
...71😻...
Akhir nya mobil mewah berwarna hitam yang membawa Aelin dan Davin sampai di rumah sakit.
Aelin langsung melompat keluar dari mobil dan langsung berlari meninggal kan Davin yang hanya bisa menatap punggung Aelin yang semakin menjauh dari tatapan nya.
Davin melangkah dengan santai, karna ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam.
Aelin terus berlari dengan cepat, mengguna kan kekuatan narotu seribu bayangan untuk secepat kilat mencapai kamar sang ayah.
Langkah Aelin terhenti, saat melihat Antonio yang sedang duduk dengan menunduk kan wajah nya, di mana kedua tangan nya memanggku kepala nya.
Aelin berjalan dengan perlahan, berharap jika tidak terjadi apa- apa.
Namun sementara hati nya kini benar- benar yakin jika semua nya tidak baik- baik saja.
"Kak...!" Panggil Aelin, membuat kepala Antonio mendongak saat mendengar suara gadis yang ia tunggu kehadiran nya.
"Semua nya baik- baik saja kan?" Tanya Aelin dengan nada mendesak.
Menuntut sebuah jawaban dari Antonio yang hanya diam sembari melirik ke arah kamar Mr. Arkelin yang terbuka.
Perasaan Aelin semakin tidak karuan, saat ke dua netra nya menatap pintu kamar yang terbuka.
Dengan cepat Aelin berlari menerobos masuk ke dalam ruang inap sang ayah.
Duar...
Tubuh Aelin terasa langsung di ledak kan seketika.
Di mana Aelin langsung menutup mulut nya dengan tangan nya.
Ke dua netra nya menatap lurus ke arah brangkar rumah sakit dengan tubuh Mr. Arkelin yang terbujur kaku dengan mata tertutup.
"Papy...!" Lirih Aelin dengan suara tercekat.
Tubuh Aelin rasa nya menjadi mati rasa, di mana kaki nya terasa menjadi bubur.
Hingga ia tak sanggup untuk menahan bobot tubuh nya dan ambruk di lantai begitu saja.
Ke dua mata Aelin menggenang, di mana air mata bening itu langsung tumpah begitu deras.
"Hiks... Hiks... Aaaa... Hiks... Papy..... Hiks....!" Tangis Aelin pecah seketika, dengan berteriak memanggil sang ayah.
Mendengar teriakan Aelin, Antonio segera masuk ke dalam kamar dan mendapati tubuh Aelin yang sudah terduduk di atas lantai dengan menangis histeris.
Antonio langsung memeluk tubuh Aelin, meletak kan kepala Aelin di dada nya.
Menahan rasa sedih nya, di mana ke dua mata nya juga ikut menumpah kan lahar bening.
"Akhhhh... Hiks... Hiks..." Tangis Aelin begitu pilu, terdengar begitu menyayat hati.
Kenapa ini terjadi pada nya?
__ADS_1
Kenapa takdir juga merenggut ayah nya?
Apa salah nya?
Ia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.
Ia hanya punya sang papy yang menjadi tumpuan hidup nya.
Lalu sekarang sang ayah pun pergi meninggal kan diri nya.
Aelin menggeleng kan kepala nya, mengumpul kan kekuatan untuk bangkit lalu berjalan dengan sekuat tenaga untuk mencapai tepi brangkar.
Aelin menghapus air mata nya kasar, menelan saliva nya paksa dengan kepala menggeleng.
"Py... Aelin datang py.. Papy denger Aelin kan Py.. Papy kenapa tidur lagi.. Py Aelin udah datang jadi papy harus bangun..." Seru Aelin dengan tenggorakan yang tercekat.
Menepuk- nepuk pipi sang ayah berharap jika sang ayah membuka mata nya.
Bibir Aelin semakin bergetar , namun ia tidak ingin menyerah.
Ia yakin jika ayah nya tidak akan meninggal kan diri nya.
"Py.. Jangan menakuti Aelin... Hiks... Hiks.. Py ayo bangun....!" Kini Aelin berteriak, di mana tangis nya kembali pecah.
Aelin memeluk tubuh Mr. Arkelin yang terasa dingin.
"Py ... Papy sudah berjanji pada Aelin bukan untuk sehat dan kita akan pergi bersama untuk membeli permen kesukaan Aelin, dan juga kita akan pergi ke makam Momy.. Jadi papy harus bangun, jangan tinggal kan aku sendiri...!!" Teriak Aelin histeris sambil menggoyang - goyang kan tubuh Mr. Arkelin.
"Aelin hentikan...." Seru Antonio dengan menarik tubuh Aelin untuk masuk dalam pelukan nya.
Namun Aelin segera mendorong tubuh Antonio.
"Tidak... Kak.. Tidak... Papy masih hidup,, dia pasti akan bangun.. Dia tidak akan pernah meninggal kan putri kecil nya... " Aelin kembali mendekat pada Mr. Arkelin.
Meraih tangan Mr. Arkelin yang sudah kaku dan begitu dingin, di mana hati Aelin terasa hancur berkeping- keping.
"Hiks... Hiks.... Papy jangan tinggalin Aelin.. Papy sudah berjanji pada Aelin.. Kenapa takdir begitu kejam pada ku... Papy aku tidak punya siapa- siapa lagi... Pertama momy dan sekarang papy... Hiks... Hiks..." Tangis Aelin frustasi.
Ia sungguh tidak mengingin kan semua ini.
Ia belum siap jika harus di tinggal kan oleh sang papy.
Ia yakin jika semua hal yang terjadi pada diri nya adalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
"Aku harus bangun... Aku harus bangun dari mimpi buruk ini... Ayo bangun Aelin...!" Pekik Aelin dengan mencubiti lengan nya sendiri.
Ia begitu hancur, hidup nya sudah hancur.
Seluruh hidup nya sudah berantakan. Ia tidak memiliki harapan lagi untuk hidup.
Ia ingin ikut pergi bersama sang ayah.
Bagaimana bisa ia melewati takdir sekejam ini.
__ADS_1
Bagaimana bisa takdir nya di tulis dengan tinta sial.
Masalah dan penderitaan menghantam nya dengan bertubi- tubi.
Di mana dunia begitu terlihat membenci nya.
Antonio langsung mencekal tangan Aelin yang sedang mencubiti diri nya sendiri.
Menghentikan kegilaan Aelin gang menyakiti diri nya sendiri.
"Jangan sakiti diri mu sendiri Aelin... Ini adalah takdir yang tak bisa kita hindari..." Ujar Antonio berusaha mengurangi kesedihan Aelin.
Meski ia tahu apa yang di kata kan nya hanya sia- sia.
"Kenapa takdir begitu kejam pada ku..." Ringgis Aelin dengan memukul kecil dada Antonio yang sedang memeluk nya.
Memeluk erat tubuh kecil nya, yang rasa nya sudah merasa kan kematian berulang kali karna di tempa ribuan masalah yang datang silih berganti tanpa henti.
"Aku hancur ... Aku tidak memiliki alasan untuk bertahan.. Aku hanya sendiri..." Gumam Aelin terus mengulangi kalimat nya tanpa henti.
Sementara tatapan ke dua mata indah nya berubah kosong. Tidak ada aura kehidupan di ke dua mata indah itu.
"Tenang lah... Aelin kau harus menerima kenyataan... " Ucap Antonio dengan mengecup puncak kepala Aelin.
"Di usia ku yang ke tujuh belas ini adalah malapetaka untuk ku kak.. Seharus nya remaja menjadi kan usia ini untuk mengukir hal terindah.. Namun aku di usia ke tuju belas ku hanya ada kesialan... Pertama harta yang paling berharga dalam diri ku di renggut paksa dan yang ke dua papy juga di renggut dari ku..." Lirih Aelin dengan kesedihan dan keputus asaan yang terkandung di setiap kata- kata nya. Yang seperti menjadi tombak di hati Antonio.
Namun lidah Antonio kelu, ia tidak bisa mengata kan apa pun. Untuk menghibur wanita yang kini bersedih dalam pelukan nya.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1