
...130💚...
Seperti biasa , Aelin berangkat ke sekolah dengan di antar supir.
Setelah ia menyiap kan sarapan untuk Davin dan menitip kan nya pada Maya.
Aelin bergegas berangkat, wajah nya masih saja memerah karna pagi ini dua orang sudah memergoki diri nya yang sedang di peluk Davin.
Yah memang jika sepasang suami istri saling memeluk bukan lah hal yang tabu. Tapi tetap saja ia malu dan sedikit merasa canggung.
Aelin berjalan dengan wajah ceria memasuki kelas nya.
Hari ini ia harus melewati dua tes semester.
Ia berharap ia bisa menjawab soal hari ini, karna kemarin malam ia sama sekali tidak belajar karna insident diri nya yang menabrak sang mertua hingga berakhir tertidur di ranjang Davin.
Aelin mengeluar kan buku pelajaran nya, membuka lembaran demi lembaran dan membaca nya dengan seksama.
Setidak nya ia masih memiliki waktu satu jam untuk belajar.
Sampai tes hari ini di mulai.
Sementara di depan pintu Lia dan Boy berjalan beriringan.
Semakin hari ke dua nya semakin dekat, bahkan kini Boy selalu menjemput dan mengantar gadis bar- bar itu pulang.
Entah sejak kapan mereka menjadi sedekat itu, namun ke dua nya merasa nyaman satu sama lain meski mereka selalu saja bertengkar dan berdebat.
"Baik lah.. Gue ke kelas gue dulu.. Moga lo bisa jawab soal ujian ya ratu katak..." Ucap Boy dengan wajah mengejek di mana tangan nya mengacak- ngacak puncak kepala Lia dan langsung berlari pergi. Sebelum Lia menendang diri nya.
Lia menghentak kan kaki nya dengan keras ke lantai.
Ia sangat sebal dengan Boy yang selalu merusak tatanan rambut nya.
"Dasar cowok brandal..." Umpat Lia dengan kesal lalu melangkah kan kaki nya masuk dan lansung berlari ke arah Aelin saat melihat ternyata sahabat nya itu sudah datang.
"Pagi darling..." Pekik Lia dengan memeluk erat tubuh Aelin.
Aelin mencebik kan bibir nya, nafas nya terasa berhenti karna pelukan Lia yang sangat erat.
"Li lepas kan kamu mencekik ku..."
Plak...
Aelin memukul tangan Lia.
"Auuu sakit.. Kamu galak banget sih Lin.." Oceh Lia tidak terima di mana bibir nya sudah maju ke depan lima senti.
"Kamu sih peluk nya kekencangan..."
"Giliran aku yang peluk kamu bilang kekencengan.. Giliran om Davin aja yang peluk kanu klepek- klepek minta ampun.." Goda Lia dengan perkataan absurd nya.
Aelin memutar ke dua bola mata nya malas.
Teman nya ini benar- benar selalu berhasil membuat malu nya bertambah meningkat.
__ADS_1
"Ehhh Lin jidat kamu kenapa? Jidat kamu di kecup sama Om Davin sampe merah- merah gitu ya.." Goda Lia lagi yang membuat Aelin semakin mendengus.
Puk..
Aelin menoyor jidat Lia, kepala teman nya ini seperti nya sudah error.
"Kamu bilang apa sih Li.. Ini kemarin aku jatuh jadi jidat ku ke bentur ama meja.. Jadi sombeng deh... Mana ada tuh nama nya kecup- kecup sampe merah..." Ketus Aelin dengan mencebik kan bibir nya.
Lia mengusap jidat nya yang terkena pukulan Aelin.
Diri nya bisa mencium bau malu yang menguar dari tubuh Aelin.
Rasa nya ia tidak ingin berhenti untuk menggoda sahabat nya itu.
"Lin aku mau tanya sama kamu..?" Wajah Lia berubah serius.
"Apa?" Jawab Aelin singkat dengan tatapan mata nya yang tetap fokus pada buku di tangan nya.
"Kamu lihat aku. Ini penting Lin..." Lia menarik tangan Aelin hingga wajah Aelin menoleh ke arah nya.
Melihat wajah Lia yang serius membuat Aelin khawatir.
Apa sahabat nya itu sedang dalam masalah?
"Apa kamu ada masalah Li? Apa yang ingin kamu tanya kan.?" Cecar Aelin dengan nada khawatir.
Lia menatap Aelin semakin lekat, membuat Aelin menjadi semakin khawatir.
"Bagaimana rasa nya malam pertama Lin?" Cengir Lia dengan ke dua mata berbinar penasaran.
Ia pikir Lia akan bertanya sesuatu hal yang penting. Tapi dengan gamblang nya Lia bertanya tentang malam pertama.
Ayo lah pertanyaan apa itu?
"Lia pertanyaan macam apa itu?"
"Aku hanya penasaran Lin.. Kamu kan dan Om Davin sudah menikah pasti kalian melewati malam pertama kan...?"
Demi apa pun rasa nya Aelin ingin mengutuk Lia menjadi patung saja.
Sehingga ia tidak perlu mendengar pertanyaan tanpa sensor itu.
"Stop berpikir sejauh itu Li.. Jangan kotori pikiran mu dengan hal berbau dewasa seperti itu.. Lebih baik kamu belajar untuk tes hari ini.. Karna aku tidak akan membagi jawaban ku..." Sebal Aelin menyodor kan buku yang ada di tangan nya pada Lia.
Wajah penasaran Lia berubah pias melihat Aelin yang marah pada nya.
Apa salah nya ia bertanya seperti itu?
Diri nya hanya penasaran?
"Dengar Li.. Jangan membahas pernikahan ku dengan Om Davin di sekolah.. Jik ada yang sampai dengar kamu tahu kan apa yang akan terjadi..." Pesan Aelin memperingat kan Lia.
Karna ia sangat tahu jika Lia memiliki mulut ember yang bisa berbicara asal.
Ia hanya tidak ingin status pernikahan nya terbongkar.
__ADS_1
Ia tidak ingin menjadi bahan bulian dan cacian.
"Kamu tenang saja aku akan tutup mulut serapat mungkin.... Tapi hari ini bagi jawaban ya Lin.. Aku sudah belajar tapi pelajaran nya tidak masuk di kepala ku.. Jika kamu membagi jawaban dengan ku.. Aku janji rahasia mu akan aman.." Bujuk Lia pada Aelin.
Ia tidak akan bisa menjawab soal- soal tes yang sangat ia benci itu.
Jika ia tidak mendapat kan jawaban dari Aelin diri nya akan menjawab apa.
"Ohhh kamu ternyata sangat perhitungan ya Li.. Tega sekali kamu mengancam akan membocor kan rahasi sahabat mu..."
"Ck... Ck... Baik lah.... Baik lah... Maaf..." Sosor Lia cepat sebelum mendapat ceramah panjang dari Aelin.
Yang pasti nya akan membuat telinga nya terasa panas seperti orang kerasukan.
Aelin tersenyum miring, mendengar ucapan pasrah Lia.
Sekali- kali Lia harus mendapat kan pelajaran.
Siapa suruh dia bertanya sesuatu yang sangat intim seperti itu.
Ngomong- ngomong tentang malam pertama. Ia bahkan sama sekali tidak memikir kan itu.
Tapi bisa- bisa nya sahabat nya itu memikir kan hal semacam itu.
Trengggg....
Suara bel berbunyi, menanda kan jika tes akan berlansung.
Semua murid segera masuk ke dalam kelas masing- masing dan mulai melakukan ujian akhir semester.
Begitu pula dengan Aelin yang tengah sibuk mengerja kan soal ujian milik nya.
Sementara Lia sedang gelisah hampir menangis melihat banyak nya soal- soal ujian yang membuat kepala nya pusing dan hampir ingin meletus.
Sesekali ia melirik pada Aelin berharap Aelin berubah pikiran dan membagi jawaban pada nya.
Tapi seperti nya harapan nya pupus melihat Aelin yang mengacuh kan diri nya.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1