Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aku hanya butuh Aelin


__ADS_3

...201...


Syaila memberhentikan mobil yang ia dan Aelin tumpangi di sebuah hotel berbintang. Sebelum turun dan menemui Arjun. Ia membuka samaranya sebagai Livia. Samaran yang membuat ia kesusahan dan merasa gerah. Memainkan peran ganda sungguh sangat melelahkan. Akan tetapi, ini ia lakukan semata-mata untuk hidup berdampingan dengan Davin tanpa Aelin mengetahui siapa ia sebenarnya. Ia menatap lurus pada Aelin yang terlelap setelah meminum air yang sudah ia campur dengan obat tidur.


"Nasibmu memang sangat buruk Aelin. Kamu menjadi mainan balas dendam Davin padahal kamu sama sekali tidak bersalah. Seharusnya, saat itu kamu sama sekali tidak mengusik diriku dan membuat aku jatuh koma begitu saja, bahkan kamu juga mengambil cinta suamiku." Syaila menarik nafas panjang, menghentikan perkataannya sejenak untuk menghirup udara yang terasa kosong dalam organ paru-paru. Ia mencengkram stir mobil dengan kuat. Tatapan matanya menyorot kebencian pada wanita yang terbaring tak sadarkan diri.


"Tidak ada yang bisa mengambil Davin dariku, termasuk dirimu. Kamu yang menjadi kayu bakar dalam kisah kami akan terbakar habis dalam api kebencianku," lanjut Syaila, lalu segera turun dari mobil. Ia merogoh ponselnya untuk memberitahu Arjun kalau mereka sudah sampai.


Hanya menunggu waktu lima menit. Pria tampan dengan senyum mengembang keluar dari dalam hotel. Arjun segera berlari ke arah Syaila yang berdiri di depan mobil.


"Akhirnya kamu datang juga," ujar Arjun melihat ke dalam mobil, dimana Aelin masih setia tidur.


"Aku sudah bilang, aku ingin mengakhiri semua ini. Sekarang bawa dia, kamu bisa menikmati tunanganmu. Jangan lupa untuk mengirim foto ke rumah kami malam ini. Aku pastikan, Aelin tidak akan bangun kecuali esok hari."


"Aku sedikit tidak yakin dengan suamimu itu, kalau dia tahu aku bersama Aelin maka dia akan memukuliku lagi." Raut wajah Arjun sedikit takut, tentu saja ia tidak akan pernah lupa bagaimana Davin memukul wajahnya dengan sangat keras.


"Ha ... ha ..., Davin tidak akan melakukan itu, aku yang akan mengurus suamiku. Aku hanya minta jangan sampai Aelin kembali ke rumahku malam ini. Aku tidak ingin dia menghancurkan kejutan ulang tahun suamiku," kekeh Syaila. Kemudian membuka pintu mobil. Arjun segera meraih tubuh Aelin masuk ke dalam gendongannya.


"Selamat bersenang-senang," ucap Syaila, lalu masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.


Arjun memandang intens wajah cantik Aelin layaknya seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. Bulu mata yang lentik dengan pahatan indah dari tangan tuhan membuat ia begitu terpana dan terpesona. Ia melangkahkan kakinya memasuki hotel tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari wajah wanita yang begitu ia puja dan rindukan. Bagaimana bisa dulu, ia menyia-nyiakan Aelin dan tidak membalas perasaan wanita itu. Akan tetapi, semua itu telah berubah. Ia menyadari bahwa kini di hati dan pikirannya adalah Aelin. Ia tidak peduli kalau wanita dalam gendongannya ini telah menikah. Menurutnya semua adil dalam perang dan cinta. Ia mencintai Aelin, maka ia harus mendapatkan cintanya.

__ADS_1


Arjun membuka pintu kamar hotel yang sudah ia pesan. Perlahan, ia meletakkan tubuh tak berdaya Aelin di atas kasur yang begitu empuk dan nyaman. Ia mengusap lembut pipi, hidung, serta bibir ranum Aelin yang begitu menggoda.


"Sangat cantik. Kamu terlihat seperti boneka tidur yang sangat cantik. Maaf, dulu aku tidak menyadari cintamu, tapi sekarang aku di sini. Arjunmu ada di sini, Ae," lirih Arjun dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Aelin. Menempelkan bibirnya pada pipi Aelin, menekan dan mencium pipi yang cukup berisi itu. Sungguh sangat kenyal dan manis. Arjun tersenyum bahagia, malam ini ia akan membuat Aelin menjadi miliknya, hanya miliknya.


...----------------...


Davin tengah duduk di sofa ruangan kantornya dengan tangan memijit pelipis. Tingkah Antonio semakin menjadi-jadi. Adik iparnya itu benar-benar semakin memojokkan dirinya. Entah apa yang ia lewati hingga Antonio masuk begitu jauh dalam bisnis yang ia bangun. Setengah aset yang ia dapatkan dengan jerih payah sendiri, kini diambil alih oleh pria yang usianya jauh lebih muda. Belum lagi, permasalahan hidup yang terus menerus membanting dirinya dengan sangat keras. Kehadiran Syaila dalam biduk rumah tangga bahagianya bersama Aelin sungguh menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Aelin adalah cintanya, tapi terlepas dari Syaila bukan juga perkara mudah.


"Woi, ngelamun terus!" teriak Darren yang berhasil membuat Davin terlonjak kaget. Darren yang melihat hal itu tertawa renyah.


"Kau bisa ketuk pintu dulu," sarkas Davin bangkit dan duduk di kursi kerjanya.


"Sorry, Bro. Kau yang terlalu sering melamun bahkan tidak mendengar suara langkah kakiku."


"Ck, dasar kulkas. Seharusnya hari ini kamu merasa senang karena malam ini adalah hari ulang tahunmu. Aelin juga sudah membuatkan kejutan, kan. Apalagi yang membuatmu melamun."


"Aku terjebak sekarang, hhhh." Davin menyenderkan tubuhnya, lalu menghembuskan nafas panjang. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataan berikutnya.


"Antonio benar-benar ingin menghancurkanku, Darr. Sedikit demi sedikit dia mencoba membuatku menjadi gelandagan. Pengaruhnya memang sangat kuat," ucap Davin mengeluarkan keresahan dalam dirinya.


"Tapi kau juga bukan orang bodoh, Dav. Kau lebih mengenal bisnismu daripada Antonio. Kita tahu dia ingin menghancurkanmu karena kamu telah menikahi Aelin."

__ADS_1


"Itu, sebenarnya apa yang diketahui oleh Antonio?"


"Maaf, tapi sampai saat ini aku belum berhasil mendapatkan info kecelakaan itu." Darren terduduk sedih. Sudah begitu lama, ia menyelidi kasus ini. Akan tetapi, hanya menemukan jalan buntu. Kebenaran yang sudah melibatkan tiga kehidupan dalam satu atap.


"Aku ingin kamu mencari lebih keras lagi," titah Davin mutlak. Ia hanya ingin tahu, apa yang tidak bisa ia lihat sebenarnya. Setelah kebenaran kecelakaan itu terungkap, ia akan mengambil keputusan yang benar. Jika Aelin, wanita yang ia cintai memang bersalah maka ia akan melepaskan Aelin untuk selamanya. Namun, jika Aelin tidak bersalah. Ia akan memperjuangkan wanita itu dan melepaskan Syaila dengan cara baik-baik.


"Aku akan terus berusaha, Dav. Lebih baik kamu pulang. Aelin pasti sudah menunggumu di rumah. Lupakan keresahanmu itu, nikmati apa yang sekarang kamu miliki. Untuk Antonio, kita akan mengurusnya bersama-sama," hibur Darren memberikan dukungan untuk sang sahabat. Ia tahu, Davin memang salah, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Davin di saat kondisinya tengah terjepit.


"Kamu benar, saat ini aku hanya butuh Aelin." Davin mengangguk setuju. Ia segera bangkit, lalu meraih jas yang tersampir pada pegangan sofa dan memakainya. Davin berjalan cepat, meninggalkan Darren yang masih setia duduk di sofa. Saat ini, ia hanya membutuhkan pelukan hangat Aelin. Pelukan yang mampu membuat ia melupakan semua masalah dalam hidupnya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2