
...25 😇...
"Saya sudah bekerja di rumah ini sudah cukup lama..." Sahut Maya dengan datar.
"Hmmmm... Apa kamu tahu seperti apa ibu mertua ku?"
"Dia sebenar nya wanita yang lembut dan penyayang, ia sangat menyayangi Tuan Davin. Ia juga ibu yang sangat baik... Mungkin sikap nya barusan membuat Nona memandang nya seperti ibu mertua kejam... Tapi percaya lah jika Nyonya adalah wanita yang baik... Nona hanya perlu mengambil hati nya maka ia akan mencurah kan kasih sayang nya pada Nona..."
"Benar kah...?" Aelin sedikit ragu dengan penjelasan Maya.
Seperti nya apa yang di kata kan pelayan pribadi nya, tidak sesuai dengan apa yang ia lihat.
Bahkan tadi ia sempat merasakan jika Nyonya Tissa menyembunyi kan hal besar di balik bibir berginju nya.
Dan juga wanita paruh baya itu terlihat begitu licik.
Tapi Maya adalah pelayan yang sudah lama bekerja di tempat ini jadi tidak mungkin juga dia tidak tahu bagaimana sifat orang- orang di rumah ini.
Apa diri nya yang terlalu overthingking?.
Maya membuka kan pintu kamar untuk Aelin.
"Silah kan Nona....!" Maya merentang kan kembali tangan nya, sembari mulut nya tersenyum ramah.
Aelin melipat bibir nya dalam, seperti nya ia memang harus terbiasa dengan semua hal di rumah ini, termasuk cara Maya yang begitu formal kepada nya. Hingga setiap kali diri nya harus melihat penghormatan Maya pada diri nya yang bagi nya terkesan sangat lebay dan ambigu.
Aelin menjejak kan kaki nya kembali dalam kamar besar dan luas ini, kamar yang beberapa jam yang lalu ia tinggal kan untuk mengisi perut nya.
Perjalanan cukup panjang, hingga kini jam sudah menujukkan seperempat malam.
Aelin terduduk di tepi ranjang nya, apa yang harus ia lakukan.?
Menjadi nyonya orang terkaya di asia sama sekali tidak menyenang kan. Malah terdengar membosan kan.
Aelin merebah kan tubuh nya, hingga kini telentang menghadap langit- langit di kamar nya.
Seolah menerawang dan berpikir dengan begitu keras.
Maya hanya diam membeku di sudut ruangan, berdiri seperti sebuah patung pajangan yang tak bergerak sedikit pun.
"Maya... ini kan sudah malam, lebih baik kamu pergi untuk beristirahat... " Celetuk Aelin memecah suasana sepi.
Ia sedikit berharap, jika pelayan pribadi nya ini sedikit bisa di ajak bercanda. Bagaimana pun diri nya masih remaja, ia masih ingin bermain . Namun nasib malah menggiring nya terjebak dalam ikatan mengerikan seperti ini.
"Saya akan berdiri di sini sampai Nona tertidur,,, terasa lancang jika majikan belum tidur tapi budak nya sudah beristirahat..." Sahut Maya dengan kepala menunduk.
Aelin menggeleng kan kepala nya frustasi, sistem seperti apa yang ada di rumah ini sebenar nya.
__ADS_1
Terasa begitu kaku dan konyol.
"Jika aku menjadi diri mu, aku tidak akan mau bekerja di tempat seperti ini..." Seloroh Aelin asal kembali merebah kan tubuh nya.
"Saya bekerja di sini, karna tuan Davin sudah sangat berjasa pada diri saya... Jadi jika saya menyerah kan hidup sekalipun hal itu tidak akan pernah mampu untuk membalas apa yang sudah ia lakukan..."
"Apa kamu pikir dia seorang pahlawan, dia tak ubah nya seorang penjahat yang sedang memakai topeng... "
"Anda mengata kan hal itu karna anda tidak mengenal beliau..."
"Tentu saja aku mengenal nya, karna dia aku berada di tempat ini... Seperti nya dia itu seorang pedopil, ha... Tidak hanya aku kamu pun terjerat dengan nya..."
Leher Maya terasa terpotong seketika, mendengar perkataan Aelin tanpa dosa.
Jika saja Davin mendengar nya, entah apa yang akan Aelin dapat kan.
Bahkan seluruh negri ini, tidak ada yang berani menghina Davin, bahkan hanya sekedar membicara kan nya saja, semua orang harus menggigit jari mereka, karna takut kepala mereka akan sejajar dengan kaki nya.
Tapi Aelin , bahkan dengan gamblang nya mengatakan Davin seorang pedopil, ia berharap jika majikan nya tidak memasang alat perekam suara atau pun cctv dalam ruangan ini.
Maya mengedar kan pandangan nya, menelisik setiap sudut ruangan kamar Aelin.
"Maya apa kamu sudah menikah?"
Glek...
Maya menarik nafas nya dalam, ia cukup tersentak kaget dengan apa yang di tanya kan Aelin.
Dringgg....
Drinnggg...
Dringgg....
Suara ponsel Aelin kembali berdering, membuat Aelin menatap ke arah meja nakas.
"Huhhh apa papy menelpon ku lagi?... Aku masih marah pada nya.. Jika dia yang menelpon.. Aku tidak akan mengangkat nya. Aku tidak akan berbicara sebelum dia menemui ku kemari..." Batin Aelin meraih benda persegi panjang milik nya.
Maya menghela nafas lega, ia mengusap buliran bening yang sudah terbentuk di kening nya.
Berada di dekat Aelin sungguh membuat jantung nya berhenti dengan mendadak, karna terus di cecar oleh pertanyaan yang cukup membuat nya merinding.
Wajah Aelin berbinar, saat melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel nya.
Dengan gerakan cepat, ia menggeser icon hijau dengan gambar gagang telpon.
"Hallo.... Aelin...!!! Kamu kemana saja? kenapa tidak masuk sekolah...? Gara- gara kamu aku jadi di hukum karna tidak bisa mengerjakan pekerjaan Rumah... Dasar kuntilanak betina...!!! Dengan seenak jidat nya kamu pergi..."
__ADS_1
Aelin mengedip kan ke dua mata nya, sembari tangan nya menjauh kan ponsel dari telinga nya.
Telinga nya terasa pengang karna teriakan Lia dari ujung telpon. Persis seperti balon meletus.
Lia adalah sahabat karib nya, sahabat sejak ia masuk dalam sekolah menengah ke atas di salah satu sekolah favorit kota ini.
Sahabat nya ini memiliki bibir ekstrim super lebar dengan suara cempreng mengalah kan sirena kereta api.
Gendang telinga siapa pun pasti akan bergetar pecah saat mendengar nya berteriak.
Tapi percaya lah, dia adalah sahabat terbaik Aelin.
Sahabat yang selalu ada dan selalu memberikan semangat untuk nya, meski otak kecerdasan Lia di bawah rata- rata.
Dan sekarang ia harus terkena amukan amarah sahabat nya itu, karna masalah pekerjaan rumah nya yang tidak selesai.
Setiap tugas atau pekerjaan rumah pasti Aelin akan membantu Lia. Hingga Lia selalu menempel pada nya seperti lalat.
Aelin tersenyum miris, lidah nya sangat kelu saat ini.
Bahkan nafas nya terasa tercekat dengan telapak tangan nya yang di remas.
Apa yang harus ia kata kan pada Lia..?
Diri nya sangat malu, karna sekarang ia tidak lagi mejadi gadis remaja melain kan seorang wanita yang sudah menikah.
Bahkan sedetik pun ia lupa jika ia masih bersekolah dan baru menginjak kelas 11.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙