Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Berbagi rasa


__ADS_3

...160๐Ÿ’š...


Mobil Davin akhirnya berhenti di parkiran hotel. Ia tersenyum lebar melihat bangunan yang cukup indah dan terlihat begitu eksotis. Moodnya yang sempat hancur karna ulah Arjun kini kembali bagus.


Kejutan yang sudah ia siapkan untuk Aelin mungkin gagal, tapi siapa sangka istri kecilnya malah memberikan kejutan dengan mengajaknya menginap di hotel.


Davin dan Aelin saling memandang, melemparkan senyum dan menghembuskan nafas pelan. Davin segera turun dari mobil dan berjalan memutar. Membukakan pintu untuk Aelin.


Aelin segera turun dari mobil, tak lupa Davin meletakkan tangannya di atas kepala Aelin, agar kepala istrinya tidak terbentur atap mobil.


Aelin tersenyum lebar, mendapat perlakuan manis dari Davin yang selalu membuatnya meleleh. Aelin mengedarkan pandangannya. Ternyata hotel yang ada di depannya sangat indah dan sangat cocok untuk honeymoon, apalagi tempatnya yang berada di dekat pantai. Semakin membuat suasana di antara ke dua pasangan menjadi romantis.


"Aku rasa Lia telah berbohong, mana mungkin vocher hotel semewah ini dia dapatkan dengan percuma. Aku yakin pasti dia menguras semua tabungannya," batin Aelin.


Davin meraih bahu Aelin dan merangkulnya dengan mesra. Ia tidak mengira jika Lia sahabat Aelin benar-benar pintar mencari tempat romantis seperti ini.


"Pilihan Lia sangat luar biasa!" seru Davin sambil terus merangkul Aelin dan berjalan beriringan.


"Yah, Tapi aku tidak yakin jika dia mendapat vocher hotel secara percuma," timpal Aelin mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.


"Itu memang benar, kamu lihat saja plang harga yang ada di sana!" Davin menunjuk ke arah sebelah kanan hotel, dimana tertulis dengan besar harga menginap satu malam di hotel tersebut.


"Tidak ada give away, atau pun vocher diskon. Lagi pula ini hotel mewah jadi hal itu pasti hanya ada di dalam mimpi," lanjut Davin dengan mengecup singkat pipi putih Aelin.


"Hmm, Lia pasti menguras tabungannya. Anak itu selalu saja membuang uangnya." Wajah Aelin sedikit getir, mengetahui jika Lia membohongi dirinya. Mengatas namakan vocher gratis untuk membuatnya menyetujui keinginannya. Jika ia tahu, ia pasti akan menolak. Karna, Lia bisa menggunakan uang tersebut untuk hal yang lebih bermanfaat. Bukan untuk membayar tiket honeymoon hotel untuk dirinya dan Davin.


Melihat wajah Aelin yang terlihat kusut, Davin kembali mengecup pipi Aelin, sehingga Aelin menatapnya tajam.


"Apa perlu aku mengganti uang Lia, jadi kamu tidak terbebani dengan hal itu?" Davin sangat tahu sifat Aelin, yang pasti sekarang sedang memikirkan tiket hotel yang cukup mahal yang sudah di beli oleh Lia untuk mereka.

__ADS_1


"Jika kamu menggantinya, pasti dia akan tersinggung. Aku cuma ingin Lia menggunakan uang tersebut untuk kebutuhannya nanti di luar negri, sayang sekali jika dia menghabiskan uangnya untuk membayar hotel untuk kita."


"Kamu tenang saja, sebagai gantinya. Saat Lia pergi ke luar negri aku akan memberinya satu apartemen di sana. Katakan padanya jika itu hadiah perpisahan dariku. Itu setimpal bukan?"


Sudut bibir Aelin tertarik ke atas, menciptakan lengkungan senyuman yang begitu indah. Bahkan Davin sampai tidak bisa berpaling. Wajah Aelin seperti bulan purnama, setiap ia melihatnya ia merasa begitu damai.


"Terimakasih, kamu selalu tahu cara mengembalikan senyumku." Aelin memeluk Davin singkat, seolah menjadi ucapan terimakasih.


"Sama-sama." Davin segera menyerahkan vocher hotel kepada Resepsionis. Tidak butuh waktu lama, kunci sebuah kamar sudah berada di tangan mereka.


Keduanya begitu senang, karna mereka akan menghabiskan satu hari tanpa ada gangguan dari siapapun.


Aelin juga berharap, dari titik ini ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Davin dan Aelin segera masuk ke dalam kamar hotel yang ternyata terletak di lantai tertinggi.


Aelin benar-benar kagum, saat melihat pemandangan laut yang begitu indah terlihat dari balkon kamarnya. Kamar yang dominan dengan warna putih, di serta dengan bunga tulip kesukaan Aelin.


Davin berjalan mendekat ke arah Aelin yang sedang berdiri menikmati angin di balkon. Ia menggulung lengan kemeja hingga ke siku-siku. Sehingga memperlihatkan tangan kekar dengan urat-urat menonjol di beberapa titik.


Tanpa basa-basi, Davin melingkarkan tangannya di pinggang Aelin, yang membuat Aelin sedikit terkejut namun sangat menikmati posisi dirinya dan Davin.


Davin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Aelin, menghirup aroma tubuh Aelin yang menjadi kesukaannya. Sesekali Davin mengecup ringan leher Aelin sehingga menimbulkan efek geli bagi Aelin.


Aelin memejamkan kedua matanya, merasakan setiap sentuhan yang dilakukan suaminya, yang rasanya begitu memabukkan.


Angin yang berhembus, menyapu rambut Aelin, hingga jatuh di wajah cantik wanita itu. Namun, tangan Davin segera merapikan surai hitam Aelin sehingga ia bisa melihat wajah memerah istrinya yang begitu menggoda.


Davin langsung mengangkat tubuh Aelin masuk ke dalam gendongannya. Sehingga Aelin langsung menggelantungkan tangannya dengan erat di leher Davin. Dengan menatap Aelin intens, Davin menggendong Aelin menuju ranjang King size yang akan menjadi tempat pergulatan cinta mereka.


Ke duanya saling menatap penuh damba, tanpa ada sedikit pun niat untuk berpaling. Keinginan untuk ke duanya saling memiliki dan berbagi rasa kini membuncah dengan sangat cepat.

__ADS_1


Ke duanya larut dalam rasa yang begitu indah, saling memeluk dan menyalurkan rasa yang selalu membuat mereka terbang melayang ke angkasa.


Sang surya yang hampir tenggelam, menjadi saksi akan cinta ke duanya yang terus mengelora. Sinarnya yang terang perlahan memudar dan hilang di balik samudra. Meninggalkan kegelapan yang di sebut dengan malam.


...----------------...


Di meja makan tepatnya di kediaman Antonio, terlihat Syaila, Tuan Alexander dan juga Antonio sedang melahap makan malam mereka.


Hanya terdengar suara dentingan garpu dan sendok, tidak ada percakapan sedikitpun, membuat suasana terasa sepi seperti di kuburan.


"Kakak, malam ini kamu menginap di sini saja!" seru Antonio yang sudah sangat bosan dengan suasana sepi ini. Padahal setelah sekian lama akhirnya mereka kembali berkumpul, tapi bukannya saling bercengkrama dan bercerita. Mereka hanya diam bak patung. Jika di ingat, ia merindukan momen yang ia miliki dengan Aelin dan Mr. Arkelin saat makan bersama. Mereka akan melempar guyonan jenaka yang selalu membuat perutnya tergelitik geli, dan membuatnya tertawa.


"Aku sangat merindukanmu Aelin, sebentar lagi aku akan mengambilmu dari tangan Davin. Maaf jika selama ini aku menghilang dari hidupmu. Tapi itu aku lakukan untuk menjadi setara bahkan lebih dari Davin Arselion," batin Antonio dengan kerinduan yang besar pada Aelin. Rasa yang selalu menyiksa dirinya setiap detik hidupnya.


"Aku tidak bisa Antoni, aku ingin pulang ke rumahku. Jangan khawatir aku akan meminta Darren menjemputku," timpal Syaila menolak ajakan sang adik.


Antonio mengangguk, ia tidak ingin menghalangi Syaila. Meski ia tahu Aelin juga tinggal di rumah yang sama yang akan menjadi tujuan Syaila.


Antonio berpikir, mungkin ini adalah waktunya Aelin dan Syaila bertemu dan semua drama yang di ciptakan oleh Davin akan berakhir. Ia akan membawa Aelin pergi jauh dari Davin dan kota ini.


Ketiganya kembali melanjutkan makan malam mereka, tanpa ada lagi yang bersuara. Mereka fokus menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing.


...----------------...


...****************...


Haduh Syaila mau pulang.. Si Antonio ngak ngalangin lagi....๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ


jangan lupa like koment gift anda vote ya biar othor tambah semanagtโค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2