
...161💚...
Tak berselang lama, setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mobil Darren terparkir tepat di depan rumah mewah kediaman Antonio.
Darren segera turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam rumah besar itu. Terlihat Syaila dan Antonio sedang mengobrol ria. Entah apa yang sedang mereka obrolkan, tapi Darren sama sekali tidak peduli.
"Selamat malam Nyonya, Tuan!" seru Darren sambil membungkukkan tubuhnya 190°, memberi hormat pada istri serta adik ipar majikannya.
Obrolan antara Antonio dan Syaila terputus, saat mendengar salam hormat dari Darren. Mereka berdua bersamaan menatap asisten pribadi Davin yang sudah berdiri dengan tegap, siap menjemput Syaila.
"Baiklah, Antoni aku pulang dulu. Kapan-kapan kita akan mengobrol lagi. Jangan lupa janjimu memberiku satu anak perusahaan yang ada di pusat kota." Syaila beranjak dari duduknya.
"Iya, aku akan segera mengurus hal itu kak. Lain kali kakak harus menginap di rumah. Rumah ini terasa sepi sekali." Antonio memeluk Syaila sekilas, sebagai pelukan perpisahan. Tidak ia pungkiri jika ia memang merindukan kakak perempuannya itu.
"Darren, ayo!" titah Syaila yang langsung di angguki oleh Darren. Darren merentangkan tangannya ke depan, mempersilahkan Syaila untuk berjalan lebih dulu. Lalu mengikuti setiap langkah Syaila dari belakang.
Antonio memandang kepergian sang kakak, dengan harapan semua drama yang sudah di ciptakan oleh Davin akan berakhir.
Deru mesin mobil, mulai samar terdengar. Menandakan jika mobil yang di kendarai oleh Syaila dan Darren sudah keluar dari gerbang utama. Dengan sigap, Antonio segera berlari keluar dengan membawa kunci mobilnya.
Ia harus pergi ke kediaman Davin, mana mungkin ia akan melewatkan drama besar yang akan terjadi. Ia tidak sabar melihat ekspresi Davin yang pastinya akan kebingungan setengah mati. Tapi di lain sisi, ia juga khawatir dengan Aelin yang pastinya akan sangat hancur ketika mengetahui kebusukan pria yang sangat di percayainya itu.
Ia juga tidak bisa membiarkan Aelin melewati semuanya sendiri, ia akan menjadi sandaran Aelin dan membujuk Aelin untuk ikut bersama dirinya.
Mobil sport Antonio melesat dengan kecepatan cukup tinggi, membelah jalanan dimana cahaya lampu menyinari setiap tepian jalan yang terlihat gelap pekat.
.
"Darren malam ini aku ingin pulang ke rumah, aku bosan di villa," ujar Syaila sambil pandangannya fokus pada handphone di tangannya.
__ADS_1
"Baik Nyonya," balas Darren dengan singkat, dan sesuai dengan perintah Syaila, Darren melajukan mobil menuju rumah utama.
"Untung saja, malam ini Nona Aelin sedang berada di hotel. Itu artinya Nyonya Syaila tidak akan tahu keberadaannya," batin Darren menatap fokus pada jalanan di depannya.
Hanya butuh beberapa menit, mobil Darren sudah sampai dan berhenti tepat di depan pintu utama. Tanpa menunggu, Syaila segera turun dari mobil dan berjalan begitu saja menuju bangunan megah di depannya. Ia sudah sangat merindukan rumah besarnya, meski tidak lebih besar dan mewah dari rumah Antonio.
Dua pengawal yang berjaga di pintu utama, di buat kaget bukan kepalang. Melihat kedatangan Syaila yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sedikitpun. Setelah sekian lama akhirnya Nyonya besar kembali ke kediamannya.
Syaila berjalan dengan kepala terangkat, menunjukkan posisinya sebagai Nyonya di rumah ini. Terlihat begitu angkuh dan sombong dengan tangan di lipat ke depan dada.
"Apa kalian ingin di pecat? Cepat buka pintunya!!!" bentak Syaila pada dua pengawal yang sejak tadi hanya diam terkejut , seperti melihat hantu.
Sadar dari keterkejutannya, meski ke dua pengawal tersebut belum bisa mencerna apapun. Dengan sigap mereka membuka pintu utama untuk Syaila. Sehingga Syaila bisa melihat ruangan yang sama sekali tidak pernah berubah dari terakhir kali dirinya menata semua barang yang ada di rumah ini.
Syaila melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut ruangan tanpa terkecuali.
"Nyonya besar," lirih beberapa pelayan yang sedang melintas di ruangan itu. Mereka semua begitu terkejut melihat kedatangan Syaila yang tiba-tiba.
"Kau!! Kenapa manatapku seperti itu?" tanya Syaila dengan menunjuk salah satu pelayan yang ada di pojok ruangan. Pelayan yang di tunjukpun langsung gemetar dan membungkuk hormat.
"Nyonya besar, senang anda sudah kembali," cicit pelayan itu tanpa berani memandang ke arah Syaila.
Tidak ingin, meladeni para pelayan. Syaila memilih untuk naik ke lantai atas menuju ruang kerja Davin. Hari sudah malam bukan? itu artinya Davin sudah pulang ke rumah.
Para pelayan segera berkumpul, sembari mengelus dada masing-masing.
"Nyonya besar sudah pulang, astaga pasti akan terjadi perang besar jika dia tahu Tuan Davin sudah menikah lagi," bisik salah satu pelayan pada pelayan lainnya.
"Aku sempat berdoa, agar Nyonya besar tidak pernah pulang lagi. Aku lebih suka dengan Nona Aelin yang lembut dan baik hati. Tapi aku sangat takut, karna pasti Nona Aelin akan sangat terluka jika tahu Tuan hanya membawanya ke rumah ini sebagai mainan balas dendam," balas yang lainnya dengan terus menatap Syaila yang sedang menaiki tangga.
__ADS_1
"Honey!!! Davin!!" teriak Syaila memanggil Davin, namun tidak ada sahutan sama sekali. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Syaila membuka pintu ruang kerja Davin begitu saja.
Syaila terlihat sedikit kesal, saat melihat ruangan tersebut kosong. Tidak ada sosok yang sedang ia cari.
"Ck, dimana kamu Davin? Apa kamu belum pulang? Tapi ini sudah malam, tidak mungkin dia lembur," desah Syaila kesal lalu kembali menuju kamar dirinya dengan Davin.
Syaila merogoh ponsel yang ada di dalam tas mewahnya. Menekan kontak dengan nama Davin, hingga terdengar suara sambungan telpon. Namun, tidak ada tanda-tanda panggilannya di angkat.
Syaila terus mencoba menelpon Davin, sambil terus berjalan menuju kamarnya dengan Davin. Akan tetapi, langkah Syaila berhenti saat tanpa sengaja sorot matanya menangkap sesuatu dari celah salah satu pintu kamar yang terbuka.
Syaila mematikan panggilan telponnya, lalu mendekat ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit. Semakin dekat Syaila bisa melihat ada foto pengantin seorang wanita yang di pajang di atas meja nakas. Tapi siapa? pikir Syaila yang semakin penasaran dan mempercepat langkahnya.
Syaila membuka pintu kamar tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Lalu meraih figura foto yang membuat dirinya langsung terpaku di tempat.
Deg...
Syaila menggengam figura foto tersebut dengan erat. Sorot matanya terlihat begitu tajam dan penuh amarah, ketika melihat foto pria yang ada dalam figura itu adalah Davin dengan wanita lain.
Nafas Syaila memburu dengan hebat, dimana air matanya tumpah seketika. Rasanya saat ini seluruh organ dalamnya di keluarkan dari tubuhnya.
"Foto apa ini?" lirih Syaila dengan suara gemetar penuh pertanyaan.
Apa Davin mengkhianatinya dengan menikahi wanita lain?
...----------------...
...****************...
Syaila dah tahu kan, Haduhhhh serem yak si Syaila asal banting foto pernikahan orang.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, gift anda vote ya.. Yang banyak jangan malas-malas oke💚❤️💛