Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Tuan ada di rumah


__ADS_3

...165💚...


Aelin bersiap dengan cepat, ia segera keluar dari kamar hotel dengan seragam yang kemarin ia pakai. Jam menunjukkan angka tujuh tepat. Aelin semakin mempercepat langkahnya.


Sesekali Aelin mengedarkan pandangannya, mencari sosok Davin. Berharap jika ia menukan suaminya itu. Siapa tahu Davin keluar karna urusan sesuatu. Akan tetapi, harapannya itu di patahkan dengan realita. Di mana orang yang di cari sama sekali tidak ada, bahkan bayangannya sekalipun sama sekali tidak terlihat.


Gurat wajah Aelin sama sekali tidak bisa menutupi rasa cemas dan khawatir yang sedang ia rasakan. Otaknya terus berpikir kemana perginya suaminya itu? bahkan Davin pergi begitu saja, meninggalkan dirinya sendiri di hotel yang jauh dari kota.


Aelin menghentikan langkahnya, kini ia berada di pinggir jalan. Karna, hotel tersebut berada di pinggir kota membuat jalanan di sekitarnya menjadi sepi. Hanya beberapa pengendara yang melewati jalan ini, selebihnya jalan ini begitu sepi dan lenggang.


Aelin merogoh ponsel yang ada di dalam ranselnya, menyalakan benda pipih itu. Namun sial, ponselnya malah mati. Aelin menggigit bibir bawahnya. Jika seperti ini bagaimana bisa ia kembali ke sekolah dan mengikuti ujian.


"Ponselku mati, bagaimana aku bisa pulang. Astaga Davin kemana kamu pergi sebenarnya," lirih Aelin menengok ke belakang. Apakah ia harus kembali ke hotel dan mengisi daya ponselnya dulu?


Aelin tidak punya pilihan lain, setidaknya jika ponselnya hidup. Ia bisa menghubungi siapapun untuk menjemputnya di sini.


"Aelin!!" panggil suara bass yang sangat familiar bagi Aelin, membuat ia memutar tubuhnya kembali ke arah jalanan.


"Kak Antonio!" lirih Aelin tidak percaya dengan kehadiran Antonio di tempat ini. Satu pertanyaan yang langsung muncul dikepala kecilnya. Sedang apa Antonio di hotel ini?


"Ae, kenapa kamu ada di sini?" tanya Antonio pura-pura tidak tahu. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia ada di sini untuk mencari Aelin.


Aelin mengulum senyum di bibirnya, senyum yang selalu berhasil membuat Antonio terkesima.


"Kemarin aku menginap di sini bersama Davin kak, tapi entah, sekarang Davin ada di mana," jawab Aelin dengan nada kecewa yang tersirat pada perkataannya.


"Apa? Suamimu meninggalkanmu?" Mulut Antonio terbuka lebar. Berpura-pura terkejut mendengar jawaban Aelin. Ia sebenarnya tahu semuanya, ia tahu jika Davin meninggalkan Aelin sendiri di hotel dan pulang terburu-buru menemui Syaila. Davin memang pria brengsek.


"Sepertinya begitu, tapi aku rasa dia ada urusan pekerjaan yang sangat penting. Sehingga pergi lebih dulu." Aelin berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatifnya. Mensugesti dirinya agar tidak berpikiran macam-macam tentang Davin.


"Ae, kamu sudah di tinggalkan dan di lupakan seperti ini. Tapi kamu masih membela pria brengsek itu," batin Antonio yang sakit hati melihat Aelin ternyata sangat mempercayai Davin.

__ADS_1


"Apa pekerjaan lebih penting dari seorang istri bagi suamimu?" tanya Antonio dengan nada yang sedikit sinis. dan pertanyaan itu berhasil membuat hati Aelin tercubit sakit.


"Pekerjaannya memang sangat penting kak, jika Davin tidak mengurus pekerjaannya. Bisa saja pesaing bisnisnya mengambil keuntungan dari itu dan menjatuhkannya."


"Kamu terlalu naif Ae, aku dengar ponselmu mati bukan? Pakai ponselku dan minta suamimu untuk menjemputmu." Antonio memberikan ponselnya pada Aelin. Ia sengaja melakukan itu, ia ingin lihat apa Davin akan menjawab panggilan itu. Dan juga ia ingin Aelin tahu jika selama ini Aelin tidak berarti apa-apa bagi Davin. Ia ingin Aelin segera tahu kebusukan Davin. Tapi bukan dari bibirnya. Kepercayaan Aelin sangat besar pada Davin. Bahkan dia di tinggalkan begitu saja, tapi wanita cantik itu masih berpikir jika Davin memiliki urusan yang penting sehingga meninggalkan dirinya.


Aelin mempercayai Davin dengan begitu buta. Hingga keraguan yang ada di dalam hatinya pun, ia singkirkan sejauh mungkin. Davin bak malaikat tak bersayap, yang di utus tuhan. Untuk menjaga dan menemaninya di dunia yang begitu kejam ini.


Dengan cepat, Aelin meraih ponsel Antonio. Ia bersyukur bisa bertemu dengan pria yang sudah di anggap sebagai kakaknya itu. Jujur ia sangat merindukan Antonio, pria di depannya itu tiba-tiba menghilang dan kini muncul menjadi pengusaha sukses putra dari seorang Alexander.


Aelin segera mengetik nomer ponsel Davin, berharap suaminya itu mengangkat panggilan telponnya.


"Kak Antonio ada pekerjaan di sini?" tanya Aelin saat panggilannya tersambung namun belum kunjung di angkat.


"Iya, tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."


"Aku sangat bahagia, sekarang kakak sudah menjadi orang besar. Aku tidak percaya jika pria yang menjadi asisten papaku, adalah putra dari Tuan Alexander. "


"Aku mengerti, menjadi penerus perusahaan sebesar itu, tidak lah mudah."


"Kamu semakin dewasa Ae."


"Tentu saja, aku banyak belajar darimu."


Aelin menghela nafasnya berat, saat panggilan telponnya sama sekali tidak di jawab oleh Davin. Bahkan ini sudah kesekian kalinya ia menghubungi Davin. Tapi tidak ada tanda-tanda jika panggilannya di jawab.


"Davin tidak menjawab telponmu?" tebak Antonio saat melihat wajah Aelin yang di tekuk.


"Iya," jawab Aelin datar.


"Coba kamu telpon asisten atau sekretarisnya. Atau siapapun yang bisa kamu hubungi?" saran Antonio.

__ADS_1


Aelin memilih untuk menghubungi Maya, jika menghubungi Darren. Kemungkinan Darren tidak akan menjawab panggilannya.


"Seandainya kamu tahu Ae, suami yang begitu kamu percayai sekarang sedang bersama istri pertamanya. Jika saja aku punya keberanian untuk mengatakan hal itu, aku pasti sudah memberi tahumu. Tapi aku ingin kamu melihat kebusukan suamimu itu dengan mata kepalamu sendiri ," batin Antonio menatap wanita yang begitu di cintainya dengan iba. Andai ia bisa memutar waktu kembali. Ia pasti akan menikahi Aelin sebelum Davin datang ke dalam kehidupan bahagia Aelin.


"Halo Maya!" ucap Aelin merasa senang, karna akhirnya ia bisa menghubungi seseorang.


"Nona? Apa ini kau?" tanya Maya memastikan jika yang menelponnya adalah Aelin.


"Iya ini aku Aelin. Maya apa kamu tahu dimana Tuan Davin?" tanya Aelin dengan panik dan cemas.


"Tuan ada di rumah Nona, Tuan pulang tadi malam. Nona ada di mana sekarang? kenapa Nona tidak ikut pulang dengan Tuan?"


Deg.


Tubuh Aelin terasa membeku seketika, saat mendengar jawaban Maya yang mengatakan Davin pulang sejak semalam. Itu artinya Davin pergi bukan untuk urusan penting. Itu artinya Davin meninggalkan dirinya di sini.


Tapi kenapa?


Rasa sesak mulai menyeruak masuk ke dalam dada Aelin. Banyak pertanyaan yang mulai bermunculan di kepalanya, tentang Davin yang meninggalkan dirinya sendiri di hotel. Jika Davin ingin pulang kemarin malam, kenapa Davin tidak mengajaknya dan malah pulang sendiri.


Aelin memutuskan panggilan telpon secara sepihak. Ke dua matanya mulai terasa panas, dengan cairan bening yang mulai tergenang di pelupuk matanya.


"Kamu baik-baik saja Ae? Kenapa menangis?" panik Antonio saat melihat air mata jatuh begitu saja di pipi Aelin.


Aelin hanya diam, lidahnya benar-benar terasa kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan dari Antonio.


"Baiklah, jika suamimu tidak bisa menjemputmu. Aku yang akan mengantarmu pulang. Ayo!" Antonio menggiring Aelin untuk masuk ke dalam mobil. Sementara Aelin masih sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan di otaknya, mengapa Davin sampai tega hati meninggalkan dirinya.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Yuk koment, like, vote, and gift ya


__ADS_2