
...74😻...
"Kak Antoni terlihat sangat akrab dengan om Davin?" Tanya Aelin dengan tatapan menyelidik karna sedikit curiga dengan aura bermusuhan yang di tunjuk kan oleh ke dua pria itu. Seakan mereka berdua memang sudah saling mengenal.
Antonio menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, lalu mengulum senyum kaku, sebelum bokong nya mendarat di kursi depan Aelin. Di mana sebuah meja menjadi sekat antara mereka berdua.
"Ahhh... Tidak Ae... Tadi kakak hanya berbicara tentang masalah pemakaman papy mu.. Setelah kembali ke kota , kau ingin memakam kan papy mu di mana?" Balas Antonio dengan sebuah pertanyaan, hal itu ia lakukan untuk mengalih kan pembicaraan antara diri nya dan Aelin.
"Papy akan di makam kan tepat di samping makam mamy mertua...!" Sinis suara bariton yang langsung menyela obrolan Aelin dan Antonio.
Di mana pelaku nya adalah , tak lain dan tak bukan adalah Davin.
Yang berdiri di samping Aelin dengah tatapan membunuh ke arah Antonio, yang hanya bisa berdecak kesal dalam hati. Karna Davin selalu menjadi pengganggu saat ia sedang bicara dengan Aelin.
Ingin rasa nya ia mengubur Davin jauh di dalam perut bumi, sehingga manusia brengsek itu tidak muncul lagi ke permukaan bumi.
Aelin mendongak kan wajah nya, untuk menatap Davin.
Hati Aelin sedikit luluh dengan sikap Davin yang mau repot- repot mengurus urusan pemakaman sang ayah, sementara siapa yang tidak tahu jika seorang Davin Arselion adalah seorang pengusaha yang sibuk.
Di mana Aelin sudah berkali- kali memergoki Davin membatal kan jadwal pertemuan nya dengan beberapa tander perusahaan nya. Hanya untuk mengurus masalah pemakaman sang ayah.
Sebenar nya Davin bisa saja menyuruh anak buah nya untuk mengurus masalah pemakaman papy nya, namun Davin tidak melakukan itu, malah turun tangan langsung mengurusi semua nya.
Bahkan Aelin tidak berpikir untuk memakam kan sang ayah di samping makam sang ibu. Tapi Davin memikir kan dan menyiap kan semua nya dengan begitu rapi.
Di mana Aelin tidak bisa mengeluh atau pun koment dengan apa yang di lakukan Davin.
Apa yang di lakukan Davin, membuat Aelin benar- benar merasa tidak sendirian.
Di mana keyakinan dalam hati nya, tentang janji yang di ucap kan Davin adalah benar.
Di mana diri nya masih memiliki Davin suami nya di dunia ini.
Dan Davin berhasil membuat diri nya tidak merasa sendiri di tengah- tengah dunia yang kejam ini.
Di tengah- tengah penderitaan yang terus menerus menghantam nya tanpa jeda sedikit pun.
"Terimakasih om... Aku bahkan tidak berpikir sampai di situ..." Ucap Aelin dengan tulus, di mana bibir nya tersenyum tulus pada Davin.
Hati Davin berdenyut senang, melihat senyuman indah tanpa di paksa kan itu di tujukan pada nya.
__ADS_1
Ia seolah mendapat jackpot besar. Ini adalah pertama kali nya Aelin tersenyum pada nya, di mana wajah itu selalu menatap diri nya penuh dengan kemarahan dan kebencian.
Entah mengapa, hati Davin merasa senang melihat senyum manis Aelin.
"Kita akan segera kembali pulang... Tenang lah aku akan mengurus semua..." Sahut Davin dengan mengusap lembut puncak kepala Aelin.
Antonio mendelik melihat adegan di depan nya.
Di mana Davin begitu apik memain kan sandiwara nya.
Selalu ada di samping Aelin, yang mampu membuat Aelin merasa di istimewa kan.
Namun Antonio tidak salah menampik jika ekspresi Davin terlihat begitu alami, bahkan terkesan tidak bersandiwara.
Hal itu menimbul kan gelenyar- gelenyar curiga di hati Antonio jika Davin mulai memiliki rasa untuk Aelin, meski hal itu hanya sebuah dugaan.
Namun tentang perasaan siapa yang akan tahu.
"Tuan Davin terlihat begitu sangat mencintai Aelin.." Celetuk Antonio dengan menatap datar ke arah Aelin dan Davin bergantian.
Davin menghembus kan nafas nya sebal, mendengar ucapan Antonio yang terkesan sedang memperingati diri nya.
"Kau sangat bertanggung jawab Tuan... Tapi jangan lupa jika ada hal yang perlu kau urus jauh lebih penting..." Seru Davin memancing kecurigaan Aelin, karna ia sudah muak melihat Davin yang terus bersandiwara menjadi suami yang baik.
Sangat menjijik kan.
Di mana Davin sangat sibuk bersandiwara, sementara kakak nya Syaila terbujur kaku di atas ranjang.
Dan benar saja, pancingan Antonio di tangkap oleh Aelin, di mana dahi Aelin berkerut dalam, di mana ia merasa ucapan Antonio mengandung sesuatu maksud yang berbeda dari apa yang di kata kan pria yang kini menatap suami nya dengan intens.
"Kau tenang saja Antonio... Aku akan mengurus semua nya dengan baik..." Balas Davin, di mana hati nya sudah terbakar karna kesal.
"Memang hal penting apa yang harus om Davin lakukan ? ... Jika memang ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan lebih baik om kembali ke kota lebih dulu... Biar kan aku dan kak Antoni yang mengurus urusan papy..." Sela Aelin yang sama sekali tidak ingin merepot kan Davin, di mana suami nya itu sudah sangat banyak membantu diri nya.
Antonio menyeringgai saat Davin melirik ke arah nya, sebelum tatapan nya kembali pada Aelin.
"Jangan pikir kan apa pun sayang... Semua nya aman terkendali... " Sahut Davin menyakin kan Aelin di mana ia bisa melihat keraguan di ke dua mata hitam ke abu- abuan itu.
Antonio mencebik kan bibir nya, dengan sikap Davin yang benar- benar membuat nya ingin muntah.
Aelin mengangguk pelan , mendengar jawaban Davin. Meski ada perasaan aneh dengan pernyataan Antonio tadi.
__ADS_1
"Sayang... lebih baik kita kembali ke hotel... Kau butuh istirahat untuk perjalanan kembali malam ini..." Ujar Davin lagi yang membuat Aelin sedikit kaget.
"Malam ini?" Tanya Aelin memasti kan jika apa yang di dengar nya tidak salah.
"Iya malam ini... Kita tidak bisa terus berada di kota ini bukan.? Jenazah papy sudah di kirim, dan Darren sudah menyiap kan semua nya di sana..." Jelas Davin.
"Baik lah... Sekali lagi terimakasih om.. Oh ya kak Antoni aku harus kembali ke hotel...!" Ujar Aelin pamit.
"Apa sekarang kau pergi tanpa memeluk kakak mu ini Aelin..?" Sahut Antonio dengan wajah yang di buat pura- pura marah.
"Tentu saja tidak..." Seru Aelin dengan senyuman, lalu menghambur dalam pelukan Antonio.
"Brengsek...!" Umpat Davin dalam hati melihat pelukan teletabis antara Aelin dan Antonio yang lagi- lagi membuat nya merasa kesal.
Sementara Antonio hanya menyeringgai ke arah Davin dengan wajah mengejek.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1