Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Di mana Nyonya Arselion


__ADS_3

...139💚...


"Tapi tetap tidak bisa seperti itu sayang... Selama kamu sakit Darren yang selalu menghandle semua pekerjaan mu.. Jadi dia lebih di perlukan berada di samping mu... Jadi jangan kirim dia pergi kemana pun..." Kilah Aelin yang mencoba membujuk Davin.


Ia tahu Davin saat ini sedang merasa kesal, karna kejadian sepele barusan.


Maka nya dari itu Aelin tidak ingin Davin mengambil keputusan yang salah dengan mengirim Darren pergi.


Darren mengangguk kan kepala nya membenar kan apa yang di kata kan Aelin.


Di mana ia langsung mendapat tatapan membunuh dari Davin.


Davin menatap Aelin intens.


"Ck.. Jangan menatap ku seperti itu... Aku tahu kamu sedang marah.. Tapi mengambil keputusan dalam kemarahan itu bukan lah hal yang baik. Apa lagi karna hal sepele..." Ujar Aelin lagi saat melihat bibir tebal seksi milik Davin akan mengata kan sesuatu.


"Tidak.. Keputusan ku sudah bulat.. Darren akan tetap pergi ke singapure..." Putus Davin dengan menekan kan suara nya. Di mana ia tidak ingin ada lagi bantahan atau pun penolakan.


Tubuh Darren langsung melemas, hari ini kesialan membuntuti diri nya.


"Dasar sahabat laknat.. Tega sekali dia mengirim ku ke singapure. Untuk mengerja kan proyek di pelosok itu.. Tidak ada jaringan atau pun tehnologi di sana..." Batin Darren meringgis meratapi nasib nya, yang akan hidup seperti orang jaman dulu di mana tidak ada tehnologi atau pun benda- benda jaman modern.


Aelin menggeleng kan kepala nya melihat sikap keras kepala Davin, yang masih saja kekeh untuk mengirim Darren pergi ke singapure.


Aelin mendekat kan kepala nya ke arah telinga Davin. Di mana Darren langsung memaling kan wajah nya. Agar otak polos nya tidak terkontaminasi dengan adegan terlarang di hadapan nya.


Aelin membisik kan sesuatu di telinga Davin, di mana ke dua mata tajam Davin langsung melebar dengan sempurna.


"Bagaimana.? Masih ingin mengirim Darren pergi lagi?" Aelin menarik kepala nya kembali.


Seringgai licik muncul di bibir Davin, lalu menatap Aelin dengan tatapan memangsa.


"Darren karna aku berbaik hati pada mu.. Aku tidak jadi mengirim mu ke singapure.. Ayo mari kita berangkat sekarang..." Ucap Davin dengan senyum miring nya di mana tatapan nya masih menatap ke arah Aelin yang tersenyum manis.


"Hah?" Darren terkejut bukan main mendengar ucapan Davin barusan.


Yes, ia benar- benar terselamat kan kali ini.


"Baik tuan ayo kita berangkat sekarang..." Darren bergegas bangkit dari duduk nya dengan semangat yang menggebu- gebu.


Entah mantra apa yang di rapal kan oleh Aelin pada Davin.


Namun ia sangat berterimakasih pada Aelin karna berkat Aelin ia tidak jadi di kirim pergi.

__ADS_1


Davin beranjak dari duduk nya dan mendekat pada Aelin.


"Ingat apa yang kamu kata kan pada ku.. Jangan coba- coba mengingkari nya..." Tegas Davin menatap Aelin tajam.


"Pergi lah... Aku tidak suka mengingkari janji..." Balas Aelin dengan seringgai nya.


Sebelum pergi Davin mengecup puncak kepala Aelin dalam lalu melangkah pergi.


Sementara Darren langsung mendekat ke arah Aelin.


"Nona terimakasih sekali lagi anda menyelamat kan saya.. Anda memang yang terbaik..." Puji Davin dengan memberi kan dua jempol nya pada Aelin.


"Sama- sama.. Tapi ingat jangan masuk ke dalam kamar siapa pun tanpa mengetuk pintu lagi.. Jika kamu tidak bisa mengubah kebiasaan mu aku pasti kan aku yang akan meminta tuan mu itu untuk mengirim mu ke arab..." Balas Aelin dengan memperingat kan Darren.


"Oke ..." Darren langsung melangkah menyusul Davin.


Ia tidak ingin di hukum lagi karna alasan lelet dalam berjalan.


Sudah cukup hari ini diri nya di buat serangan jantung.


...----------------...


Davin masuk ke dalam ballroom perusahaan nya.


"Selamat datang Tuan Davin..." Sambut salah seorang pengusaha yang bernama Tuan Copra. Salah satu rekan bisnis Davin.


"Selamat juga Tuan Copra.." Balas Davin dengan wajah datar nya.


"Senang bertemu dengan anda Tuan Arselion...!" Sapa salah satu rekan bisnis Davin yang datang sambil menjulur kan tangan nya hendak berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan mu juga Tuan Glar..." Davin menerima jabatan tangan rekan bisnis nya itu.


"Pesta penyambutan mu kembali sangat luar biasa Tuan Arselion sangat besar dan mewah..." Puji Tuan Glar kagum.


"Tentu pesta seorang Arselion harus semewah dan semegah ini... Karna tidak mungkin jika pria terkaya di asia menyelenggara kan pesta sederhana." Balas Davin dengan keangkuhan nya.


"Anda benar Tuan Arselion.. Tapi aku sedikit penasaran.. Apa Nyonya Arselion tidak ikut hadir.?" Tanya Tuan Glar di mana di sebelah kiri nya ada sang istri yang tengah menggandeng mesra lengan nya.


Davin langsung bungkam dengan pertanyaan yang di lempar kan oleh rekan bisnis nya.


Apa yang harus ia kata kan sekarang?.


"Istri nya sedang sangat sibuk Tuan Glar jadi nyonya Arselion tidak bisa datang kemari..." Seru suara bariton dengan penuh penekanan yang asal menyambar pertanyaan yang di tuju kan pada Davin.

__ADS_1


Davin langsung memutar tubuh nya, di mana ia bisa melihat wajah yang sangat familiar bagi nya.


Wajah yang sudah selama berbulan- bulan tidak ia lihat. Namun kini muncul di hadapan nya.


"Antonio..." Lirih Davin dengan menatap lekat pada Antonio yang sedang tersenyum miring pada nya.


"Bukan kah apa yang aku kata kan benar kakak ipar..?" Lanjut Antonio. Di mana Tuan Glar dan Tuan Copra menaut kan alis mereka.


"Sialan kenapa dia bisa datang ke acara ku...?" Batin Davin dengan kesal di mana rahang nya mengeras dengan sempurna.


"Jadi pria ini adalah adik dari Nyonya Arselion?" Tanya Tuan Copra yang sedikit penasaran.


"Perkenal kan nama ku Antonio.. dan yah aku adalah adik dari Nyonya Arselion.. Anak dari Tuan Alexxander pemegang perusahaan Glamer..." Antonio memperkenal kan diri nya.


Di mana ke dua rekan bisnis Davin langsung terlihat antusias.


"Wah kami tidak menyangka bisa bertemu dengan pengusaha yang sangat hebat seperti anda.. Sebaik nya setelah ini kita bisa membicara kan masalah bisnis..." Ucap Tuan Glar yang benar- benar tidak ingin membuang kesempatan untuk menjalin relasi dengan pengusaha dengan dua dunia itu.


"Dengan senang hati Tuan Glar..."


Davin yang melihat hal itu mengepal kan ke dua tangan nya.


Di depan mata nya sendiri, adik ipar nya ingin mengambil rekan bisnis nya.


Dengan tatapan marah dan kesal, Davin langsung menarik lengan Antonio menjauh dari ke dua rekan bisnis nya.


"Baik lah.. Tuan- Tuan kita akan berbicara nanti..." Seru Antonio saat tubuh nya di geret oleh Davin ke arah sudut ruangan yang cukup sepi.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2