
...187...
Syaila yang diam-diam melihat keromantisan Davin pada Aelin menjadi sangat marah. Hal itu terlihat dari tatapan penuh emosi dengan ke dua tangganya yang mengepal dengan erat, hingga buku-buku tangannya memutih dengan sempurna.
Seharusnya ia yang berada di posisi Aelin. Ia yang selalu mendapat perlakuan manis bak ratu dari Davin. Namun, sekarang Aelin mengambil semuanya dari dirinya. Ia tidak akan membiarkan semua ini.
Davin adalah milikku, dan akan selalu menjadi milikku. Nikmati saja keromantisanmu bersama Davin, tapi kehancuranmu di hitung mundur dari sekarang. Batin Syaila yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara di kamar Aelin, Davin tengah membujuk istrinya itu untuk makan.
"Ae, ayolah kamu belum makan malam sayang!" seru Davin sembari meletakkan makanan yang tadi di berikan oleh Syaila.
Aelin segera naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Malam ini ia benar-benar tidak berselera untuk makan. Biasanya perutnya selalu meminta jatah dan tidak bisa melewatkan makan malam. Namun, entah mengapa malam ini perutnya tidak merasa lapar.
"Tidak, aku tidak lapar Dav. Kamu bawa saja makanan itu keluar," ujar Aelin dengan suara merenggek.
"Kenapa kamu begitu keras kepala Ae? kamu tidak menghargaiku yang sudah membawakan makanan ini. Apa kau tahu, aku juga belum makan hanya karena menunggumu untuk makan." Davin menghela nafasnya.
Mendengar hal itu, Aelin membuka selimutnya. Menatap ke arah Davin yang kini menatapnya dengan tatapan memohon. Aelin pun beringsut mendekat ke arah Davin.
"Baiklah, aku akan makan tapi sedikit saja," ujar Aelin yang akhirnya mengalah. Tentu saja, karena dirinya sama sekali tidak tega dengan Davin yang rela kelaparan demi menunggunya untuk makan.
Davin tersenyum lebar, ia segera menyuapkan makanan tersebut pada Aelin. Namun, baru sekali mengunyah makanan itu, Aelin langsung memuntahkan makanan itu kembali.
"Uwekkk!" Aelin segera berlari ke arah kamar mandi dengan menutup mulutnya.
Sementara Davin langsung gelagapan dan panik, ia segera mengejar Aelin. Namun, pintu kamar mandi langsung tertutup rapat tepat di depan wajahnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Davin dengan khawatir.
"Uwekk ... Uwekk ...."
"Ae, buka pintunya sayang jangan membuatku takut!" seru Davin dengan menggedor-gedor pintu. Ia sangat takut jika Aelin sampai kenapa-kenapa.
Krieet!
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aelin yang sedang mengusap mulutnya. Entah mengapa saat memakan makanan itu, perutnya langsung mual.
Davin yang melihat Aelin, langsung menghambur memeluk erat istri kecilnya itu. Ia sangat bersyukur Aelin ternyata baik-baik saja.
"Jangan khawatir aku baik-baik saja. Aku hanya mual," ucap Aelin menenangkan Davin sembari menepuk-nepuk bahu pria itu.
"Kau yakin? atau perlu aku memanggil Steve untuk memeriksa kondisimu?" Davin menatap Aelin intens, menelisik setiap inci tubuh Aelin dan memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya masuk angin dan semacamnya. Aku yakin, setelah beristirahat aku akan lebih baik."
Davin memapah tubuh Aelin menuju ranjang, lalu membantu Aelin untuk berbaring.
"Aku benar-benar sangat khawatir. Kamu belum makan sejak pulang tadi dan sekarang saat kamu makan, kamu malah mual. Jika kamu tidak menyukai makanan ini, aku bisa membeli makanan lain untukmu," ujar Davin dengan tatapan sendu, sembari tangannya terus mengusap lembut surai hitam milik Aelin.
Aelin meraih tangan Davin, lalu mengecup punggung tangan suaminya dalam. Davin begitu perhatian padanya, hati wanita mana yang tidak meleleh dan jatuh cinta ke dalam jeratan seorang Davin Arselion.
Kau benar Davin, aku harus makan ini bukan untukku. Akan tetapi, untuk bayi kita. Batin Aelin sambil menatap Davin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Dav, bisakah kamu mengelus perutku? mungkin hal itu bisa mengurangi rasa mual," pinta Aelin.
Kamu bahagia sayang? tunggu sebentar lagi, Momy akan memberi tahu Dady tentang dirimu. Momy akan memberi kejutan ini di saat Dadymu berulang tahun. Hanya dua hari lagi.
"Sekarang katakan kamu ingin makan apa?" tanya Davin kembali ke topik awal. Ia tidak akan melepaskan Aelin begitu saja.
"Emmm." Aelin terlihat berpikir, memikirkan makanan yang benar-benar ia inginkan.
"Aku ingin makan, Pizza dengan toping emas," ujar Aelin begitu saja, dengan senyum ceria. Namun, berbeda dengan ekspresi wajah Davin yang melongo mendengar permintaan aneh istrinya itu.
Pizza dengan toping emas? Bukankah itu hanya ada di italia?
"Hah? aku tidak salah dengar?" tegas Davin mengulang ucapannya.
"Iya, aku menginginkan makanan itu Dav. Aku mohon berikan aku makanan itu. Rasanya air liurku akan menetes hanya dengan menbayangkannya saja," renggek Aelin dengan menelan ludahnya sendiri. Entah dorongan darimana, tapi ia begitu menginginkan makanan itu. Makanan itu berhasil membuat rasa lapar di perutnya bergejolak meminta jatah.
"Ae, tapi makanan itu hanya bisa ditemukan di Itali. Begini saja, aku akan memesankan Pizza dengan toping sosis full untukmu." Davin segera merogoh ponselnya. Namun, Aelin segera merampas ponsel itu dari Davin.
__ADS_1
"Jika Pizza lain aku tidak akan mau makan, biarkan saja aku mati kelaparan sampai besok pagi," kesal Aelin dengan memanyunkan bibirnya ke depan.
Davin menghela nafasnya panjang. Mana tega ia membiarkan Aelin kelaparan hingga pagi. Ia tidak menduga jika Aelin menginginkan makanan aneh seperti itu. Tidak biasanya, Aelin merenggek dan meminta sesuatu sampai seperti ini.
"Baiklah, demi dirimu aku akan melakukan apapun." Davin mengacak rambut Aelin dengan gemas, yang langsung membuat Aelin bersorak gembira.
"Kamu memang yang terbaik sayang!" pekik Aelin dengan wajah senang.
"Tapi, ada imbalannya." Davin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, lalu menatap Aelin dengan tatapan devil.
Mengerti isyarat yang ditunjukkan Davin. Aelin segera menyambar bibir Davin dengan cepat. Mendaratkan ciuman yang begitu dalam, bahkan Davin cukup kewalahan dengan ciuman Aelin yang sangat liar.
"Apa kau puas?" tanya Aelin dengan mengusap bibirnya.
"Aku tidak pernah puas jika menyangkut dirimu," timpal Davin dengan mengedipkan sebelah matanya genit, yang langsung membuat ke dua pipi Aelin merona karena tersipu malu.
Davin segera meraih ponselnya, lalu berjalan menjauh dari Aelin. Ia harus menelpon Darren untuk mencari makanan yang diinginkan oleh Aelin.
Aelin yang melihat Davin memunggungi dirinya, kembali mengusap penuh haru perutnya. Ia yakin, jika ini adalah keinginan bayinya.
Kamu membuat Dadymu menuruti keinginanmu. Sayang, Momy tidak percaya seleramu benar-benar tinggi.
...----------------...
...****************...
Beh. Aelin ngidamnya gitu amat. Pizza pake acara toping emas lagi....
Sini emasnya buat othor aja, mubazir masuk perut keluar jadi kotoran.
Jangan lupa like
koment
gift
__ADS_1
vote