Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Kepergok


__ADS_3

...194...


Syaila memarkirkan mobilnya di basemant kantor Davin. Ia meraih paperbag berisi makanan yang sempat ia beli di restaurant langganannya.


Senyumnya mengembang dengan sangat lebar. Ia segera turun dari mobil, di mana sebelumnya ia menyemprotkan parfum kesukaan Davin di tubuhnya. Tentu saja, hal itu ia lakukan untuk menggoda suaminya itu.


Syaila dengan samarannya menjadi Livia berhenti di meja sekretaris Davin. Sekretaris Davin segera berdiri dan menyambut Syaila. Akan tetapi sekretaris itu tidak tahu jika yang datang adalah Syaila karena wanita itu sedang menjadi Livia dengan gaya yang sangat glamor serta make-up menor.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris tersebut dengan ramah.


"Tuan Davin ada di dalam?"


"Iya, Nona. Tapi Anda siapa? Tuan Davin sedang sibuk saat ini."


"Aku Livia, katakan padanya jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Tapi, jangan katakan namaku."


"Baiklah, saya akan menghubungi beliau."


Sekertaris tersebut meraih telpon kantor dan memencet salah satu nomer, yang akan langsung menghubungkan dirinya dan sang atasan.


"Hallo, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda. Dia mengatakan jika dia adalah orang penting yang harus menemui Anda." Sekertaris tersebut diam mendengarkan perintah Davin dari ujung telpon.


"Baiklah, Tuan," lanjut sekertaris itu, lalu meletakkan kembali telpon ke tempat semula.


"Bagaimana? Apa aku boleh masuk?" cecar Syaila dengan tidak sabaran.


"Silahkan, Nona. Anda bisa masuk," ujar sekertaris tersebut mempersilahkan Syaila masuk.


Sementara itu Davin tengah berada di ruangannya. Kedatangan Antonio tadi pagi membuat kepalanya terasa semakin pening dan berat. Dirinya tidak menyadari jika Antonio sudah melangkah tiga langkah di depannya. Adik Ipar sekaligus musuh dalam bisnis sudah berhasil memegang setengah sahamnya tanpa ia sadari.


Ia menyadari jika belakangan ini ia terlalu teledor dengan urusan perusahaan karena urusan pribadinya yang juga tak kunjung selesai.


Tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan lentik dan putih melingkar di leher Davin dengan manja. Pelukan tiba-tiba itu sedikit membuat Davin cukup tersentak kaget. Namun, keterkejutan itu hilang saat indra penciumannya menghirup bau parfum kesukaannya.


Parfum yang selalu di pakai oleh Aelin atas permintaannya. Davin berpikir jika Aelin datang ke kantornya untuk meminta maaf atas pertengkaran mereka tadi pagi.


Davin mengulum senyumnya, ia menikmati pelukan Aelin. Di mana ia merasa geli di bagian lehernya karena hembusan nafas Aelin.

__ADS_1


"Kejutanmu lumayan membuatku terkejut, sayang---"


"Apa yang sedang kalian lakukan!" seru suara Aelin dari ambang pintu ruang kerja Davin dengan nada dingin menusuk.


Davin langsung terlonjak kaget bukan main, ia segera bangkit dan melihat jika yang memeluknya ternyata bukan Aelin tapi Syaila.


Davin menoleh ke arah Aelin yang menatapnya dengan penuh amarah. Itu terlihat dari genggaman tangan Aelin pada kotak makan yang sedang ia bawa.


Berniat hati ingin mengantar makan siang untuk sang suami. Malah Aelin di suguhkan dengan pemandangan yang menusuk indra penglihatannya. Bahkan, ia mendengar Davin memanggil sayang pada Livia alias Syaila.


Sedangkan Syaila menyeringgai senang karena Aelin datang di waktu yang tepat, dan melihat kemesraannya dengan Davin. Akhirnya, rasa sakit melihat suami sendiri bercumbu dengan wanita lain bisa dirasakan oleh Aelin. Hal itu membuat Syaila merasa sangat puas. Ia yakin, hubungan Aelin dan Davin akan semakin retak dan memanas, dan akan lebih mudah baginya untuk menghancurkan Aelin.


Syaila mengontrol rasa senang yang tengah meletup-letup di dadanya. Ia memasang raut wajah bersalah, seolah ia tidak sedang melakukan apapun.


"Ae, dengar ini tidak seperti yang kau pikirkan!" seru Davin mencoba menjelaskan pada Aelin. Sungguh ia sama sekali tidak tahu jika yang datang dan memeluknya adalah Syaila. Andaikan ia tahu, ia tentu akan melepaskan pelukan itu.


Aelin berjalan ke arah Davin dengan wajah yang tegang. Sementara dadanya sedang bergemuruh penuh amarah dan kecemburuan serta kecurigaan.


Apakah selama ini Davin berselingkuh dengan sepupunya sendiri?


Itulah, satu pertanyaan yang kini muncul di benak Aelin. Ia menatap ke arah Livia, di mana wanita itu menunduk seperti orang yang ketahuan sedang berbuat mesum.


Tanpa di duga, satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Livia. Bahkan, saking kerasnya kepala Livia sampai menoleh ke samping.


Kedua mata Livia melebar dengan sempurna, di mana tangannya refleks memengangi pipinya yang di tampar oleh Aelin.


"Apa kau selingkuhan Davin?" tanya Aelin pada Livia, dengan menekan nada bicaranya. Entah dari mana ia bisa memikirkan pertanyaan itu. Namun, saat ini hanya hal itu yang ada di pikirannya.


"Ae, dengarkan---"


"Diam, Dav!" hardik Aelin memotong perkataan Davin. Aelin menepis kasar tangan Davin yang hendak menyentuh bahunya. Emosinya sudah terbakar habis menjadi sebuah amarah yang menggebu-gebu.


"Jawab, aku!" bentak Aelin lagi karena Livia masih diam seribu bahasa.


"Kau salah paham Ae," ujar Davin lagi yang ingin meluruskan duduk perkara masalah ini.


"Apa yang kau ingin jelaskan Dav? Apa kau ingin menceritakan sebuah karangan palsu padaku untuk menutupi perselingkuhanmu itu?"

__ADS_1


"Aku tidak selingkuh, Ae."


"Kau kira aku buta Dav. Kalian berpelukan dengan sangat mesra, bahkan kau memanggilnya sayang. Apa hal itu hanya lelucon?"


Prang!


Aelin membanting kotak makan yang ia bawa ke lantai. Sehingga makanan di dalam kotak makan tersebut berhamburan di lantai.


"Kakak Ipar, aku ini sepupu Davin. Davin tidak mungkin berselingkuh denganku. Dengarkan dulu penjelasan Davin, kau terlalu emosi," sela Livia dengan raut wajah sedih.


"Aku tahu, kamu sepupu suamiku, dan aku juga tahu kalian tidak memiliki hubungan darah. Itu artinya tidak ada yang tidak mungkin Livia."


"Aelin dengarkan aku!" Seru Davin dengan nada suara yang meninggi. Ia menarik tubuh Aelin untuk menghadap dan menatap dirinya.


"Kau menuduhku terlalu kejam, Ae. Aku sama sekali tidak berselingkuh dengan Livia. Awalnya kami sedang membicarakan tentang solusi bisnis Livia yang bangkrut. Setelah itu, Livia keluar untuk membeli makan siang. Saat dia masuk, aku pikir itu kamu. Sehingga aku memanggilnya dengan sayang," jelas Davin dengan merancang kisah palsu, berharap Aelin percaya padanya.


Aelin menghentakkan kedua lengannya dengan keras, sehingga pegangan tangan Davin terlepas. Ia kembali menatap Livia dengan nyalang, seolah siap menelan Livia hidup-hidup.


"Lalu, kenapa dia memelukmu Dav?"


"Itu hal yang wajar Kakak Ipar. Aku memeluk Davin untuk berterimakasih padanya karena sudah membantuku. Lagi pula aku juga sering memeluk Davin sejak kami kecil. Percayalah, aku tidak mungkin menyukai Davin," ujar Syaila dengan begitu menyakinkan.


Aelin menelisik jauh ke dalam dua bola mata Livia. Mencari kejujuran akan semua perkataan dari mulut wanita itu.


"Kau sudah mendengarnya kan, Ae. Aku dan Livia tidak mungkin selingkuh. Seperti yang kau tuduhkan," ujar Davin dengan nada suara sedikit kecewa.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2