Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Hancur berulang kali


__ADS_3

...207...


Aelin tertawa nyaring dan sangat keras setelah mendengar jawaban Syaila. Ia memandang semua orang yang ada di ruangan ini dengan tatapan sakit. Ternyata, mereka semua adalah satu keluarga yang sedang mempermainkan hidupnya. Pria yang ia anggap kakak pun juga membohongi dirinya dan berpura-pura menjadi kerabat dekat. Hatinya kembali menerima luka yang begitu menyakitkan hingga ia merasa malaikat maut sedang menyabut nyawanya.


"Kau sudah beristri, kau adalah adiknya, dan kau adalah wanita yang merebut tunanganku. Bahkan, kamu juga Livia. Aku mengerti sekarang, kalian semua merencanakan semua ini untuk menghancurkan hidupku. Kalian memang pembohong besar." Aelin bertepuk tangan menertawakan diri sendiri. Kali ini, ia benar-benar sendiri. Ia terluka dan sangat terluka.


"Lalu, kau? Kamu adalah penjahat yang seharusnya aku lenyapkan sejak dulu," timpal Davin mendekat ke arah Aelin. Jujur, ia terluka melihat air mata kesedihan di mata wanita yang berdiri di hadapannya, wanita yang sangat ia cintai dengan seluruh hati. Namun, semua foto-foto mesra Aelin dengan pria lain membuat seluruh cinta dalam dirinya berubah menjadi kebencian dengan alasan terkhianati.


"Maksudmu?" Aelin menautkan kedua alisnya hingga hampir menyatu karena bingung. Melenyapkan sejak dulu? Apa itu artinya, Davin ingin menghabisi ia dari dulu?


"Davin, cukup!" pekik Antonio mendekat ke arah sepasang suami istri itu. Ia tidak mau Davin mengatakan apapun lagi yang akan semakin membuat Aelin hancur. Ini sudah terlalu menyakitkan untuk ukuran luka manusia normal.


"Tidak, katakan, Dav. Apa maksudmu? Dan kau Antonio, kamu tidak memiliki hak lagi untuk ikut campur dalam urusanku," sarkas Aelin sambil menunjuk Antonio.


"Kamu ingin tahu semua kebenarannya?" Davin menyeringgai penuh luka.


"Katakan semua kebohongan kalian. Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku." Aelin meremas jahitan baju dress yang ia pakai dengan keras. Membangun kekuatan besar untuk mendengar semua kenyataan yang begitu pahit walau dari sisi dalam ia sudah hancur berkeping-keping.


"Baiklah, akan aku katakan kebenaran yang akan membuatmu mati ratusan kali."


"Dav, jangan." Antonio berusaha mencegah Davin.


"Jangan mencoba menghalanginya, Kak. Kau jangan berpura-pura peduli padaku. Kamu adalah salah satu orang yang paling menyakitiku. Kalaupun aku mendengar kebenaran sekali lagi. Aku tidak apa-apa karena aku sudah hancur sejak awal. Biarkan semua luka di serap oleh hatiku. Biarkan, hatiku terluka penuh darah. Sudah cukup kalian permainan hidupku," sembur Aelin dengan meraung menyuarakan sesakit apa hatinya saat ini. Ia mendorong tubuh Antonio dengan sisa-sisa tenaganya agar menjauh. Ia tidak butuh dilindungi oleh siapapun.


"Tapi---"


"Kamu ingin sekali mendengar kebenaran ini, kan? Maka dengarkan dengan telinga terbuka. Aku sangat berharap kenyataan ini akan membuatmu hancur dan mati, Aelin." Davin memotong ucapan Antonio dengan cepat. Amarah dalam tubuhnya sudah tak bisa ia tahan lagi. Melihat bagaimana Antonio melindungi Aelin membuat ia semakin terbakar api amarah yang kini siap meledak. Tangisan pilu Aelin yang terus terdengar seolah menjadi seruling indah yang ingin ia dengar berulang kali.

__ADS_1


"Kamu tentu ingat, pertemuan kita saat aku berkunjung ke rumahmu," lanjut Davin. Ia mengangkat tangannya menyentuh pipi putih Aelin. Namun, segera ditepis kasar oleh wanita itu.


"Kejadian malam itu memang aku lakukan dengan sengaja. Malam di saat aku merenggut harga dirimu sebagai wanita. Kamu tidak akan lupa, kan?" Davin tersenyum tipis.


"Kenapa?" lirih Aelin melemparkan pertanyaan. Menahan tombak pengkhiantan yang sedang menghujam hatinya yang terluka. Ia berusaha kuat, untuk mendengar semua kenyataan pahit yang sedang memotong tubuhnya kecil-kecil.


"Karena kamu sudah melukai, Syaila, istriku. Kamu membuat aku kehilangan istri yang selalu mendukungku. Dirimu membuat Syaila kecelakaan, itu semua karena kecerobohanmu. Dia terluka dan koma dan seorang Davin tidak bisa membiarkan pelaku kejahatan yang sudah melukai istrinya berkeliaran dengan bebas. Hukuman penjara tidak cukup untuk dirimu."


Aelin mengangkat wajahnya, menatap tajam kedua manik hitam Davin yang kini berlinang air mata. Ternyata ini alasan Davin merenggut kehormatannya malam itu. Momen mengerikan yang membuat ia trauma dan hidupnya hancur.


"Kamu memang seorang Davin, tapi matamu tidak pernah bisa melihat kebenaran. Apa kamu pernah bertanya pada istrimu alasan dia mengejarku hingga tertabrak?"


Davin terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Aelin. Setiap ia bertanya pada Syaila maka wanita itu hanya mengatakan tidak tahu.


"Kamu diam, asal kamu tahu, Tuan Davin. Istrimu, itu sudah merampas tunanganku. Dia membeli jasa Arjun untuk memuaskan nafsunya. Dia tahu kalau aku merekam transaksi mereka, dan dia mengejarku. Aku tidak pernah ingin dia mengalami kecelakaan itu, tapi itu mungkin karma kalau dia telah mengkhianati suaminya."


Satu tamparan keras melayang dengan begitu saja di pipi Aelin. Luka sobek di ujung bibir wanita itu kembali berdarah karena sudah menerima tamparan untuk yang kesekian kalinya. Kali ini bukan Davin yang menampar Aelin, melainkan Syaila.


"Berani sekali kamu memfitnahku perebut suami orang. Kau itu cuma mainan balas dendam Davin. Jangan menceritakan dongeng bohong tanpa sebuah bukti," sentak Syaila dengan marah. Ia tidak akan membiarkan Davin sampai percaya pada kata-kata Aelin. Rencananya sudah berhasil, ia tidak akan membiarkan apapun menggagalkan situasi yang sedang memanas ini.


"Kau benar, aku tidak punya bukti, dan aku juga tidak ingin memberikan bukti apapun. Kamu tahu sendiri, apa yang terjadi saat itu." Aelin mengusap pipinya pasrah. Bukti rekaman kejadian itu sudah hilang bersama ponselnya yang hilang. Tidak ada bukti apapun yang bisa ia tunjukkan. Lagipula, itu tidak penting lagi. Ia sudah hancur untuk apa menunjukkan bukti.


"Tutup mulutmu, dan sekarang pergi dari sini." Syaila mendorong tubuh Aelin dengan keras hingga hampir tersungkur di lantai.


Hap.


Untung saja, ada Maya yang masuk dengan cepat ke dalam ruangan tersebut dan menangkap tubuh Aelin yang sudah lemas.

__ADS_1


"Anda tidak bisa mengusir, Nona Aelin," ujar Maya yang berhasil membuat semua wajah berubah menjadi bingung.


"Hei, pelayan tidak berguna, berani sekali kamu mengaturku!" hardik Syaila yang mulai kebakaran jenggot. Ia ingin segera mengakhiri drama ini, tapi kenapa Maya harus muncul.


Aelin menatap sendu pada pelayannya selama ini. Kali ini ia tidak terkejut lagi kalau ada satu lagi orang yang juga membohongi dirinya selama ini. Luka yang ia terima sudah sangat dalam dan menyakitkan, jadi menerima luka satu lagi tidak ada apa-apanya lagi.


"Tuan Davin, Anda tidak bisa membiarkan Nona pergi dari rumah ini karena Nona sedang hamil."


Deg.


Ketiga pasang mata seketika melebar dengan sempurna. Mereka begitu kaget mendengar hal itu, terutama Davin.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2