
...52🌲...
"Siapa gadis remaja ini?" Tanya Stefan to the poin dengan tatapan mengintimidasi.
Davin merotasi mata nya jengah. Memang tidak ada yang bisa mengalah kan kekepoan sahabat nya Stefan.
"Dia adalah gadis yang sudah membuat Syaila ku dalam kondisi koma..." Jawab Davin dengan perasaan bercampur aduk, antara sedih dan juga marah.
Mata elang nya menatap Aelin yang terlihat membaik setelah mendapat kan perawatan dari stefan.
Bahkan bibir gadis itu terlihat kembali memerah.
Stefan kaget mendengar penuturan Davin.
Gadis yang menyebab kan Syaila koma?
Itu arti nya gadis cantik dengan wajah mungil ini akan menjadi pelampiasan dendam Davin.
Stefan tidak percaya dengan semua ini.
Semua kegilaan Davin yang dia pikir hanya omong kosong pria tersebut ternyata kini benar- benar di lakukan Davin.
"Hanya karna kamu melihat gadis ini berlari dan Syaila mengejar nya dalam rekaman cctv itu, kamu menyalah kan semua kondisi Syaila pada gadis ini?" Seru Davin dengan wajah tidak percaya dengan kegilaan sahabat nya itu.
Stefan bisa menebak jika gadis seumuran Aelin pasti masih bersekolah, masa depan nya masih panjang. Dan sekarang ia harus menerima ketidak adilan dari Davin.
Davin mengepal kan tangan nya dengan kuat, saat mendengar nada bicara Stefan yang mempertanya kan tindakan nya.
Asap kemarahan mulai membumbung di atas kepala Davin, ia menatap Stefan yang sama sekali tidak bergeming dengan tatapan bermusuhan.
"Karna dia yang memang membuat istri ku kecelakaan Stef.... Asap tidak akan muncul jika tidak api, dan Syaila tidak akan mengejar nya jika tidak ada sesuatu di antara mereka... Kamu pikir wajah nya yang lugu itu menunjuk kan dia tidak bersalah? Kamu terlalu naif untuk melihat sebuah kebenaran. Sampai detik ini Syaila istri ku masih belum sadar Stef dan itu semua karna diri nya..." Ujar Davin dengan kemarahan yang menggebu- gebu bahkan menatap tajam stefan dengan ke dua mata merah nya.
"Kau memang sudah gila Davin...!!!" Bentak Stefan yang kini benar- benar muak meladeni kegilaan Davin. Ia tidak akan membiar kan Davin menghancurkan hidup seorang gadis.
Stefan meraih kerah baju Davin, ia sama sekali tidak takut berhadapan dengan seorang Davin Arselion. Selagi ia masih memegang jalan kebenaran apa pun tidak akan bisa menghenti kan diri nya.
"Henti kan semua ini Davin, kamu menghancur kan hidup seorang gadis... Dia belum tentu bersalah... Kamu menyalah kan gadis itu karna dia ada dalam cctv? ... Kau sudah gila Davin... Jika di lihat dari kesalahan, kenapa kamu tidak menyalah kan supir truk yang menabrak istri mu...? Kenapa ? itu karna kamu tahu istri mu yang bersalah karna menyeberang tanpa melihat jalanan... Dan sekarang kamu menumpah kan semua ketidak berdayaan mu pada gadis itu hhahh?..." Stef melepas dengan kasar kerah baju Davin.
Menghembus kan dan menghirup oksigen dengan kasar, karna emosi nya yang meluncur seperti roller coster.
Davin menyeringgai mendengar kemarahan Stefan.
__ADS_1
"Terserah kamu mau mengata kan apa pun Stefan... Tapi dia tetap bersalah di mata ku.. Dan aku akan terus menghancur kan hidup nya.. Bahkan kau tahu aku sudah mengambil keperawanan nya..."
BUGH...
Satu bogem mentah mengenai wajah Davin, yang langsung membuat tubuh nya terjungkal ke lantai.
"Brengsek..!!!. Kau... ??" Umpat Stef menatap Davin dengan penuh amarah, emosi nya benar- benar tidak bisa terkontrol lagi saat dengan santai nya bibir Davin mengata kan hal menjijik kan seperti itu.
Kerongkongan nya bahkan kini terasa di hambat oleh batu besar, karna ia sudah tidak tahu harus mengata kan apa pada Davin yang sama sekali tidak ingin mendengar kan ucapan nya.
Kepala nya rasa nya hampir pecah.
"Kenapa kamu tidak bisa menerima takdir Davin?... Ini semua salah... Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini pada gadis yang belum tentu bersalah... Tapi aku yakin kamu akan menyesal sudah melakukan hal bejad ini.. Amarah mu sudah membuat benih dendam.. Dan dendam itu akan membunuh mu perlahan- lahan..." Suara Stefan menyendu dengan tatapan pedih yang terlihat di mata nya.
Ia tahu rasa sakit yang di alami Davin memang sangat menyakit kan.
Tapi semua yang di lakukan sahabat nya itu juga salah.
Mengambil kehidupan orang lain dan menghancur kan nya itu bukan lah pilihan yang tepat.
Apa lagi alasan nya sangat konyol, hanya karna melihat Aelin yang berlari dalam cctv membuat Davin menyalah kan gadis yang belum tentu bersalah itu.
Davin segera melempar pandangan nya pada Aelin yang seperti nya sudah sadar, begitu pula dengan Stefan yang langsung mendekati Aelin.
Davin mengusap ujung bibir nya yang membiru karna terkena bogem mentah Stefan.
Untuk pertama kali nya sahabat nya itu memukul nya. Meski diri nya pernah membuat Stefan babak belur tapi pria itu tidak pernah membalas nya.
Tapi karna dendam kesumat nya pada Aelin ia langsung di hadiahi bogem oleh Stef yang terlihat begitu marah pada nya.
Davin segera mendekati Aelin, dan duduk di samping gadis itu yang masih memijat pelipis nya.
"Kau sudah sadar..." Seru Davin dengan lembut, bahkan mengelus puncak kepala Aelin. Yang langsung membuat Stefan mengerjit dengan perlakuan lembut Davin pada Aelin.
Stefan tahu Davin sangat dingin pada semua wanita , kecuali Syaila. Tapi sikap nya pada Aelin benar- benar membuat Stefan semakin bingung.
Apa itu cuma sandiwara Davin?
Pikir Stefan langsung memeriksa Aelin, tanpa memperdulikan Davin yang sekilas melirik ke arah nya.
"Aku ingin menemui papy...!" Lirih Aelin memaksa kan tubuh nya untuk bangun, yang langsung di tahan oleh Stefan.
__ADS_1
"Nona tenang lah... Anda harus istirahat, tubuh anda belum stabil sepenuh nya..." Kata Stefan mencegah Aelin yang terus memaksa untuk bangun.
"Biar kan aku menemui papy ku... Papy ku sangat membutuh kan aku... Antar kan aku..." Cicit Aelin memelas dengan nada suara yang benar- benar lemah.
"Aku mo---"
"Pergilah... Aku akan mengurus istri ku.. Tugas mu sudah selesai di sini..." Sosor Davin memotong ucapan Stefan dengan sarkas. Sembari tangan nya menahan pundak Aelin.
Stefan terkekeh tidak percaya dengan kalimat yang baru saja di ucap kan Davin.
Istri ?
"Bukan kah kamu sangat mencintai Syaila.. Lalu kenapa kamu menikahi gadis lain saat kondisi istri mu tidak berdaya Davin..." Sinis Stefan yang langsung melangkah keluar dari kamar yang membuat kepala nya rasa nya ingin meledak, karna menghadapi kegilaan sahabat nya.
Davin terdiam di tempat, kata- kata Stefan terus tergiang - giang di kepala nya, seperti sebuah bisikan menyeram kan.
...----------------...
...*****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1