
...167💚...
"Aku tahu aku salah Syai, tapi aku mohon dengarkan aku sekali saja. Aku tidak ingin menyakitimu, ini tidak seperti yang kamu duga. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan semuanya," pinta Davin memohon, bahkan Davin rela berlutut untuk mendapat kesempatan, untuk menjelaskan semuanya.
Ia tidak ingin Syaila tersakiti. Ini memang salahnya, seharusnya ia yang di hukum bukan Syaila yang tidak tahu apa-apa. Dirinya memang laki-laki brengsek.
"Oke karna, cintaku padamu aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
Davin merasa senang, karna Syaila memberi dirinya kesempatan untuk bisa menjelaskan semuanya pada Syaila. Ia tidak bisa kehilangan Syaila, kehilangan Syaila sama saja dengan mengingkari pesan almarhumah sang tante yang sudah merawatnya sejak kecil, dengan penuh kasih sayang.
Davin bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Ia membelakangi Syaila karna ia tidak akan bisa menjelaskan semuanya dengan menatap Syaila. Ia tidak sanggup melihat wajah cantik Syaila harus menangis dan kecewa karna ulahnya.
Begitu pula dengan Syaila yang memilih menoleh ke arah yang berlawanan dari Davin. Ia berharap di dalam hati, jika semuanya belum hancur dan ia masih bisa menyingkirkan wanita itu dari dekat Davin.
Davin meraup oksigen sebanyak-banyaknya, untuk di salurkan ke dalam paru-parunya yang terasa sesak. Seperti sedang di tusuk ribuan belati.
Memantapkan diri sebelum mendapat amarah dan umpatan kekecewaan dari Syaila. Davin menghembuskan nafasnya perlahan, sembari tatapannya jatuh ke arah sepatu mewah yang sedang ia gunakan.
"Semuanya berawal sejak kau kecelakaan." Davin menjeda kalimatnya, rasanya kerongkonganya terasa di sumbat dengan sesuatu yang sangat besar, hingga membuat dirinya kesulitan untuk berbicara.
Buliran bening mengalir sempurna dari ke dua sudut mata Syaila. Ternyata Davin sudah mengkhianati dirinya saat ia jatuh koma. Rasanya sangat menyakitkan mengetahui kenyataan itu.
"Aku sangat marah, aku sangat kalut, aku hampir putus asa saat semua dokter memilih menyerah. Termasuk Stevan dokter yang paling aku percaya. Aku tidak ingin kehilanganmu Syai. Aku tidak terima dengan semua hal yang terjadi padamu. Sampai aku tahu jika penyebab kecelaaanmu adalah wanita itu, namanya Aelin putri keluarga Dirwantar. Rasa amarah dalam diriku menjadi sebuah kebencian dan rasa ingin membalas karna sudah membuatku kehilangan dirimu. Aku begitu di kuasai emosi dan amarah hingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih ...." Davin menceritakan semua yang terjadi, mulai dari dirinya mengenal Aelin. Lalu merenggut mahkota gadis malang itu dengan paksa. Dan juga menjadi pelaku kematian dari ayah Aelin. Semuanya ia lakukan karna balas dendam.
__ADS_1
Ia melakukan hal itu untuk meluapkan rasa marah dan kebenciannya. Bahkan ia menyewa mertua palsu untuk membuat hidup Aelin menderita. Membuat hidup Aelin hancur hingga mentalnya terpuruk, dan dia memilih untuk tiada.
"Tapi siapa yang mengira jika aku malah terjebak dengan pesona wanita belia itu," batin Davin yang hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya. Menyembunyikan fakta jika ia sudah jatuh cinta pada Aelin. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran ini pada Syaila. Karna hal itu sama saja membuat wanita yang di jaganya hancur karna mengetahui sang suami mencintai wanita lain.
"Aku menikahi Aelin, fiur hanya karna balas dendam." Davin menyelesaikan penjelasannya dengan hati yang tersiksa. Bibirnya bisa mengatakan apapun tentang Aelin, tapi hal itu juga membuat hatinya terasa sakit dan ngilu.
Syaila menatap punggung Davin, ia menghapus air mata yang sejak tadi mengalir begitu saja. Hatinya merasa sedikit lega. Karna Davin ternyata menikahi Aelin hanya untuk membalas dendam atas kecelakaan yang menimpanya. Itu artinya Davin belum tahu alasan di balik kecelakaan itu. Tapi, tetap saja hatinya merasa tidak terima. Wanita mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain, itu sama saja membuat neraka di dalam rumah sendiri. Meski ia tidak mencintai Davin, tapi Davin adalah miliknya, dan ia tidak bisa berbagi.
"Jika seperti itu, selesaikan balas dendammu dan segera tinggalkan wanita yang bernama Aelin itu," tekan Syaila di setiap perkataannya, seperti perintah mutlak yang tidak terbantahkan.
Deg
Dada Davin terasa di remas dengan kuat, saat mendengar pernyataan Syaila yang memintanya untuk meninggalkan Aelin. Rasanya hatinya begitu sakit dan ingin menolak hal tersebut.
"Kamu tentu tidak akan lupa Davin, jika kamu sudah berjanji pada mamaku, akan selalu menjagaku. Aku mentoleran pembalasan dendammu pada Aelin. Karna memang dia adalah penyebab kecelakaan yang aku alami. Gara-gara dia mengambil barangku, aku harus mengejarnya Davin. Aku tidak pernah tahu jika sebuah truk melintas dan --- hiks ...." Tubuh Syaila bergetar dengan hebat, saat ia mengingat kecelakaan yang sangat mengerikan menimpa dirinya.
"Tenanglah Syai," ucap Davin menenangkan Syaila yang sudah gemetaran.
"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku, tuntaskan balas dendammu dengan cepat. Dan kembalilah padaku, aku tidak bisa berbagi atas dirimu." ujar Syaila dengan nafas terengggah-enggah bahkan kata-katanya terdengar serak.
Wajah Syaila memucat, dan detik berikutnya. Tubuh ringkih Syaila jatuh pingsan. Merasakan tidak ada gerakan dari Syaila membuat Davin kembali kalut dan panik.
"Syaila bangung! Syai bangun sayang!" Davin menepuk-nepuk pipi Syaila, mencoba menyadarkan istrinya.
__ADS_1
"Aku janji padamu Syai, aku akan segera menuntaskan dendam kita. Aku akan membuat Aelin hancur sama seperti dia membuat dirimu hancur," ungkap Davin dengan tekad yang kini membulat di sertai dengan dendam yang kembali membara. Melihat Syaila seperti ini membuat amarah dan kebencian Davin kepada Aelin tumbuh kembali.
Syaila berhasil menghasut Davin, menanamkan benih kebencian untuk menghancurkan wanita yang sudah membuatnya kecelakaan dan hampir meninggal.
...----------------...
Aelin duduk termenung di bangku taman, pikirannya masih melayang begitu jauh. Kilasan kejadian dan beberapa kejanggalan sikap Davin yang beberapa hari ini terasa begitu aneh, membuat Aelin berpikir dengan keras. Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh Davin dari dirinya?
"Awas ntar kerasukan!" oceh Lia dengan menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Aelin, yang tentu saja membuat Aelin tersentak kaget.
"Apaan sih Li!" Aelin meraih minuman kaleng tersebut dari tangan Lia, lalu meneguknya. Aliran cairan dingin menyengat kerongkongan Aelin. Namun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa terbakar.
Lia duduk di samping Aelin. Pandangannya lurus ke arah tumbuhan yang bergoyang di tiup angin sepoi-sepoi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Ae? Bahkan saat menjawab soal ujian tadi kamu tidak terlihat fokus. Bahkan kamu hanya menjawab setengah dari soal, semua itu tidak pernah terjadi sebelumnya." Nada suara Lia menjadi serius, ia menoleh ke arah Aelin yang malah menundukkan kepalanya dalam.
"Apa ini tentang Davin?" tebak Lia dengan menaikkan alisnya.
Aelin menggangguk kecil, sebagai jawaban jika tebakan Lia memang benar. Mungkin dengan bercerita pada Lia ia menemukan kesimpulan atau jawaban dari pertanyaan yang kini terngiang-ngiang di kepalanya.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Iiii Davin malah terhasut sama perkataan Syaila. Dasar Syaila busuk banget. Pengen Aothor gigit deh biar teriak 😱
Yok jangan lupa like. koment, gift dan vote ya❤️