Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Ada yang salah


__ADS_3

...169💚...


Aelin akhirnya sampai di rumah, ia menatap bangunan mewah di depannya yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempatnya berteduh.


Aelin menatap layar ponsel di tangannya, tapi ternyata kontak yang di harapkan menelponnya sama sekali tidak menelponnya. Rasanya kecewa, ketika sesuatu yang diharapkan ternyata jauh dari ekpektasi. Bahkan pulang sekolah Aelin menggunakan transportasi umum.


Aelin menghela nafasnya dalam, mengubur sedikit rasa sesak yang ada di dadanya. Menepis semua pikiran-pikiran buruk yang membuat kepalanya terasa penuh dan pening.


Aelin berjalan dengan lesu, tidak ada semangat yang terlihat di wajah cantiknya. Satpam yang melihat kedatangan Aelin segera membuka gerbang dengan lebar.


Ada sedikit pertanyaan yang muncul di pikiran sang satpam, tumben sekali Aelin pulang dengan berjalan kaki. Biasanya Aelin pulang bersama supir atau Davin. Namun, pikiran tersebut langsung tertepis saat ia mengingat jika Nyonya besar rumah ini pulang setelah sekian lama.


Aelin mengedarkan pandangannya, dimana kini ia sudah berada di dalam rumah. Sorot matanya terus mencari keberadaan Davin. Ia ingin segera menanyakan kenapa Davin meninggalkan dirinya sendiri.


"Nona, syukurlah kau sudah pulang!" seru Maya yang langsung berlari dan memeluk sang majikan dengan perasaan lega.


Aelin tersenyum kecut, setidaknya di rumah besar ini ada yang mengkhawatirkan dirinya. Meskipun hanya seorang pelayan.


"Dimana Tuan Davin?" tanya Aelin to the point.


Seketika wajah Maya berubah menjadi tegang, seolah-olah ada yang ia sembunyikan. Maya memaksakan senyumnya. Menstabilkan ekspresi wajahnya, agar terlihat biasa saja.


"Tuan sudah pergi Nona," jawab Maya dengan singkat.


"Kamu pergi meninggalkanku begitu saja, sekarang kamu juga pergi lagi. Apa yang dikatakan Lia memang benar, jika Davin memiliki wanita lain?" batin Aelin dengan pikiran yang semakin kacau.


Aelin memijat pangkal hidungnya, supaya mengurangi beban berat yang terasa menumpuk di atas kepalanya.


"Maya, apa semalam Tuan pulang karna menemui seorang wanita?"


Deg!

__ADS_1


Tubuh Maya langsung membeku seketika, pertanyaan Aelin seperti sebuah mantra kutukan yang mematikan gerak-geriknya.


"Astaga, apa Nona tahu jika memang Tuan Davin pulang untuk menemui Nyonya Syaila?" batin Maya dengan sedikit panik, dimana wajahnya terlihat memucat.


Melihat sikap diam Maya, membuat Aelin semakin curiga. Jika sebenarnya ada sesuatu yang di sembunyikan darinya. Tapi apa?


"Maya," tegur Aelin dengan meninggikan suaranya. Maya tersentak kaget, rasanya jantungnya saat ini merosot ke dasar perutnya.


"No--Na, Tuan pulang karna ada urusan," ujar Maya memberi alasan yang baginya masuk akal. Lagi pula hanya itu yang sekarang terpikir di kepalanya. Untuk sejenak, kepalanya terasa berhenti bekerja dan menjadi bodoh. Ia berharap Aelin percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.


Aelin memicingkan matanya, lalu memberikan ranselnya pada Maya.


"Pekerjaan apa?" selidik Aelin yang merasa belum puas dengan jawaban Maya yang baginya sangat umum.


Maya terlihat sedikit gelagapan, dimana tangannya meremas ransel Aelin. Apa yang harus ia katakan sekarang? Aelin bertanya lebih banyak dari dugaannya. Sepertinya jawaban barusan sama sekali tidak membuat Aelin yakin.


"Yang aku dengar dari obrolan Tuan Davin dan juga Tuan Darren, ada bisnis Tuan Davin yang terancam akan dikuasai oleh musuh bisnisnya. Jadi mungkin itu alasan Tuan untuk pulang kemarin malam."


Maya menatap kepergian Aelin dengan menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya Aelin tidak lagi bertanya. Kepala pintarnya benar-benar berubah menjadi bodoh saat ini. Tapi jauh di lubuk hati terdalam, ia merasa iba pada Aelin. Jika ia yang berada di posisi itu pasti dirinya memilih untuk mati saja.


Aelin langsung masuk ke dalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur King size yang empuk dan nyaman. Menatap ke atas pada langit-langit kamar.


"Ada sesuatu yang salah, hanya karna alasan pekerjaan Davin meninggalkan aku sendiri. Tidak, ini bukan sesuatu yang benar," gumam Aelin berbicara pada dirinya sendiri.


Ia bangkit dari ranjang, dan memilih untuk mandi sebentar. Menyegarkan tubuhnya yang sudah terasa letih dan penat, terutama kepalanya yang terasa sedang ditimpa batu besar.


Aelin menyabet handuk yang ada di lemari, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Tapi, langkahnya langsung terhenti saat ia merasa melihat sesuatu yang aneh.


Aelin segera berjongkok, lalu menundukkan kepalanya ke arah kolong ranjang. Terlihat beberapa pecahan kaca terlihat berserakan.


"Pecahan kaca? tapi apa yang pecah? Seingatku kemarin tidak ada pecahan kaca sama sekali di kamarku," bingung Aelin dengan kening berkerut dalam.

__ADS_1


Aelin mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut kamarnya, sama sekali tidak ada yang berubah. Tidak ada satu furnitur dari kamarnya yang pecah. Mulai dari vas, lalu figura foto, bahkan pajangan yang terbuat dari kaca tidak ada yang pecah. Semuanya masih ada di tempat. Lalu dari mana asal pecahan kaca itu? pikir Aelin yang kembali berpikir dengan keras.


"Jika terus seperti ini aku bisa gila," pekik Aelin dengan meremas rambutnya keras. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sudah cukup ia berpikir, ia tidak mau selalu bertanya dan terus bertanya tapi tidak mendapatkan jawaban apapun.


Semua kebingungan dan pertanyaan yang terus muncul dikepalanya hanya bisa di jawab oleh Davin. Aelin menyalakan shower, rintikan air langsung mengguyur kepalanya.


Terasa sangat dingin dan menyegarkan, setidaknya kepalanya sedikit merasa rileks dan segar.


...----------------...


Sedangkan di villa, terlihat Davin tengah menatap pemandangan hijau yang begitu memanjakan mata. Ia kembali mengantarkan Syaila ke Villa. Meminta istri pertamanya itu untuk tinggal sementara di villa sampai ia mengusir Aelin dari rumah utama.


Davin terlihat termenung dengan tatapan mata yang kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi yang pasti saat ini hatinya sedang merasakan sakit.


Dari belakang, dua buah tangan kurus melingkar dengan sempurna di pinggang Davin. Membuat Davin sedikit terkejut dengan sentuhan di pinggangnya.


"Apa yang sedang kamu lamunkan honey?" cicit Syaila dengan nada manja.


Davin menutup kelopak matanya sejenak. Jika boleh jujur ia sedikit risih dengan sentuhan-sentuhan Syaila. Tapi ia juga tidak bisa menolak karna hal itu pasti akan membuat Syaila marah.


"Aku hanya merenungi kesalahan yang aku buat," jawab Davin asal.


"Atau kamu sedang memikirkan Aelin?" Nada suara Syaila berubah sinis. Davin segera memutar tubuhnya, sehingga kini ia berhadapan dengan Syaila.


"Tidak, mana mungkin aku memikirkan dia yang sudah membuatmu hampir tiada." Bohong Davin, padahal tadi ia sedang berpikir bagaimana cara melepaskan Aelin tanpa menyakitinya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like, koment, gift, anda vote

__ADS_1


__ADS_2