi, aku takut kamu jatuh," lirih Aelin dengan suara manja terkesan khawatir.
"Meski aku jatuh, aku tidak akan mati. Mungkin hanya akan patah tulang sedikit," ujar Davin dengan kekehan.
Tidak senang dengan apa yang dikatakan Davin, Aelin mencubit kecil pinggang Davin. Sehingga pria itu meringgis.
__ADS_1
"Auuu, Ae kenapa kamu mencubitku?" Protes Davin dengan mengurai pelukannya.
"Itu hukuman karena kamu berani masuk lewat balkon. Kamu pikir kamu Superman yang bisa terbang? Hah," kesal Aelin karena Davin malah tertawa di saat dirinya mengkhawatirkan pria itu.
Tawa Davin semakin pecah, melihat wajah Aelin yang kesal dengan bibir dimanyunkan ke depan. Sungguh terlihat begitu menggemaskan.
"Baiklah, aku tidak akan masuk melalui balkon, tapi aku terlihat keren bukan?" goda Davin dengan mencolek dagu Aelin nakal.
"Tidak sama sekali," balas Aelin singkat, lalu segera masuk ke dalam kamar dengan bibir menahan senyumnya. Ia tidak akan pernah bisa lari dari pesona Davin yang selalu berhasil memikat dirinya.
...----------------...
...****************...
Mau donk bang Davin.. Nih othor buka jendela lebar3 buat kamu. yok masuk yuk🤣🤣🤣
jangan lupa
like
koment
__ADS_1
gift
vote