Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Lebih baik kita bercerai


__ADS_3

...183...


Syaila mematikan ponsel Aelin dan memasukkannya ke dalam tas. Jangan sampai ponsel ini hilang atau ditemukan oleh orang lain, terutama Davin.


"Aku harus segera menghancurkan ponsel ini. Setelah itu aku akan menyingkirkan Aelin dari hidup Davin," gumam Syaila lalu bergegas pergi dari kafe tersebut.


Di sisi lain, Davin tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sembari sorot matanya mengedar ke setiap arah penjuru jalanan.


Terlihat di wajahnya yang tampan dia begitu khawatir dan panik. Sampai detik ini ia tidak menemukan keberadaan Aelin. Rasa takut yang begitu besar menyeruak memenuhi rongga dada Davin. Setiap ia menarik nafas, nyawanya terasa ikut berhembus keluar.


"Darren bagaimana? Apa kamu sudah menemukan Aelin?" tanya Davin dengan suara setengah berteriak. Saat ini dirinya dan Darren terhubung lewat sambungan ponsel.


"Saya sedang berusaha Tuan. Tenanglah, Nona akan segera di temukan," ujar Darren dari ujung telpon.


"Jangan cuma berusaha, aku ingin kamu menemukan Aelin. Aku tidak mau tahu, entah kamu mencarinya ke ujung dunia sekalipun. Aelinku harus kamu temukan," tekan Davin dengan frustasi, lalu melempar handsheet blutoth yang terpasang di telinganya.


Brak!


Davin memukul stir mobil dengan keras. Kepalanya terasa ingin pecah saat ini.


"Ae dimana kamu sebenarnya? Apa yang terjadi padamu? Ini salahku, seharusnya aku menjemputmu bukan malah menghadiri meeting tidak penting itu. Aku harus mencarimu di mana sayang."


Ciittt!


Davin menginjak rem mobilnya secara mendadak. Sehingga tubuhnya terdorong sedikit ke depan. Wajah Davin terlihat berpikir.


Kenapa ia tidak pernah memikirkan hal ini? Tida ada yang bisa melakukan hal ini kecuali Syaila, pikir Davin yang langsung memutar arah mobil ke arah rumah.


"Hanya Syaila yang ingin menyingkirkan Aelin dari hidupku. Jika sampai kamu berani melukai Aelin, aku tidak akan segan untuk menceraikanmu Syai," gumam Davin dengan tatapan tajam penuh amarah.


.


Syaila memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Arselion. Ia segera masuk dengan terburu-buru ke dalam rumah. Para pelayan yang sedang bekerja mengerjit cukup heran melihat Syaila yang masuk dengan terburu-buru. Namun, mereka hanya diam dan menyimpan pertanyaan tersebut dalam kepala mereka masing-masing.


Syaila melangkah menuju taman belakang. Dimana banyak bunga yang tumbuh di sana. Tidak lupa, Syaila mengambil palu dan cangkul kecil dari gudang samping.


Ia berjalan mengendap-ngendap, jangan sampai ada orang yang melihatnya membawa barang-barang ini, termasuk pelayan sekalipun.


Akan tetapi, tanpa sengaja Syaila malah menabrak Maya, yang kebetulan habis menyiram bunga di taman belakang.


Cangkul dan palu yang ada di tangan Syaila jatuh kelantai. Hal itu membuat Syaila semakin gugup. Bodohnya ia karna terburu-buru dirinya sampai menabrak Maya.

__ADS_1


Maya menautkan ke dua alisnya saat melihat benda yang dibawa oleh Syaila. Terlihat sangat aneh, pikir Maya.


Mendapat tatapan curiga dari Maya. Syaila segera mengambil kembali cangkul dan palu yang jatuh di lantai.


"Apa kamu tidak punya mata!" bentak Syaila sengaja memarahi Maya. Ia hanya ingin mengalihkan pikiran Maya karna ia tahu Maya bukanlah wanita bodoh, yang akan percaya dengan alasan yang akan ia berikan.


"Maaf Nona, Saya tidak sengaja," balas Maya dengan membungkukkan tubuhnya.


"Aku hanya ingin mengambil bunga dari halaman belakang. Aku ingin menanamnya di tempat lain," seru Syaila yang langsung melenggang pergi meninggalkan Maya.


Maya yang merasa aneh dengan tingkah Syaila, menatap punggung majikannya itu dengan curiga.


Aku tidak salah dengar bukan? Nyonya Syaila ingin menanam bunga? Itu sesuatu yang mustahil. Batin Maya yang memutuskan untuk mengikuti Syaila dengan diam-diam.


Setelah sampai di sudut halaman dengan tanaman yang paling rimbun, Syaila menoleh ke belakang memastikan jika tidak ada siapapun yang melihat dirinya.


Maya segera bersembunyi di balik tembok, saat Syaila menoleh. Dirinya semakin curiga dan yakin jika ada yang ingin di lakukan oleh Syaila.


Maya segera berlari dengan kaki menjinjit, sehingga mengurangi suara langkah kakinya. Maya memilih bersembunyi di balik pohon rindang dengan jarak lima meter dari posisi Syaila.


Syaila yang merasa kondisi sudah aman langsung merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia menatap ponsel Aelin yang kini berada di tanganya.


"Setelah menghancurkan ponsel ini, maka bukti tentang diriku akan lenyap. Aku tidak perlu takut lagi," lirih Syaila lalu menjatuhkan ponsel itu ke tanah.


Trak!


Layar benda persegi itu seketika hancur lebur tidak berbentuk lagi. Syaila terus melayangkan pukulan palu pada ponsel tersebut, hingga ponsel tersebut hancur berkeping-keping.


Nafas Syaila menderu tidak stabil. Ternyata menghancurkan ponsel ini cukup menyita tenaga Syaila.


Syaila meraih cangkul, lalu mulai mencakul tanah hingga satu meter. Buliran keringat mulai mengucur di pelipis Syaila. Syaila mengubur serpihan-serpihan ponsel yang ia hancurkan.


Setelah selesai dengan aktivitasnya. Syaila segera pergi dari taman belakang sebelum seseorang datang dan melihat apa yang ia lakukan.


Maya keluar dari balik pohon. Ia manatap pada permukaan tanah tempat Syaila menanam ponsel.


.


Syaila berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Namun, saat hampir menjangkau pintu kamar. Tubuhnya di tarik kasar hingga membentur tembok.


"Aaauuuhh," ringgis Syaila kesakitan saat tulang punggungnya menyapa permukaan tembok yang keras.

__ADS_1


Terlihat kini Davin berada di depan Syaila dengan menatap wanita itu nyalang penuh amarah. Davin meletakkan ke dua tangannya di masing-masing ke dua sisi samping Syaila. Sehingga Syaila terkungkung di antara tangan Davin.


"Katakan dimana Aelin?" tanya Davin dengan menekan setiap perkataannya.


"Apa maksudmu Davin?" sentak Syaila sembari mendorong dada bidang Davin. Namun, Davin langsung mencengkram pergelangan tangan Syaila dengan kuat, sehingga Syaila meringgis kesakitan.


"Aku tahu pasti kamu yang sudah melakukan ini Syaila," geram Davin.


Apa Davin tahu jika aku yang sudah menyuruh pembunuh bayaran untuk menyerang Aelin? Batin Syaila dengan wajah ketakutan.


"A--aku tidak tahu," balas Syaila dengan terbata-bata.


"Tapi, hanya kamu yang ingin menyingkirkan Aelin."


"Aku sudah bilang kan, jika aku tidak tahu!" bentak Syaila dengan menatap Davin nyalang.


"Kenapa kamu terus menuduhku Davin? Kenapa kamu begitu terpengaruh dengan wanita itu. Aku sekarang yakin jika kamu memang mulai menyukai gadis itu. Ingat Davin aku ini istrimu. Kamu memang harus menyingkirkan dia dari hidup kita Dav," lanjut Syaila dengan suara tinggi.


"Tutup mulutmu Syaila!" hardik Davin dengan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya.


"Aku tidak ingin lagi membohongi hatiku. Aku mencintai Aelin, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan menyingkirkan dia dari hidupku---"


"Lalu bagaimana denganku Davin? Seorang istri tidak pernah mau membagi suaminya dengan wanita lain," sosor Syaila dengan memotong ucapan Davin.


Davin menatap wajah Syaila dengan lekat. Menarik nafasnya dalam, sebelum bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.


"Lebih baik kita bercerai."


Deg!


...----------------...


...****************...


Nah loh Syai... Ngeri-ngeri sedepkan . Ternyata Davin memilih untuk menceraikan kamu🤣🤣


Jangan lupa


like


koment

__ADS_1


gift


Vote


__ADS_2