Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
8 bulan


__ADS_3

...210...


Matahari yang begitu hangat seakan hilang ditelan bayang-bayang. Tak ada cinta, kehangatan, ataupun sebuah tawa. Semuanya terkubur dalam duka berselimut diam.


Usai pertengkaran besar yang menghantam ikatan kecil sepasang dua insan yang saling mencintai, tapi tak memiliki akar kepercayaan yang kuat. Membawa hidup keduanya pada ambang pintu neraka yang terasa panas.


Dunia yang diciptakan dengan bahan dasar cinta, hanya tersisa pondasi rapuh yang terus terkikis setiap detik. Mansion besar Arselion yang menjadi saksi indahnya kisah cinta sang tuan bersama wanita belia kini terlihat suram tanpa cahaya.


Pria bertubuh tegap dengan tatapan dingin sedingin es menuruni tangga dengan cepat. Suara ketukan sepatu mahal beradu dengan lantai keras dan dingin.


"Davin, tunggu!" seru seorang wanita memakai baju tidur yang terus mengejar Davin di belakang. Akan tetapi, langkah Davin terus bergerak tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.


Bruk.


Suara dentuman yang cukup keras lansung membuat Davin memutar tubuhnya ke belakang. Dimana netra tajamnya melihat tubuh Syaila tersungkur di lantai. Ia segera berlari dengan cepat mendekati sang istri yang kesakitan. Tanpa mengeluarkan kalimat apapun, ia mengulurkan tangan untuk membantu Syaila berdiri.


Syaila mendongak dengan mulut masih meringgis. Ia meraih tangan Davin dan berdiri dengan bantuan tenaga pria itu. Hanya ada tatapan menusuk kulit yang membuat ia merasa muak. Davin hendak melepaskan tangan Syaila untuk segera pergi. Namun, wanita itu malah mengeratkan genggaman tangannya sehingga membuat langkah Davin harus berhenti.


"Sampai kapan, kamu akan bersikap dingin seperti ini, Dav?" celetuk Syaila menanyakan rasa yang kini membuat ia frustasi.


"Berhenti terus bertanya, Sya. Aku harus pergi ke kantor," jawab Davin datar tanpa ekspresi.


"Ini sudah delapan bulan, tapi kamu tetap bersikap dingin padaku. Aku juga bisa muak!" Syaila meninggikan suaranya dengan air mata yang meleleh turun. Davin memilih diam dengan tarikan nafas dalam. Yah, ini sudah delapan bulan berlalu setelah kejadian hari itu yang merenggut seluruh hidupnya. Pengkhianatan Aelin yang begitu menyakitkan membuat ia menjadi sosok tak hidup. Ia berusaha bangkit dari rasa sakit itu. Namun, ia tak pernah bisa ketika melihat perut wanita yang pernah ia cintai semakin membesar setiap harinya.


Syaila mencengkram jahitan baju tidurnya dengan sangat keras. Ia sangat kesal dan juga marah dengan sikap Davin yang seperti ini. Dia menghukum Aelin, tapi dialah yang ikut merasakan sakitnya. Ia sudah membuat Aelin keluar dari hidup Davin. Namun, itu membuat Davin menjadi sosok dingin yang gila kerja. Ia berusaha menjadi istri setia yang selalu menemani Davin. Akan tetapi, sikap Davin yang ia harapkan setelah Aelin keluar dari hidupnya malah berbanding terbalik dari apa yang ia inginkan. Ia pikir, Davin akan kembali mencintai dirinya, tapi kenyataannya Davin ikut larut dalam kebencian untuk Aelin.


"Ku mohon, hiduplah seperti dulu ketika masih ada kamu dan aku. Aku lelah Dav, dengan semua sikap dan perlakuanmu padaku yang dingin. Aku memilih untuk terus berada di sampingmu, tapi pernahkah kamu berpikir bagaimana perasaanku? Aku mencintaimu sehingga aku tidak pergi." Tangis Syaila pecah dengan isakan tersedu-sedu.


Davin menatap nanar wajah Syaila yang sembab dengan tanda hitam di bawah mata wanita itu. Syaila memang sangat sering menangis beberapa bulan ini. Menangisi sikapnya yang memang sudah sangat kelewatan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menangkup wajah sesegukan di depannya.

__ADS_1


"Maaf, tapi luka ini tidak membiarkan aku hidup, Sya," rintih Davin menyentuhkan keningnya dengan kening Syaila.


"Aku tahu, tapi masih ada orang yang mencintaimu, dan itu aku, Dav. Masih ada orang di sampingmu yang setia mendampingimu. Apa waktu yang aku habiskan bersamamu tidak ada artinya?"


Kata-kata Syaila yang begitu menyedihkan dan menusuk benda kenyal yang bernama hati dalam tubuhnya. Davin menarik tubuh Syaila masuk ke dalam pelukannya. Mungkin ia memang sudah sangat keterlaluan, wanita yang selalu ada di sisinya ia perlakukan dengan sangat buruk. Syaila membalas pelukan hangat Davin dengan hati terharu dan berbunga-bunga. Pelukan yang sudah sangat lama ia dambakan. Pelukan kepemilikan yang selalu ia rindu.


"Aku salah, maaf," bisik Davin di sela-sela isak tangis Syaila.


"Mari hidup bersama, dan lupakan Aelin."


"Hmm, kamu benar. Dia memang tidak seharusnya ada di antara kita. Aku akan mengeluarkan dia dari hidupku dan juga dari rumah ini. Aku tidak bisa, tinggal di bawah atap yang sama bersama dia. Hal itu akan selalu membuat luka pengkhianatan yang dia berikan menganga."


Syaila mengurai pelukan Davin. Bibirnya yang gemetar karena menangis mengulas senyum bahagia. Akhirnya, apa yang ia ingin dengar akhirnya terwujud setelah penantian panjang bergantikan bulan. Ia menangkup wajah tampan Davin yang terlihat penuh kepedihan dan duka.


"Aelin sudah sangat menyakitimu sampai bibirmu pun tidak ingin menyebut namanya. Kalau dia hanya duri dalam hidupmu, lebih baik duri itu di buang sebelum menetap dan membuat luka membusuk. Akhirnya, kamu sadar, membiarkan Aelin tetap tinggal di sini tidaklah benar," ucap Syaila dengan kedua mata berbinar.


"Kita akan mulai hidup yang baru. Hidup antara aku dan kamu sebelum semua ini terjadi."


Davin mengangguk pelan, lalu kembali memeluk Syaila erat. Menumpahkah sesak di dada akibat ucapan yang ia utarakan sendiri. Membiarkan Aelin pergi dari hidupnya sangat tidak mungkin, tapi ia akan melawan ketidakmungkinan itu.


"Baiklah, berhenti menangis, Baby. Aku akan pergi ke kantor." Davin mengurai pelukannya dan mengusap sisa-sisa air mata di wajah Syaila.


"Baby?" ulang Syaila sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Panggilan yang selama ini menjadi panggilan cinta Davin pada dirinya.


"Iya, apa kamu ingin mengganti panggilan sayang kita?" Davin menelisik dengan dahi berkerut.


"Tidak, aku hanya kaget. Setelah sekian lama, hari ini aku bisa mendengar panggilan manis itu lagi."


"Aku akan perbaiki semuanya, percayalah." Davin menggenggam tangan Syaila sambil memperlihatkan ekspresi ceria. Ekspresi yang sangat berlawanan dengan hatinya yang kini bergemuruh hancur.

__ADS_1


"Aku percaya, terimakasih sudah kembali menjadi Davinku."


"Sejak awal, aku memang milikmu. Maafkan, semua kesalahanku."


"Aku memaafkanmu. Aku tahu semua ini adalah ujian takdir untuk rumah tangga kita, tapi aku akan selalu menemukan cara untuk mempertahankan hubungan ini."


"Dengar, kalau kita terus bicara. Aku akan terlambat ke kantor. Kita bisa minum kopi di sore hari dan mengobrol sepanjang waktu."


"Oke, aku tidak akan menahanmu lagi, Baby. Selamat bekerja." Syaila mencium pipi Davin singkat sebelum sang suami pergi dari hadapannya.


Davin menyusuri setiap langkah kakinya dengan sangat cepat, bersamaan dengan ekspresi wajahnya yang sudah kembali dalam mode datar. Langkahnya tiba-tiba terasa berat saat melewati kamar Aelin. Ia menatap ke arah pintu yang tak pernah lagi terbuka setelah kejadian itu. Ia juga tidak pernah melihat sosok cantik pemilik kamar ini. Hati Davin bergemuruh dengan gejolak rasa yang saling bercampur, antara cinta, duka, dan kebencian. Setiap mengingat senyum Aelin, maka detik itu juga bayangan foto-foto Aelin bersama pria lain bermunculan sehingga membuat amarah membakar seluruh tubuhnya. Dengan urat-urat yang terbentuk dan menegang, Davin segera melanjutkan langkah kakinya sebelum luka hatinya kembali disiram air garam.


Sepasang mata sendu dengan nampan berisi makanan menatap nanar pemandangan yang barusan terjadi. Ia menatap pintu yang sama yang ditatap oleh Davin. Kemudian memutar knok dan mendorong daun pintu tersebut.


...----------------...


...****************...


Hehe, balik lagi. Maaf ya terlambat soalnya othor sempat cosplay jadi kuli bangunan๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Selamat menikmati.


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


promosiin


__ADS_2