Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Siksaan


__ADS_3

...123💚...


Aelin berlari dengan kencang keluar dari kamar Davin menuju kamar nya.


Di mana wajah nya sekarang sudah semerah arang yang hampir gosong.


Demi apa pun ia sangat malu.


Dengan bersusah payah, mulut nya akhir nya bisa mengata kan panggilan sayang.


Namun rasa nya tubuh nya langsung menciut kecil karna menahan rasa malu.


Bruk...


Tanpa sengaja Aelin menabrak tubuh Nyonya Tissa yang berjalan melawan arah.


Tubuh Nyonya Tissa yang rapuh karna faktor umur langsung terhuyung ke belakang.


Namun dengan sigap Aelin menahan tubuh ibu mertua nya agar tidak membentur lantai yang keras dan dingin.


Ke dua mata Nyonya Tissa terbelalak kaget. Bahkan ke dua bola mata nya hampir melompat keluar dari cangkang nya.


Sementara jantung nya rasa nya merosot jatuh ke dasar kaki nya.


"Maaf... Ma aku tidak sengaja...!" Cicit Aelin meminta maaf.


Kenapa ia bisa seceroboh ini. Dengan berlarian sembarangan di dalam rumah hingga menabrak seseorang.


Bahkan yang di tabrak nya adalah ibu mertua nya sendiri.


Untung saja ia berhasil menahan tubuh Nyonya Tissa.


Mendengar suara Aelin, membuat Nyonya Tissa menatap Aelin penuh amarah.


Tatapan yang penuh dengan kilatan amarah.


Berani sekali Aelin menabrak diri nya?


Jika ia sampai jatuh ke lantai mungkin kepala nya akan terbentur dan pecah dan diri nya bisa mati seketika?


Ternyata Aelin sangat ingin melihat kematian hingga wanita sok polos ini sengaja menabrak diri nya.


Ia tahu jika Aelin pasti ingin membalas dendam pada diri nya.


Karna ia sudah menyiksa wanita di depan nya dengan memberi kan banyak pekerjaan rumah.


Menjijik kan.


Pikir Nyonya Tissa dengan urat- urat kemarahan yang mulai tercetak dengan jelas di leher dan tangan nya.


Plakkkkkk....


Dalam satu kali tarikan, Tangan lepas Nyonya Tissa mendarat dengan keras di pipi mulus Aelin.


Bahkan saking keras nya tamparan Nyonya Tissa.

__ADS_1


Tubuh Aelin terjerembab jatuh ke lantai.


"Dasar wanita murahan... Kamu tidak punya mata ya... Kamu pasti sengaja menabrak ku agar aku jatuh dan mati.. Iya kan?..!!" Bentak Nyonya Tissa dengan suara yang menggelegar.


Hingga suara nyaring nya memantul- mantul di dinding.


Aelin memegangi pipi nya yang terasa kebas dan panas.


Di mana buliran bening sudah meluncur dengan bebas jatuh melewati pipi nya.


"Dasar Licik kamu Aelin.. Menantu tidak berguna kamu.. Kamu ingin membunuh mertua mu sendiri dengan mendorong nya jatuh.. Dasar rendahan murahan kamu...!" Caci Nyonya Tissa dengan kemarahan yang berapi- api.


Dada Aelin terasa di hantam ribuan kerikil tajam.


Di mana hati nya dan seluruh organ yang ada di dalam tubuh nya terasa di sayat dengan beruntun.


Sebegitu rendah kah diri nya di hadapan sang mertua?


Ia sudah melakukan apa pun yang di perintah kan Nyonya Tissa?


Ia mengerja kan semua pekerjaan rumah yang bahkan seharus nya di kerjakan oleh para pelayan.


Namun sedikit pun, Nyonya Tissa tidak pernah berubah sikap terhadap nya.


Ia selalu di nilai dengan begitu buruk. Seakan diri nya memang tidak memiliki harga di mata wanita paruh baya itu.


Ia tahu ia datang ke rumah ini karna sebuah kesalahan.


Namun ia ingin membuka tangan untuk semua kesalahan itu.


Tapi seperti nya hal itu tidak di peruntuk kan oleh Nyonya Tissa.


Dengan cepat tangan Nyonya Tissa menarik rambut panjang Aelin.


Menjambak rambut indah itu hingga terasa tercabut dari kulit kepala sang pemilik.


" Hiks.. Ma.. Lepas kan Hikss.. Sakit mah... Hiks.. Demi tuhan aku benar- benar tidak sengaja..." Pekik Aelin dengan isakan tangis nya yang pecah.


Di mana kini kepala nya benar- benar terasa sakit.


"Diam... Mulut menjijikan mu itu tidak pantas untuk berbicara.. Bagaimana bisa Davin membawa gadis menjijik kan seperti mu.. Yang bahkan tidak punya kehormatan sedikit pun... Jangan kan manusia bahkan takdir sekali pun tidak ingin menerima diri mu.. Lihat lah orang- orang yang kamu sayangi menghilang dari hidup mu.. Itu karna kamu adalah wanita kotor yang bisa di jamah oleh semua lelaki..."


Srak...


Dugh....


Kepala Aelin di hempas kan dengan sangat kuat, hingga membentur kaki meja yang ada di belakang nya.


"Aaauuuu...." Pekik Aelin kesakitan di mana cairan merah berbau amis mulai mengalir dari luka benturan yang ada di pelipis nya.


Nyonya Tissa yang melihat rembesan darah yang mengalir dari pelipis Aelin. Ternyata belum puas untuk menyiksa Aelin.


Ia menarik ke dua tangan Aelin dan menyeret tubuh Aelin dengan paksa menuju dapur.


"Ma.. Maaf kan aku ma.. Hiks..." Pinta Aelin dengan langkah nya yang terseok- seok.

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika sang mertua akan semarah ini pada diri nya.


Ia benar- benar tidak sengaja menabrak Nyonya Tissa.


Tapi Aelin memang tetap salah, seharus nya ia tidak berlarian di dalam rumah.


Dengan cepat, Nyonya Tissa mengambil baskom besar lalu mengisi nya dengan air hingga penuh.


Lalu Nyonya Tissa menabur kan setoples garam ke dalam air di dalam baskom.


Tanpa perasaan iba sedikit pun. Nyonya Tissa langsung menarik tengkuk Aelin dan menyelam kan kepala Aelin ke dalam baskom.


Rasa perih yang sangat menyakit kan mendera wajah Aelin.


Di mana air garam tersebut membuat luka di pelipis nya terasa sangat panas dan sakit.


Aelin menahan nafas nya, di mana ia meronta untuk segera mengangkat wajah nya dari dalam air garam tersebut.


Namun sayang, tangan Nyonya Tissa terus menekan kepala Aelin semakin dalam. Sehingga membuat Aelin kesulitan untuk bernafas bahkan Aelin menelan air garam yang sangat asin di lidah nya.


Semua pelayan yang ada di dapur hanya bisa terdiam melihat aksi penyiksaan Nyonya Tissa.


Tidak ada yang berani berkomentar atau pun menghenti kan aksi Nyonya Tissa.


Nyonya Tissa tersenyum jahat, melihat kepala Aelin yang terus bergerak- gerak di dalam air.


"Ini adalah balasan yang pantas untuk ****** seperti mu.." Ujar Nyonya Tissa dengan menekan kepala Aelin.


Aelin yang sudah kehabisan nafas, kali ini benar- benar pasrah.


Diri nya yang selalu di perlakukan dengan baik dan penuh cinta saat bersama sang ayah.


Kini di perlakukan dengan begitu kejam oleh sanh ibu mertua.


Namun ia tidak bisa melawan karna jika ia melawan. Maka kemarahan Nyonya Tissa akan semakin meledak dan diri nya tidak akan pernah bisa meluluh kan hati sang mertua untuk bisa menerima diri nya dengan baik.


Ia hanya mengingin kan hidup nya bahagia. Meski ia harus menerima takdir yang selalu berhasil menghancur kan diri nya.


"Henti kan Nyonya...!" Teriak Maya yang langsung mendorong Nyonya Tissa dan mengangkat kepala Aelin dari baskom.


Seluruh wajah dan rambut Aelin basah. Di mana wajah wanita kecil malang itu terlihat membiru karna kehabisan nafas.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2