Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Lia


__ADS_3

...26 😇...


"Aelin... Kamu mendengar ku kan?!!" Teriak Lia dengan nada menggebu- ngebu.


Aelin kembali menelan ludah nya paksa, otak kecil nya memutar mencoba mencari alasan yang tepat.


"Aelin...!!" Panggil Lia lagi dengan nada gemas.


"Iya.. Iya aku di sini..!" Sahut Aelin dengan gugup.


"Kenapa sejak tadi diam saja, dengar sepulang sekolah nanti aku akan ke rumah mu.. Seperti nya kamu sedang sakit sampai tidak mau berbicara sejak tadi..."


Aelin terhenyak mendengar ucapan Lia yang akan datang ke rumah nya.


Astaga, sahabat nya yang satu ini memang sangat peduli dengan diri nya.


Tapi seperti nya kepedulian nya kali ini, benar- benar membawa petaka pada Aelin.


Ia tidak siap jika Lia sampai tahu, bahwa kini diri nya sudah menikah. Dan tidak lagi tinggal di rumah yang sama.


Jika Lia sampai pergi ke rumah nya , gadis itu tidak akan bisa menemukan nya di sana.


Ia tidak bisa membiar kan ini.


"Aku baik- baik saja.. Hanya saja hari ini kepala ku sedikit pusing, sampai aku tidak masuk sekolah..."


"Jika kamu sakit kenapa tidak meminta izin? kau tahu aku sangat marah karna mu... Gara- gara diri mu aku harus di jemur seperti ikan asin..." Dumel Lia dengan suara berang.


"Maaf kan aku, apa aku bisa menebak kapan rasa sakit di kepala ku ini datang...?" Ujar Aelin yang mencoba menyakin kan sahabat nya.


"Lalu sekarang apa kamu sudah baik- baik saja.. Besok kamu masuk kan?"


Aelin kembali bungkam, jawaban apa yang akan dia katakan sekarang.


"Tuh... Kan diam lagi..." Cicit Lia dengan suara sedikit kesal.


"I... Ya... Aku masuk besok kok..." Sahut Aelin dengan nada ragu.


Ia sama sekali tidak yakin dengan apa yang baru saja ia janji kan pada sahabat nya


Apa diri nya masih punya muka untuk masuk sekolah, sedang kan kini ia sudah bersuami.


Dan apa mungkin Davin akan mengizin kan diri nya untuk tetap sekolah atau akan membuat nya menjadi remaja putus sekolah?


Memikir kan nya membuat tubuh nya gemetar, ia takut dan malu pada teman- teman nya.


Apa yang akan mereka kata kan jika tahu diri nya sudah menikah.


Pasti semua orang akan menghina nya , bahkan pihak sekolah tentu saja tidak akan membiar kan diri nya untuk tetap bersekolah.


Kenapa hidup nya jadi serumit ini, kenapa malam naas itu tidak terjadi setelah ia lulus sekolah.


Ia masih ingin belajar dan menghabis kan masa muda nya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa di putar kembali.

__ADS_1


Dan semua itu gara- gara Davin.


Tangan Aelin meremas pinggiran kasur dengan sangat kuat.


Kebencian nya semakin meletup - letup pada Davin.


"Baik lah.. Jika begitu, aku akan menunggu mu besok...By..."


Tut...


Lia memutus kan panggilan telpon antara diri nya dan Aelin.


Rasa frustasi yang hampir membuat Aelin gila kembali menghantui diri nya.


Buliran bening , dari ujung ke dua mata indah nya kembali mengalir dengan cukup deras.


Bahkan tangis Aelin terdengar sesenggukan.


Apa yang bisa ia lakukan saat ini, selain menangis untuk menenang kan batin dan juga mental nya yang tersiksa.


Hanya deraian air mata ini, yang setidak nya bisa membasuh sedikit luka hati nya.


Tubuh Aelin meringkuk di atas kasur, dengan tangis yang tak kunjung henti.


Hingga ke dua mata indah nya terlelap dan berakhir terbawa ke dua mimpi yang jauh lebih indah.


...----------------...


Davin menatap arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Di mana kini , ia sedang melakukan pertemuan dengan beberapa rekan bisnis membahas projek selanjut nya yang akan mereka garap.


Tampak di ujung meja yang cukup panjang.


Davin memangku dagu nya dengan tangan kiri nya, sementara tangan kanan nya memain kan bolpoin.


Cletak...


Cletuk...


Cletak..


Cletuk...


Sementara di seberang nya, terlihat seorang wanita muda yang tengah menjelas kan projek yang akan segera mereka garap.


Namun hal itu kini tidak membuat Davin tertarik.


Selama hidup nya, ia sudah banyak berhasil membuat projek nya selalu menjadi yang paling tinggi.


Sementara di sisi kanan nya, berdiri sang asisten setia nya Darren. Yang sejak beberapa jam lalu terus berdiri mendampingi majikan nya.


Berbeda dengan Davin yang tidak tertarik sedikit pun, Darren malah sangat memperhati kan apa yang di jelas kan wanita muda dan cantik di depan nya.


Bagi nya apa yang di jelas kan wanita itu akan sangat bermanfaat di kehidupan nya nanti.

__ADS_1


Semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Jadi Darren dengan senang hati menyerap semua ilmu dan menyimpan nya baik- baik di dalam kepala nya.


"Bagaimana Tuan Davin??" Seru wanita yang sejak tadi menjelas kan tersebut menutup penjelasan nya, lalu melempar senyum termanis yang ia miliki pada Davin.


Davin tersentak, dengan suara wanita itu, Suara yang berhasil membuat lamunan nya buyar.


"Baik lah... Pertemuan kita selesai sampai di sini... Mengenai lebih lanjut, saya akan memutus kan esok..." Seru Davin datar, yang lansung bangkit dari duduk nya, merapikan jas nya lalu melangkah keluar.


Menyisa kan tatapan tidak suka semua orang di dalan ruangan.


Bagi Mereka sikap Davin sangat arrogant, bahkan pria itu sama sekali tidak menghormati mereka yang notabene nya sebagai rekan kerja.


Wanita dengan name tag Lussi itu pun, segera bergegas memberes kan barang- barang nya , lalu segera keluar dari ruangan itu dengan tergesa- gesa.


"Darren malam ini kita pulang ke rumah utama...!!" Ucap Davin dengan singkat, dengan langkah lebar terkesan tergesa- gesa menuju arah parkiran.


Bahkan Darren sedikit kewalahan untuk menyeimbangi langkah majikan nya.


Wajah Darren mengkerut dalam, mendengar perintah yang terdengar aneh di telinga nya.


"Bukan nya setiap malam, Tuan selalu pulang ke Villa.. Lalu malam ini?. Kenapa dia memilih untuk pulang ke rumah utama...? Astaga aku hampir lupa jika nona Aelin sudah menjadi istri Tuan Davin dan tentu saja tinggal di rumah utama..." Batin Darren dengan pertanyaan yang ia jawab sendiri. Sembari kepala nya menggeleng- geleng pelan.


"Davin apa Mrs. Tissa sudah mengirimu laporan tentang hari ini?" Celetuk Davin yang sedikit penasaran dengan hari yang di lalui Aelin.


"Belum Tuan..."


Langkah kaki Davin langsung berhenti, begitu pula dengan Darren.


Karna terlalu fokus pada projek yang di jelas kan di ruang meeting , membuat Darren lupa untuk menanyakan laporan hari ini pada Mrs. Tissa sang mertua gadungan yang di sewa Davin.


...----------------...


...****************...


Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2