
...170💚...
"Tidak, mana mungkin aku memikirkan dia yang sudah membuatmu hampir tiada." Bohong Davin, padahal tadi ia sedang berpikir bagaimana cara melepaskan Aelin tanpa menyakitinya.
Syaila menatap Davin dengan tajam, menelisik kebohongan di setiap perkataan yang baru saja dikatakan.
Melihat tatapan Syaila yang mulai curiga, membuat Davin langsung menangkup mesra wajah Syaila. Syaila langsung tersenyum, sepertinya apa yang dipikirkan memang salah.
"Kamu harus membalaskan dendamku pada wanita itu Davin. Aku ingin kamu hancurkan hidupnya, kamu tidak boleh lemah dan lembek padanya. Kali ini aku merasa kamu sangat mencintaiku, bahkan kamu membalas orang yang sudah menyakitiku. Tapi, jika boleh aku ingin ikut andil dalam pembalasan dendam ini."
Davin menautkan kedua alisnya dalam. Syaila menjauh dari Davin dan memegang pembatas balkon. Menatap nun jauh dimana kedua bola matanya dimanjakan dengan pemandangan hijau yang begitu indah dan menyejukkan.
"Ikut andil?" tanya Davin dengan wajah bingung. Apa yang sedang dipikirkan oleh Syaila? pikir Davin yang merasa sedikit gelisah.
"Aku ingin membalas dendam pada Aelin. Aku yang menjadi korbannya, bukankah aku berhak membalasnya."
"Aku harus berada di dekat wanita itu. Aku harus mencari ponsel yang pernah digunakan wanita itu untuk mengancamku," lanjut Syaila dalam hati.
"Itu tidak mungkin Syai, aku tidak mungkin mengatakan pada Aelin jika kita sepasang suami istri."
Syaila merangkul manja lengan kekar Davin, dan tersenyum misterius.
"Jangan khawatir, aku istri Davin Aeselion. Aku akan mengurus semuanya. Selagi kamu terus berjalan di alur yang tepat. Maka semuanya akan aman." Syaila mengedipkan sebelah matanya dengan genit, lalu masuk meninggalkan Davin sendiri.
Syaila segera menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Nafasnya memburu dengan cepat, terlihat dari dadanya yang naik turun tidak seirama.
Peluh keringat mulai mengalir dari keningnya. Sehingga Syaila menyeka keringat yang menetes.
"Tidak, permainan masih di tanganku. Aku sudah berhasil menghasut Davin. Aku hanya perlu mengambil ponsel gadis itu dan segera menendangnya dari kehidupan Davin. Aku sungguh tidak menyangka jika Davin sampai membalas dendam pada gadis itu. Hidupku benar-benar tidak bisa tenang." Syaila bermonolog dengan dirinya sendiri, sambil terus mondar-mandir dengan perasaan campur aduk.
...----------------...
Langit malam datang menyapa, membalut siang dalam selimut gelapnya. Namun, terlihat cahaya bulan yang begitu indah dengan gemerlap bintang yang bertaburan. Awan putih pun tak ingin tinggal diam, untuk bisa menampilkan pesona lembut nan putih suci miliknya.
Cahaya temaram bulan, masuk melalui celah gorden di kamar Aelin. Wajah cantik bak boneka porselen itu menggeliat dengan begitu gemulai. Saat merasakan perutnya yang rata merasa keroncongan karna lapar.
__ADS_1
Cacing-cacing nakal yang ada di dalam perutnya menganggu tidur nyenyaknya. Aelin bangun dan mengucek perlahan kedua matanya yang rasanya masih ingin terpejam.
Tapi sayang, cacing di perutnya tidak membiarkan hal itu. Aelin menekan saklar lampu yang ada di balik headboard ranjangnya. Seketika ruangan kamarnya menjadi terang benderang.
Aelin menyipitkan kedua matanya, saat silau cahaya lampu sedikit menyakiti pupil matanya. Aelin menoleh ke samping, ternyata Davin belum pulang.
"Apa malam ini dia tidak pulang juga?" gumam Aelin, lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu berjalan menuju meja yang tak jauh dari ranjangnya.
"Maya!!" teriak Aelin memanggil pelayan pribadinya. Tapi tidak ada sahutan dari Maya.
"Maya!!!" panggil Aelin dengan teriakan yang semakin kencang. Tapi, lagi-lagi Maya tidak menyahut atau pun nampak batang hidungnya.
"Ck, dimana Maya? aku sangat kelaparan. Apa dia mau aku mati kelaparan karna tidak dibawakan makan malam," decak Aelin dengan sedikit kesal, lalu menuangkan segelas air dan meminumnya.
Kruukkkk!!
Suara perut Aelin yang semakin kelaparan, saat air masuk ke dalam perutnya.
"Sabarlah, aku akan memberimu makan. Jangan gedor-gedor kayak ngak pernah makan belasan tahun," oceh Aelin dengan memandang perutnya.
Klek!
Aelin membuka pintu. Akan tetapi pandanganya begitu kontras dengan kegelapan. Kening Aelin berkerut bingung. Tumben sekali lampu di seluruh rumah mati seperti ini. Pikirnya lalu mengedarkan pandanganya ke seluruh arah penjuru rumah.
"Kenapa lampunya padam? Apa para pelayan lupa menyalakan lampu?" gumam Aelin bertanya pada dirinya sendiri.
Namun, tiba-tiba di bawah kakinya terlihat sinar lilin elektronik dengan berbagai warna. Lilin-lilin itu menyala bergantian menciptakan garis lurus.
Aelin semakin bingung, melihat deretan lilin yang berjejer mulai dari pintu kamarnya hingga sepanjang koridor.
"Siapa yang meletakkan lilin elektronik sebanyak ini?" lirih Aelin yang mulai penasaran, dan mengikuti cahaya lilin yang terus menuntunnya menuju aula besar. Dimana aula tersebut sering digunakan untuk menjamu para kolega bisnis, serta merayakan sebuah pesta di kediaman Arselion.
Aelin menatap bingung pintu besar yang kini menjulang di depannya. Cahaya lilin tersebut berakhir di depan pintu aula besar.
Krieeettt!!
__ADS_1
Pintu besar di depan Aelin seketika terbuka dengan sendirinya. Aelin sedikit tersentak kaget. Aelin memandang ke arah dalam aula, bahkan lampu di dalam aula besar juga dimatikan sehingga meninggalkan kegelapan.
Tapi siapa yang ada di dalam? dan membuka pintu? tanya Aelin dalam pikirannya.
Aelin melangkahkan kakinya memasuki aula besar tersebut. Terus melangkah melawan gelapnya ruangan besar itu. Bodohnya lagi, ia sama sekali tidak membawa ponsel.
Ia begitu penasaran dengan cahaya lilin yang menyala dengan berbagai warna, sehingga melupakan benda yang seharusnya ia bawa.
"Ada orang di sini?" pekik Aelin, dimana suara Aelin seketika memantul-mantul di dalam aula besar tersebut.
Tak!
Seluruh ruangan seketika bersinar dengan terang, hal tersebut sontak membuat Aelin menyilangkan kedua tangannya ke depan wajah. Saat kedua matanya silau dengan cahaya terang lampu yang tiba-tiba di nyalakan.
Aelin menurunkan kedua tanganya dari wajahnya. Mengedarkan pandanganya yang sontak membuat bibirnya terbuka lebar. Saat melihat pemandangan yang begitu indah. Ruangan sebesar ini di sulap dengan dekorasi romantis. Dimana ratusan lampu menyala menampilkan keindahan cahayanya. Lalu ribuan mawar merah menghiasi setiap sisi ruangan tersebut.
Aelin semakin terpana kagum saat tubuhnya berbalik ke belakang. Terlihat lambang love yang terbuat dengan bunga berdiri dengan kuat. Dimana di depan lambang itu terlihat sebuah meja bundar dengan dua buah kursi.
Sungguh sangat indah dan sangat menakjubkan, Aelin seperti merasa berada dalam sebuah dongeng. Sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluk Aelin dari belakang. Hingga membuat Aelin terkejut bukan kepalang.
"Apa kamu suka kejutanku?" bisik Davin tepat di telinga Aelin, sesekali dengan nakal Davin menggigit daun telinga Aelin.
Tubuh Aelin meremang seketika, tapi ia sangat senang dengan kejutan yang disiapkan oleh Davin.
"Makan malam romantis," cicit Aelin dengan mengulum senyum bahagia.
...----------------...
...****************...
Aduh othor pengen deh😌
jangan lupa koment like gift and vote. Kalau ngak othor marah nih😡
canda zeyeng🤣🤣😍
__ADS_1