
...85😻...
Dokter Nashila menghembus kan nafas nya lega, tampak gurat khawatir di wajah nya yang ayu perlahan memudar.
Begitu pula dengan asisten nya Frans yang kini duduk meringsut di lantai, di mana jantung nya rasa nya mati rasa karna menghadapi situasi yang benar- benar di luar dugaan.
Tubuh Syaila tiba- tiba mengejang dengan bibir yang mengeluar kan busa, persis seperti orang yang keracunan.
Tapi seperti nya itu terjadi karna respon tubuh Syaila dengan tingkat dosis yang di berikan Dokter Nashila.
Namun ke dua nya bisa bernafas lega, karna kondisi Syaila sudah kondusif bahkan semakin stabil.
Tubuh Syaila yang kering seperti tengkorak kini terlihat cukup berisi dengan rambut yang mulai tumbuh di kepala nya.
"Dokter.. Aku pikir dia akan mati..." Seloroh Frans dengan rasa takut yang masih mendera nya.
"Pengalaman yang luar biasa bukan Frans.?" Seru Dokter Nashila dengan terkekeh lega.
Tidak di pungkiri ia juga sama terkejut nya dengan Frans.
Diri nya pikir ia sudah memberikan dosis yang terlalu tinggi pada tubuh Syaila, sehingga membuat respon tubuh Syaila di luar dugaan.
Namun selama setengah jam ke dua nya berusaha menangani kondisi yang benar- benar mencekam.
Akhir nya Syaila kembali tertidur dengan lelap seperti putri tidur.
"Aku benar- benar takut..." Cicit Frans dengan menyugar rambut nya, sembari tatapan nya menatap ke arah ranjang Syaila dengan wajah terkekeh tidak percaya.
"Bahkan aku pun---"
Brak...
Belum selesai dokter Nashila menyelesai kan kalimat nya, pintu kamar tersebut langsung terbuka dengan suara yang cukup besar.
Ke dua netra Frans dan dokter Nashila melebar, saat melihat Darren dan beberapa pengawal lain nya memapah tubuh Davin yang penuh dengan luka.
Frans langsung berdiri dan mendekat ke arah dokter Nashila, membiar kan Darren membawa Davin mendekat ke arah ranjang Syaila.
Tubuh Davin yang sudah terasa remuk, lansung beringsut meraih tangan jemari Syaila.
"Kau baik- baik saja sayang...? Aku mohon jangan tinggal kan aku...!" Seloroh suara Davin yang bergetar.
Di mana Davin mencium dan mengusap tangan lentik istri yang begitu sangat ia cintai.
__ADS_1
Bahkan untuk memasti kan kondisi sang istri baik- baik saja, ia tidak peduli dengan kondisi nya yang parah.
Semua mata yang ada di dalam ruangan itu, melihat adegan yang benar- benar menguras emosi.
Khusus nya untuk Dokter Nashila yang sangat takjub dengan kebesaran cinta Davin.
Tapi kini ia sedikit bingung dengan apa yang terjadi, hingga kondisi Davin sungguh terlihat cukup mengeri kan.
Dokter Nashila menghampiri Davin, menyentuh pundak pria itu yang terasa bergetar karna menangis.
Davin yang di kenal dengan sebutan pria terkaya di asia dengan hati dingin, kini menangisi keadaaan sang istri yang hanya bisa terbaring tidur.
"Tuan... Kondisi Nyonya Syaila sudah terkendali..." Seru Dokter Nashila yang sudah tidak tahan melihat luka Davin, khusus nya di kaki pria itu. Bahkan darah segar Davin berceceran di lantai sepanjang jalan yang di lewati nya.
Davin mengangkat wajah nya yang di penuhi oleh darah, karna wajah nya terluka terkena kaca mobil yang pecah.
"Apa yang sudah kau lakukan pada istri ku?" Tanya Davin dengan aura membunuh yang langsung menguar dari dalam tubuh nya.
Ia menyewa dokter terhebat yang sedang berdiri di depan nya, untuk mengobati Syaila bukan untuk merenggut jiwa nya.
Dokter Nashila sedikit memundur kan tubuh nya, saat menerima tatapan marah Davin yang rasa nya sedang mencincang tubuh nya.
Dengan suara yang berat, dan terkesan di paksa kan. Dokter Nashila menggerak kan bibir nya untuk menjawab pertanyaan Davin.
Pandangan Davin semakin buram, di mana kaki nya terasa semakin sakit, dan ke dua telinga nya berdenging hebat.
Davin berusaha, mengerjap kan ke dua mata nya, namun semburat gelap langsung menghantam nya.
Bruk..
Tubuh Davin langsung terjatuh di lantai begitu saja.
"Tuan...!" Pekik Darren panik , yang langsung meminta pengawal untuk membawa tubuh Davin ke kamar pribadi tuan nya.
Dokter Nashila dan juga Frans segera mengambil peralatan medis, dan menyusul Davin.
"Frans,,, bersih kan luka nya..." Titah dokter Nashila dengan gerakan yang cepat , di mana ke dua dokter itu begitu sibuk untuk menangani kondisi Davin yang seperti nya benar- benar parah.
"Dokter ini..." Seru Frans dengan memberikan sebuah suntikan pada dokter Nashila di mana benda itu langsung di tancap kan pada lengan tangan Davin.
Melihat Frans dan dokter Nashila yang sedang menangani Davin, Darren memerintah kan pengawal yang ada di dalam ruangan tersebut untuk keluar.
Agar ke dua dokter itu bisa lebih nyaman dalam menangani Davin.
__ADS_1
Darren menghela nafas panjang, di mana kini baju yang di kena kan benar- benar berantakan dan di penuhi oleh bercak darah.
Diri nya masih berpikir dengan sikap Davin yang begitu kekeh untuk melihat kondisi Syaila meski keadaan nya parah.
"Kau sangat memegang janji mu Tuan..." Lirih Darren saat kilasan ingatan muncul di kepala nya.
Sementara wajah Frans terlihat panik , saat wajah Davin yang semakin pucat.
"Dok... Kondisi pak Davin benar- benar buruk... Tulang kering kaki nya retak, dan luka di wajah nya cukup dalam, seperti nya luka itu akan membekas.. Lalu dia juga kehabisan darah dok..." Seru Frans yang sedang sibuk memasang gif pada kaki Davin.
"Kau benar, kita tidak akan bisa mengobati nya di sini.. Bisa- bisa dia mati karna kehabisan darah... Aku sungguh tidak mengerti dengan Tuan Davin yang rela meringsut kemari hanya untuk memastikan kondisi istri nya..." Jawab dokter Nashila yang masih menjahit luka di pelipis Davin.
"Aku rasa ini bukan cinta , tapi seperti pengorbanan janji... Mungkin aku terlalu muda untuk mengata kan hal itu.. Tapi aku tidak melihat cinta tapi hanya ada pengorbanan...."
"Frans berhenti untuk berpuisi sekarang.. Pasien mu semakin kritis.. Lebih baik kau temui Darren dan kata kan pada nya.. Jika Tuan Davin harus segera di bawa ke rumah sakit. Karna peralatan medis yang di perlukan tidak ada di villa ini.. Kita tidak punya banyak waktu..."
Tanpa permisi, atau pun basa - basi. Frans langsung keluar dari kamar Davin.
Di mana ia langsung bisa menemukan Darren yang tengah berdiri dengan menyender kan kepala nya di dinding.
Bisa ia lihat jika Darren juga begitu khawatir.
"Pak Darren...!" Panggil Frans yang langsung membuat kelopak mata Darren terbuka.
"Kita harus membawa pak Davin segera ke rumah sakit, karna kondisi nya cukup parah.. Peralatan di sini tidak selengkap peralatan di rumah sakit.. Dan juga pak Davin membutuh kan transfusi darah..." Jelas Frans , lalu kembali masuk ke dalam kamar.
...----------------...
...****************...
Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙