Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Suami durhaka


__ADS_3

...41🐳...


Tit...


Tit...


Davin melengkuh kesal, saat mendengar decitan ponsel nya.


Benda pipih persegi itu berbunyi, ketika emosi nya benar - benar sedang tidak baik.


Davin menduduk kan diri nya, pada kursi kebesaran nya.


Kursi yang menjadi identitas jika diri nya adalah seorang presdir.


Beberapa meeting dengan para investor ia tolak mentah- mentah karna mood yang hancur yang di sebab kan oleh panggilan terakhir dari Antonio.


Bukan kah ia harus bahagia dan bersemangat dengan kabar bagus yang di kabar kan oleh Antonio jika kini Mr. Arkelin sang ayah mertua kini sedang meregang nyawa.


Menunggu malaikat maut menjemput dan membawa nya menghilang dari muka bumi ini.


Tapi ada rasa aneh di ulu hati hya, bahkan Davin tidak tahu rasa apa itu.


Tit...


Tit...


Tit..


Lagi- lagi ponsel Davin berdecit, membuat Davin menghembus kan nafas nya kesal.


Lalu meraih ponsel nya, mata Davin melebar saat melihat layar ponsel nya di mana titik merah terlihat bergerak keluar melewati alur yang sudah ia buat.


Di mana titik merah itu menuju rumah Mr. Arkelin.


"Kenapa dia pulang ke rumah nya ? Apa dia mencoba kabur dari ku...?" Geram Davin menatap tajam layar ponsel nya. Yang ternyata titik merah itu menunjuk kan di mana posisi Aelin saat ini.


Tanpa Aelin sadari, Davin sudah memasang alat pelacak pada ponsel gadis kecil itu. Yang bisa memudah kan Davin untuk menemukan di mana Aelin berada dan mengawasi gerak gerik Aelin.


"Setan kecil itu, selalu membuat ku repot...!!" Geram Davin yang langsung bangkit dari duduk nya, dengan wajah kesal lalu melangkah dengan cepat, menyusuri lorong kantor di mana para karyawan melongo melihat ekspresi baru dari majikan nya, yang selama ini selalu menampak kan wajah datar tanpa ekspresi.


"Pak Davin kenapa ya? kok wajah nya keriput dan pahit persis seperti buah pare?"


"Sssttt jangan kenceng- kenceng oon. Ntar lo lagi yang jadi pelampiasan nya, Lo mau di tendang dari sini..."


Karyawan tersebut langsung melipat bibir nya dalam, mematuhi saran mujarab dari kawan nya.


Ia tidak ingin di tendang keluar dari kantor oleh Davin persis seperti seorang karyawan yang tak sengaja membicara kan sang bos, dan tanpa sengaja Davin mendengar hal tersebut, dan terjadilah pengusiran makhluk pribumi oleh belanda.


Davin menelpon asisten nya Darren sejak tadi, namun yang terdengar hanya suara nada sambung tanpa jawaban dari Darren.

__ADS_1


"Sial apa asisten bodoh itu sudah bosan bekerja dengan ku..." Umpat Davin kesal dengan kepanikan yang melanda nya. Bahkan Davin sampai menendang roda mobil nya dengan keras.


Entah apa yang terjadi pada diri nya, kenapa ia merasa begitu panik dan sangat khawatir saat melihat titik merah yang menunjuk kan posisi gadis kecil itu melawan arah dari istana nya.


Ia tidak bisa membiar kan hal ini, ia harus menangkap Aelin sebelum tawanan nya itu melarikan diri.


Sebelum nya ia begitu yakin jika Aelin tidak akan berani macam- macam, tapi seperti nya ia terlalu meremeh kan Aelin.


Meski tujuan Aelin adalah rumah nya sendiri, tetap saja Davin panik dan cemas.


Davin masuk ke dalam mobil nya dengan cepat, lalu membawa mobil mewah nya melesat keluar dari parkiran kantor.


...----------------...


Aelin membuka kelopak mata indah nya dengan perlahan, setelah ia merasa kan jika bis yang sedang di tumpangi nya berhenti.


Para penumpang mulai bergerak turun dari bis, begitu juga dengan diri nya.


Aelin menatap halte pemberhentian di depan nya.


Hanya tinggal dua belas meter dari tempat ini, ia akan tiba di rumah nya.


Terpaksa ia harus berjalan kaki, karna di sekitar sini tidak ada pangkalan ojek atau sejenis nya.


Ia juga harus mengirit uang nya untuk satu tahun lagi yang akan di gunakan sebagai biaya transportasi ke sekolah.


Dulu sebelum semua nya berubah, ia tak segan mengeluar kan uang banyak untuk sesuatu yang tak berharga.


Karna setiap bulan sang ayah selalu mengisi kantong digital nya dengan sejumlah uang.


Kehidupan damai nya sekarang sudah berubah menjadi kehidupan layak nya gelandangan.


Di mana ia tidak pernah merasa kan ketenangan untuk sejenak, selalu di kelilingi oleh orang- orang yang menatap nya rendah.


Namun beda nya di sini, ia gelandangan kelas atas, di mana ia tinggal di mansion bak istana. Namun nasib nya sama saja dengan gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan.


Setidak nya gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan, masih memiliki kebebasan untuk hidup.


Sedang kan diri nya, bahkan hidup nya sudah mati di mana hanya menyisa kan raga penuh luka.


Akhir nya Aelin sampai di rumah nya yang sudah belasan tahun menemani masa tumbuh kembang nya. Karna saking asik nya melamun diri nya tidak sadar jika ia sudah sampai.


"Astaga Nona muda...!" Seru satpam yang langsung keluar dari pos jaga nya, dan mendorong gerbang agar terbuka.


Aelin menyungging kan senyum nya pada pak satpam rumah nya yang ternyata ia rindu kan.


"Pak.. Senang bertemu bapak lagi..." Celoteh riang Aelin dengan berhambur memeluk tubuh sang satpam.


Sang satpam cukup terkejut namun membiar kan putri majikan nya melakukan apa yang di ingin kan.

__ADS_1


"Nona kenapa anda datang sendiri, suami-- oh maksud saya Tuan Davin tidak ikut kemari?" Tanya sang satpam yang cukup penasaran, karna tidak melihat kehadiran orang berpengaruh itu.


Aelin langsung mendelik, saat mendengar nama Davin di sebut kan.


Lihat lah, meski pria brengsek itu tidak ada di dekat nya, tetap saja nama busuk nya menempel dengan diri nya.


"Tidak dia suami durhaka yang tidak ingin mengantar kan istri nya..." Sarkas Aelin dengan ketus, karna mood nya benar- benar hancur.


Biar lah sesekali ia menghina dan mengumpat Davin, toh pria itu tidak akan tahu bukan.


Anggap saja ini adalah perasaan benci nya yang tak bisa ia realisasikan.


Aelin langsung melenggang masuk ke dalam rumah, rindu nya untuk pak satpam lenyap seketika, saat sang satpam menanyakan keberadaan Davin.


Menyesal diri nya merindu kan satpam itu, jika ujung- ujung nya satpam itu mengharap kan kehadiran orang lain.


Haduhhh,, otak nya benar- benar konyol. Batin Aelin membuka pintu utama, di mana Aelin langsung di sambut dengan dekorasi rumah khas gaya sang ibu tercinta.


"Aku harus segera bicara sama papy..." Gumam Aelin yang langsung berlari menaiki tangga menuju kamar sang ayah.


Namun langkah Aelin terhenti saat kepala pelayan menghampiri nya.


"Nona Aelin...!"


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2