
...34🕊...
Prang...
Prang...
Prak...
Dengan satu kali sapuan tangan Davin, piring- piring serta hidangan yang ada di meja makan kini berpindah berserakan di lantai.
Davin mengepal kan tangan nya dengan erat, bahkan hingga buku- buk tangan nya memutih.
Belum lagi urat- urat kemarahan dan kekesalan bermunculan di setiap inci tubuh nya.
Rahang tegas Davin mengeras dengan sempurna, di iringi dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"Berani sekali bocah ingusan itu mengata kan semua hal itu pada ku... Apa semua yang sudah ku lakukan pada nya, masih belum cukup untuk membuat nya hancur... Dia masih mempunyai nyali yang cukup besar... Kamu menantang orang yang salah Aelin Dirwantar... Aku pasti kan sampai hidup ke tujuh pun kamu tidak akan pernah lepas dari jeratan ku...."
Brak
Sekali lagi Davin menggebrak meja dengan sangat keras, bahkan beberapa gelas yang berdiri tumbang seketika saat mendapat getaran meja dari pukulan Davin.
...----------------...
Sementara Aelin menghembus kan nafas nya pelan.
Kini ia sudah keluar dari rumah mewah neraka jahannam itu.
Rasa nya sangat lega bisa keluar dari rumah yang sangat menyiksa mental itu.
Aelin menoleh kan kepala nya ke belakang, memandangi rumah mewah dan megah yang berdiri menjulang tinggi di belakang nya.
"Setidak nya aku bisa menghirup udara bersih tanpa racun..." Gumam Aelin yang dengan sedikit tergesa- gesa melangkah kan kaki nya keluar dari halaman luas rumah Davin.
Ia sangat lega, tidak ada pengawal atau anak buah Davin yang menganggu jalan nya.
Setidak nya ia bisa sampai di sekolah dengan lancar, tanpa harus terlibat drama menyebal kan di pagi buta.
Aelin menyentuh dada nya, menyungging kan senyum lebar di wajah nya.
"Hati kali kamu berhasil melewati semua nya... Dan mulai sekarang kita tidak akan lagi menjadi lemah, karna ini giliran kita..." Lirih Aelin lagi, lalu memgangguk kan kepala nya. Sebagai isyarat ia siap melewati semua nya meski ia hanya sendiri.
Sementara tanpa sepengetahuan Aelin, ke dua mata tajam Davin sejak tadi memperhati kan gerak- gerik istri kecil nya dari lantai tiga, yang terus berjalan untuk menembus gerbang utama.
"Munafik...." Umpat Davin dengan seringgai nya, saat melihat wajah sedih Aelin yang tiba- tiba berubah sumringah.
Tentu saja ia tahu dan dapat membaca raut wajah Aelin yang sangat mudah di tebak untuk nya.
Ia tahu, jika Aelin berpura- pura tegar dan kuat, menyembunyi kan kesedihan nya dari mata semua orang.
__ADS_1
Berlagak seperti karang yang terbenam di pasir dengan kuat, tetap menghadang ombak yang menghantam nya berkali- kali.
"Kamu ingin berubah menjadi harimau bukan, tapi nyata nya kamu hanya seekor kucing kecil..." Lirih Davin dengan netra yang terpejam dalam saat tubuh Aelin menghilang di balik gerbang besar istana nya.
Davin merogoh kantong saku nya dengan cepat , mengeluar kan benda pipih ajaib yang biasa di kenal dengan ponsel.
Dengan lihai, Davin memain kan benda tersebut, sebelum memencet kontak Darren sang asisten.
Tut...
Tut...
Tut...
Suara nada sambung panggilan terdengar begitu jelas dari dalam ponsel Davin.
Sementara wajah tampan nya sudah beralih pada mode datar tak berekspresi.
Darren yang sedang mangkal di samping rumah megah Davin, langsung meletak kan semangkok bakso yang baru saja di pesan nya dari tukang bakso keliling, yang biasa berjualan di sekitaran komplek elit tersebut.
Belum sempat ia menyeruput kuah bakso yang nikmat tersebut, getaran benda sialan dari saku jas nya bergetar.
Darren menghembus kan nafas nya kasar, saat melihat jika yang menelpon adalah sang majikan.
Darren meringgis dalam hati, ia sedikit kesal kenapa jika ia sedang bersantai untuk menikmati semangkok bakso yang selalu membuat air liur nya tumpah, maka sang majikan Davin selalu saja menghenti kan diri nya.
Dengan sekali gerakan jari nya, Darren mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.
"Iya Tuan...." Ujar Darren dengan wajah serius, jika berkaitan dengan pekerjaan maka wajah nya akan otomatis berubah serius, seperti sebuah microwave.
"Aelin baru saja keluar dari gerbang utama. Ia akan berangkat sekolah... Jadi aku minta kamu untuk mengantar nya sampai di sekolah..." Titah Davin mutlak dengan setiap penekanan di setiap kalimat nya.
"Baik Tuan..."
Tut...
Panggilan langsung terputus antara Darren dan Davin.
"Bang.. Ngak jadi makan lagi?" Seru Bang japri pada Darren.
"Iya bang.. Ada kerjaan nih,,, mungkin besok aja saya pesen lagi... Abang tetep keliling di mari kan?"
"Iya bang... Tapi saya heran deh, kenapa setiap abang mau makan bakso saya. Selalu saja di panggil ama bos besar..? Kasian bang bakso nya belum di apa- apain dah langsung di tinggal aja.. Mubazir loh..." Bang Japri sudah tak tahan untuk menanya kan hal itu.
Karna ia benar- benar sangat heran dengan pelanggan setia nya ini yang belum pernah mencicipi bakso nya.
Meski Darren selalu memesan semangkok bakso, namun saat sesendok kuah akan masuk dalam mulut nya. Pasti ada saja halangan yang membuat pemuda tampan itu pergi dengan wajah kecewa.
Mungkin sebuah kesialan sedang mengikuti Darren. Pikir Bang japri.
__ADS_1
"He.. He.... Jangan kan Bang japri yang heran.. Saya aja heran... Tapi mau gimana lagi... Ya udah bang... Saya permisi dulu..." Darren langsung melangkah pergi meninggal kan bang japri yang hanya menggeleng- geleng pelan sembari tatapan nya menatap punggung Darren yang semakin mengecil.
Bang japri melempar pandangan nya pada rumah besar, bahkan yang paling besar di komplek ini, yang selalu memanjakan mata nya dengan keindahan rumah tersebut.
...----------------...
Aelin berjalan dengan langkah cepat, dan berhenti di pinggir jalan.
Ia harus menunggu angkutan umum yang lewat untuk di tumpangi menuju sekolah nya.
Biasa nya ia selalu di antar oleh supir saat ia masih berada di rumah nya.
Namun kini semua nya sudah berbeda. Ia tidak mungkin meminta seseorang dari rumah Davin untuk mengantar kan nya pergi sekolah.
Meski sudah di renggut mahkota nya, ia masih memiliki harga diri untuk tidak meminta pada pria brengsek itu.
Untung saja, ia masih memiliki beberapa lembar uang yang pasti nya akan ia guna kan untuk beberapa hari ke depan.
Ia juga tidak cukup khawatir karna ia masih memiliki tabungan yang jumlah nya lumayan banyak.
Aelin terus melirik ke sana dan kemari, sembari sekilas melihat arloji di tangan nya yang terus berdetik menghitung waktu.
Ciiittt...
Namun tiba- tiba sebuah mobil mewah limison yang sangat familiar bagi Aelin berhenti tepat di depan nya.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1