
...205...
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu katakan itu. Aku hanya mencintai Davin, dan aku tidak mungkin mengatakan kalau aku mencintaimu."
"Davin tidak pantas untukmu, hanya aku yang pantas." Arjun hendak memeluk tubuh Aelin. Namun, dengan cepat Aelin mendorong tubuh pria tersebut hingga jatuh ke ranjang.
"Jangan dekati aku! Berhenti berbohong, aku akan memberitahu Davin kalau kamu menculikku, Arjun. Dia tidak akan mengampunimu." Aelin berlari ke arah pintu. Akan tetapi, Arjun bergerak cepat dan menangkap tubuhnya dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku, Ae," renggek Arjun mengeratkan pelukannya pada tubuh Aelin.
"Lepaskan, aku. Jangan berani menyentuhku, Berengsek!" Berontak Aelin berusaha melepaskan diri dari pelukan Arjun. Ia memukul tangan Arjun yang melingkar dengan erat di perutnya sehingga ia merasa sedikit sesak. Namun, bukannya terlepas, Arjun malah semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya.
"Ae, aku mencintamu, kamu juga mencintaiku, kan."
"Kamu gila, Arjun. Aku sudah punya suami."
"Suami yang sudah punya istri lain, tidak pantas untukmu, Ae. Davin itu pembohong besar."
Aelin berhenti berontak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Arjun. Apa yang ia dengar tidak salah, kan? Davin punya istri lain selain dirinya? Mustahil. Arjun melepaskan pelukannya dari Aelin.
"Kamu terkejut, bukan? Aku juga sama, Ae," ucap Arjun menatap sendu wajah cantik Aelin.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di wajah Arjun. Bahkan saking kerasnya tamparan Aelin, wajah Arjun sampai berpaling ke samping. Berani sekali, Arjun mengatakan kebohongan sebesar itu. Sampai kapanpun, ia tidak akan mempercayai hal bodoh semacam itu.
"Kamu pikir, aku akan percaya padamu? Tidak. Davin tidak akan pernah membohongiku dan melakukan hal seperti itu. Dia tidak seberengsek dirimu, Arjun. Dengar, aku tidak mencintaimu!" bentak Aelin dengan teriakan histeris, memberitahukan pada Arjun kalau tidak ada cinta yang ia miliki untuk laki-laki itu.
__ADS_1
Tenggorokan Arjun terasa tercekat, seolah ada batu besar yang menghambat. Hatinya, kembali diiris-iris kejam oleh kata-kata Aelin. Akan tetapi, ia tidak akan menyerah secepat itu.
"Hhh, kamu tidak akan percaya padaku, tapi apa yang aku katakan memang benar," tekan Arjun berjalan mendekat ke arah Aelin, dimana langkah Aelin mundur ke belakang hingga punggungnya membentur tembok.
Brak.
Arjun memukul tembok dengan tanganya sehingga membuat Aelin terkejut dengan suara pukulan yang tepat berada di samping telinganya. Ia menatap manik mata Arjun yang berkaca-kaca dengan berani. Ia tahu, kalau apa yang dikatakan oleh Arjun adalah kebohongan.
"Dulu, aku tidak menyadari cintaku padamu, Ae, tapi sekarang perasaan yang aku miliki padamu itu tulus. Aku bisa saja, menjadikanmu milikku malam kemarin, tapi aku tidak bisa melukai wanita yang aku cintai." Arjun mengangkat tangannya hendak membelai wajah Aelin. Namun, wanita di depannya memilih berpaling.
"Davin memberikanmu tempat berlindung, tapi kamu akan tahu, kalau dia adalah pembohong besar. Sekarang pergilah, aku tidak akan menahanmu lagi." Arjun mundur menjauh dari Aelin. Memberikan ruang untuk wanita itu untuk pergi.
Aelin menatap Arjun dengan tatapan datar. Perilaku Arjun cukup membuat ia bingung, pria itu bertingkah sangat kejam, tapi pada detik berikutnya dia membebaskan dirinya. Tidak ingin membuang waktu atau kesempatan untuk kabur. Ia segera berlari keluar dari kamar hotel tersebut sambil mengusap sisa-sisa air matanya yang tumpah. Sekarang, ia harus segera pulang dan menemui Davin. Mengucapkan ucapan selamat ulang tahun pada suami tercinta dan meminta maaf karena tidak pulang. Ia juga akan menjelaskan semua yang terjadi padanya walau ia bingung kenapa dirinya bisa berakhir bersama Arjun.
Dengan penampilan sedikit berantakan serta wajah kusut dan lusuh. Aelin menaiki taksi dan meminta sang sopir untuk membawa ia pulang. Ia meremas satu sama lain jari-jari tangannya. Sesekali mengusap perut tempat kehidupan bayi kecil sedang berlangsung. Malam kemarin ia tidak bisa memberitahu kabar besar ini pada Davin. Akan tetapi, pagi ini ia akan memberitahu semuanya.
Taksi yang ditumpangi Aelin berhenti di tempat tujuan. Aelin segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Davin. Langkah kaki Aelin berhenti, saat melihat Davin duduk dengan kepala tertunduk. Ia menatap ruangan yang dipersiapkan untuk kejutan Davin kini terlihat sangat berantakan. Semua dekorasi yang ia pesan tidak berbentuk layaknya dekorasi indah, melainkan terlihat seperti ruangan yang diterpa badai. Aelin berjalan mendekat ke arah Davin dengan mengukir senyum manis. Ia tahu, Davin pasti menunggu dirinya sejak kemarin malam. Rasa bersalah yang begitu besar menyeruak ke dalam hati Aelin.
"Dav---"
"Jangan berani menyebut namaku, wanita ******!" bentak Davin yang berhasil membuat Aelin terlonjak kaget. Davin mendekat ke arah Aelin dengan tatapan mata yang begitu tajam. Seolah siap membelah tubuh Aelin menjadi serpihan-serpihan kecil. Kebencian dan kekecewaan karena dikhianati sudah mengusai seluruh pikiran dan hati Davin. Baginya, Aelin adalah musuh yang sudah menghancurkan dunia indah yang ia miliki. Wajah lugu yang selalu ditampilkan wanita itu adalah topeng belaka. Seharusnya, ia tidak pernah terjebak dengan Aelin dan meneruskan balas dendam untuk menghancurkan hidup Aelin. Ia mungkin melakukan kesalahan itu, tapi kali ini ia akan menuntaskan dendamnya yang tertunda.
Plak.
Plak.
Dua tamparan keras mendarat di pipi kanan dan kiri Aelin hingga membuat tubuh wanita itu terpelanting di lantai. Saking kerasnya tamparan Davin membuat kedua sudut mulut Aelin robek dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
Rasa sakit seperti kedua rahang hancur seketika mengundang tangisan Aelin yang pecah dan terdengar memilukan. Ia tidak percaya kalau Davin menampar dirinya.
"Seharusnya, aku tidak memberikan hatiku pada wanita sepertimu. Wanita yang hanya bisa membuat hidupku hancur berkali-kali," ucap Davin dengan tekanan amarah.
Perlahan Aelin menatap Davin dengan tatapan tidak percaya. Baru kali ini, ia melihat kemarahan Davin yang begitu besar padanya. Akan tetapi, apa yang sudah ia lakukan sampai Davin harus semarah ini?
"Kenapa kamu mengatakan itu, Dav? Aku tahu aku salah karena tida pulang kemarin malam. Aku akan menjelaskan semuanya." Aelin bangkit dengan memegang pipinya yang terasa sakit.
"Memberitahuku kalau kamu sangat menikmati malam bersama pria lain," sarkas Davin tersenyum kecut.
Aelin terdiam mematung tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Davin. Dia tahu kalau ia bersama dengan Arjun, tapi apa yang dituduhkan sang suami tidaklah benar.
"Tidak, apa yang kamu pikirkan itu salah. Aku tidak melakukan apapun dengan Arjun---"
Belum sempat Aelin menuntaskan ucapannya. Davin melempar lembaran-lembaran foto tepat di wajahnya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
Like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips