Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Semakin membaik.


__ADS_3

...108💚...


Waktu berjalan dengan begitu cepat, kini Aelin datang ke rumah sakit pagi - pagi sekali dengan mengguna kan seragam sekolah.


Hari ini adalah Ujian akhir semester dan diri nya akan segera naik tingkat menuju tingkat akhir.


Ia sudah beberapa hari terakhir tidak masuk sekolah. Hampir dua minggu diri nya tidak pernah pergi ke sekolah karna semua masalah yang menimpa diri nya.


Namun kini semua nya semakin membaik. Dengan menerima Davin sebagai suami nya membuat hidup nya terasa lebih damai.


Aelin menenteng paper bag makanan, hari ini ia membuat bubur ikan untuk menu sarapan Davin.


Aelin memutar knok pintu ruangan Davin.


Saat daun pintu terbuka terlihat Davin sudah duduk sambil merentang kan tangan nya pada Aelin.


Dengan langkah cepat Aelin menghambur memeluk tubuh Davin.


Rasa nya rindu semakin membara di antara ke dua nya. Meski baru sebentar mereka tidak bertemu.


"Aku merindu kan mu...!" Cicit Davin dengan suara merenggek.


Seperti Aelin yang sudah sangat lama meninggal kan diri nya.


Entah mengapa memang benar ia selalu merindukan Aelin. Sejak terakhir kali ia mengetahui bagaimana gigih nya Aelin menjaga nya dan mengurus nya di rumah sakit.


"Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu..." Kekeh Aelin dalam pelukan Davin.


Memang benar, Aelin pulang saat fajar. Dan kembali lagi setelah sang surya bangun dari tidur nya.


Tapi Davin sudah merenggek rindu seperti mereka tidak bertemu selama ribuan tahun.


Sungguh sangat lucu tapi Aelin senang dengan semua sikap Davin.


Sementara Darren yang tidur di sofa, mengucek ke dua mata nya perlahan dan membuka kelopak mata nya.


Namun saat membuka mata, diri nya rasa nya di hantam oleh batu besar karna melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblo nya iri.


Bagaimana tidak, setelah kemarin ia melihat adegan ciuman, sekarang ia melihat adegan pelukan.


Cih, hidup nya memang sangat menyebal kan.


Mengapa tuhan membuat nya jadi penonton dalam keromantisan hubungan orang lain.


Sementara diri nya sampai saat ini masih single alias jomblo berkarat.


"Masih pagi buta sudah di suguhi pemandangan seperti ini.. Lebih baik aku keluar dari pada jadi penonton.. Huhhh" Umpat Darren dalam hati lalu melangkah keluar dengan perlahan agar tidak menggangu keromantisan yang tengah berlangsung.

__ADS_1


Davin mengurai pelukan nya, di mana ke dua tangan nya menggengam tangan Aelin.


"Hari ini kami mau pergi ke sekolah?" Tanya Davin dengan wajah tidak rela nya.


Ia ingin Aelin tetap bersama nya di sini. Menemani diri nya di rumah sakit yang membosan kan.


"Iya hari ini aku harus masuk sekolah.. Ujian akhir semester sudah di mulai.. Jika ingin naik kelas aku harus masuk.. Aku tidak mungkin lagi membolos karna aku sudah tidak masuk hampir dua minggu lama nya..." Jelas Aelin sembari tangan nya mengeluar kan kotak makan dari paper bag yang di bawa nya.


"Lebih baik kamu menemani ku di sini saja... Aku sangat bosan di sini jika tidak ada kamu..." Nada suara Davin menjadi sedih.


Aelin menghembus kan nafas nya saat melihat wajah Davin yang sedikit bersedih.


"Kalau aku tidak ikut ujian akhir semester bisa- bisa aku tidak lulus sekolah..." Aelin mencoba menjelas kan pada Davin.


Agar Davin tidak sedih jika ia pergi ke sekolah.


Jujur ia merasa senang karna semakin hari hubungan nya dengan Davin semakin baik dan menghangat.


Seperti rumah tangga normal yang di penuhi dengan cinta.


"Tapi aku tidak bisa jauh dari mu... Aku akan meminta Darren untuk mengambil ujian mu.. Dan kamu bisa menyelesai kan nya di samping ku..." Davin masih merenggek tidak mau di tinggal kan oleh Aelin. Bahkan ia mengerat kan genggaman nya pada tangan Aelin.


Berharap Aelin akan mengata kan jika ia bersedia tidak pergi ke sekolah dan tetap di sini bersama diri nya.


Aelin menyendok bubur yang ia bawa, lalu menyodor kan nya ke bibir Davin.


"Jangan seperti itu... Aku akan segera kembali.. Aku janji setelah pulang sekolah aku akan segera kemari... Aku akan menemani om sampai malam.. Tapi aku tidak bisa untuk tidak pergi ke sekolah..."


Davin terlihat kecewa, ternyata Aelin tetap kekeh untuk pergi ke sekolah.


"Aku pasti akan segera kembali.. Aku akan berusaha untuk menyelesai kan ujian dengan cepat..." Hibur Aelin yang sebenar nya tidak ingin meninggal kan Davin namun ia tetap harus pergi karna ini adalah ujian yang penting.


Ujian yang menentu kan diri naik tingkat.


"Baik lah.. Tapi janji kamu akan segera kembali..."


Aelin mengangguk cepat, sementara tangan nya terus menyuapi Davin yang terus saja merenggek meminta diri nya untuk tetap tinggal.


Setelah selesai menyuapi Davin sarapan, Aelin memutus kan untuk berangkat sekolah.


Sebelum pergi ia pamit pada Davin. Lalu melangkah pergi meninggal kan Davin yang terlihat murung karna di tinggal kan sendiri di tempat yang sangat membosan kan.


"Darren temani om Davin.. Pasti kan dia tidak merasa bosan...!" Pesan Aelin pada Davin sebelum pergi dengan supir yang akan mengantar nya untuk pergi ke sekolah.


Dan Darren hanya patuh dengan perintah Aelin. Yang kini bersikap seperti istri yang baik.


Darren kembali masuk ke dalam ruangan Davin, di mana wajah Davin terlihat tertekuk ke dalam.

__ADS_1


"Pagi Tuan...!" Sapa Darren basa - basi.


"Pagi...!" Balas Davin tanpa bersemangat.


Hal itu berhasil membuat perhatian Darren tercuri.


"Tuan kenapa wajah anda di tekuk seperti itu?" Tanya Darren yang penasaran.


Bukan kah Davin baru saja di beri kan asupan gizi pagi oleh Aelin.


Tapi kenapa wajah nya di tekuk seperti pantat ayam yang baru bertelur?


"Ck.. Berhenti lah formal pada ku.. Kita hanya berdua sekarang..."Sebal Davin yang muak mendengar bahasa formal Darren.


"Ha.. Ha..." Darren langsung tertawa gila. Tidak seperti biasa diri nya selalu menjaga sikap saat berada di hadapan Davin.


Ia dan Davin tumbuh bersama sejak kecil, Selain sebagai asisten mereka sebenar nya adalah sahabat seperjuangan sejak kecil.


Ayah Darren yang bekerja untuk Ayah Davin membuat Darren menghabis kan seluruh masa kecil nya di rumah besar Arselion.


Sehingga diri nya dan Davin bersahabat sejak masih kecil.


Hingga diri nya di angkat menjadi Asisten Davin hubungan mereka tidak berubah sedikit pun.


Namun Darren hanya bersikap normal saat diri nya dan Davin hanya berdua.


Karna ia tidak ingin melewati batasan nya saat bekerja untuk Davin.


"Tertawa saja kamu sampai rahang mu lepas..." Sentak Davin dengan suara sebal. Karna Darren menertawa kan diri nya.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2