
...107💚...
"Terimakasih sudah menunggu ku dengan sabar di saat ke dua mata ini terpejam ...," ujar Davin tulus tanpa ada kebencian dan dendam yang selama ini di pendam.
Merasa kan hembusan nafas Davin yang menerpa wajah nya, perlahan Aelin membuka ke dua kelopak mata nya dengan indah.
Wajah tampan bak pahatan dewa yunani kini berada tepat di depan mata nya. Bahkan jarak nya hanya tinggal tiga centimeter.
Hati Aelin semakin luluh saat mendengar suara bass serak khas Davin yang mengucap kan terimakasih pada nya dengan begitu tulus.
Aelin bisa merasa kan nada cinta di setiap perkataan Davin.
"Ini sudah kewajiban ku sebagai istri mu..." Timpal Aelin dengan menatap dalam pada dua manik bola mata Davin.
Syuiitt.... Darr....
Mendengar pengakuan Aelin membuat kembang api dalam diri Davin meletus dan menghiasi langit.
Ia benar- benar sangat senang mendengar ucapan indah Aelin yang mengakui status dalam pernikahan mereka.
Tangan Davin yang ada di pipi Aelin kini beralih tempat ke belakang leher Aelin.
Dengan gerakan slow motion Davin menarik wajah Aelin semakin mendekat pada wajah nya.
Cup..
Ke dua benda kenyal dan merah milik Aelin dan Davin kini bersentuhan dengan sempurna.
Aelin kembali memejam kan mata nya, saat bibir nya merasa kan bibir Davin kini berada di bibir nya.
Gelenyar aneh dalam diri Aelin merasa bergejolak dan memanas.
Ada letupan aneh yang ia rasa kan, di mana darah Aelin terasa berdesir hebat.
Membuat ke dua jantung itu berdetak dengan cepat, saling bersahutan dengan detakan dan degupan yang semakin bertabuh dengan keras.
Sementara Darren membulat kan ke dua mata nya. Bahkan ke dua bola mata nya hampir copot melihat adegan di hadapan nya.
Glek..
Darren menelan saliva nya paksa, saat di mana rasa nya jantung nya merosot jatuh ke dasar perut
"Sial... Mereka berdua memang tidak menganggap ku ada di sini." Ringgis Darren yang hampir menangis di tempat.
Dengan perlahan Darren bangkit dari duduk nya, lalu keluar dari pintu dengan sangat perlahan hingga pintu ruangan itu tidak mengeluar kan suara sedikit pun.
Darren menghembus kan nafas nya teratur, sembari tangan nya mengusap dada nya yang sudah kram karna melihat adegan luar biasa di depan mata nya.
__ADS_1
Bahkan ke dua pipi Darren sampai memerah dengan sempurna. Seperti tomat matang yang hampir busuk.
"Darren kenapa kamu di luar..? Dan wajah mu kenapa memerah seperti itu?" Tanya Frans yang tiba- tiba muncul seperti hantu.
Darren terlonjak kaget, tapi untung berat badan nya berat jadi tidak langsung lompat karna kaget.
"Frans kamu benar- benar membuat ku jantungan..." Seloroh Darren kesal.
"Kamu punya penyakit jantung?" Tanya Frans dengan polos nya.
"Aku baru melihat orang ciuman bocah..." Timpal Darren dalam hati.
"Aku masih sehat oke..." Sanggah Darren dengan wajah cemberut.
"Baik lah.. Aku masuk dulu aku harus melihat kondisi Tuan Davin..." Frans tersenyum lalu memegang knok pintu untuk masuk.
Namun tangan nya langsung di hempas dengan kasar oleh Darren membuat Frans menatap tidak suka pada Darren.
"Kamu tidak bisa memeriksa Tuan sekarang... Periksa saja nanti..." Ucap Darren dengan gelagapan.
Ia tidak ingin bocah seperti Frans melihat adegan dewasa yang tengah terjadi di dalam.
"Kamu ini sangat aneh... Memang nya apa yang terjadi di dalam?" Frans mulai penasaran.
"Ahhh sudah lah... Lebih baik kamu ikut bersama ku ke kantin... Jangan khawatir kan Tuan Davin dia lagi mendapat asupan gizi di dalam..." Darren langsung merangkul Frans dan menggeret Frans untuk menjauh dari ruangan laknat itu.
...----------------...
"Hah..!"
Terdengar suara deru nafas yang tidak stabil. Di mana ke dua wajah mereka kini terlihat memerah dengan sempurna. Seperti habis di cekik.
Sementara Davin tersenyum lebar melihat wajah Aelin yang memerah dan menunduk.
Terlihat sangat menggemas kan dan menggelikan.
Merasa Davin yang menatap diri nya. Aelin segera meraih salad sayur yang sudah ia buat kan dengan penuh cinta untuk Davin.
"Oh ya om.. Aku bawa kan salad sayur untuk om..." Cicit Aelin yang berusaha mengontrol diri nya dan mencair kan suasana yang cukup canggung di antara diri nya Davin.
Davin berusaha menduduk kan tubuh nya dengan menyender kan punggung nya pada headbord.
Melihat Davin yang sedikit kesusahan, Aelin segera membantu nya.
Davin semakin merasa istimewa saat melihat Aelin memasak untuk diri nya.
Ia benar- benar sangat bahagia. Aelin merawat dan menjaga nya dengan sangat baik.
__ADS_1
"Apa kamu membuat nya sendiri?" Tanya Davin memasti kan jika salad yang ada di tangan Aelin memang di buat sendiri oleh Aelin.
"Iya aku membuat nya sendiri Om.. Aku sempat berpikir membuat makanan apa yang bisa om makan... Tapi setelah aku pikir -pikir Salad sayur seperti nya bagus untuk kesehatan om Davin..." Jelas Aelin dengan begitu Antusia.
Davin semakin tersenyum dengan lebar melihat Aelin yang kini terlihat bahagia.
Tidak ada gurat kesedihan di wajah gadis cantik bak peri itu.
Rasa nya diri nya juga ikut bahagia melihat Aelin yang tersenyum.
Aelin mulai menjulur kan tangan nya menyuapi Davin.
Dengan senang hati Davin mencomot salad dari tangan Aelin.
"Hmmm ini enak sekali..." Lengkuh Davin saat merasa kan cita rasa yang enak menggoyang lidah nya.
Ia belum pernah makan salad seenak ini.
Aelin terlihat sangat senang, saat mendapat kan pujian dari Davin.
Hari ini hari nya benar- benar sangat indah. Berada di samping Davin membuat diri nya bahagia. Seakan Davin adalah sumber kebahagian Aelin.
"Apa kamu suka?" Tanya Aelin dengan malu- malu.
"Tentu aku sangat suka.. Setelah aku pulang dari rumah sakit.. Kamu harus membuat kan ku salad setiap hari..." Timpal Davin dengan tersenyum lebar bahkan gigi nya yang rapi terlihat.
"Tentu aku akan memasak untuk mu setiap hari..."
"Ini sekarang giliran mu.. Buka mulut mu...!" Titah Davin dengan menyodor kan salad sayur pada bibir Aelin.
Aelin pun mencomot salad tersebut dari tangan Davin.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙