Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Jangan panggil aku om


__ADS_3

...119💚...


Sore hari nya, ternyata Davin memang benar- benar pulang.


Sebenar nya Aelin meminta Davin untuk tetap di rawat sampai beberapa hari. Namun Davin berkilah dengan memberi alasan jika dia sangat bosan ada di rumah sakit.


Karna hal itu Aelin tidak bisa memaksa Davin.


"Om Davin apa ini tidak salah? Om kan belum sembuh total lebih baik om tetap di rawat di sini sampai om benar- benar sembuh.. Luka- luka om masih belum sembuh seutuh nya. Khusus nya untuk wajah dan kaki.." Ujar Aelin yang masih meminta Agar Davin tetap di rumah sakit.


Bukan nya ia tidak senang jika Davin akan pulang , hanya saja ia khawatir dengan kondisi kesehatan Davin.


Ia hanya ingin Davin segera sembuh.


Tangan Aelin terus memasuk kan peralatan Davin ke dalam koper.


Sementara wajah nya terlihat cemas dan sedikit khawatir. Ke dua hal itu terlihat jelas pada garis wajah cantik nya.


Davin tersenyum mendengar nasihat istri nya. Yang semakin hari semakin cerewet.


Ternyata Aelin tipe gadis yang cukup cerewet. Sejak tadi dia hanya mengoceh terus memaksa diri nya untuk tetap tinggal di rumah sakit.


Bukan nya ia ingin memaksa untuk pulang, tapi tadi siang itulah alasan yang ia berikan saat Aelin tidak sengaja mendengar pembicaraan nya dengan Darren.


Sehingga ia memilih untuk pulang dan rawat jalan di rumah.


"Aelin kemari lah...!" Pinta Davin dengan mengulur kan tangan nya pada Aelin.


Aelin memutar tubuh nya menatap Davin yang tersenyum ke arah nya.


Sungguh ia merasa meleleh melihat senyum indah di wajah Davin.


Aelin melangkah mendekat ke arah Davin, menerima uluran tangan Davin yang menuntun Aelin untuk duduk di paha Davin.


Aelin sebenar nya sedikit canggung dan merasa risih. Namun juga bahagia dan merasa istimewa di saat yang bersamaan.


Wajah Aelin tersipu malu, di mana ke dua pipi nya yang putih bersemu merah seperti kepiting rebus.


"Lihat aku...!" Pinta Davin dengan menarik dagu Aelin untuk melihat wajah nya.


Aelin menunduk kan pandangan nya, ia tidak sanggup memandangi Davin sedekat ini.


Rasa nya jantung dan seluruh tubuh nya membeku.


Di mana ia merasa suhu tubuh nya bertambah panas.

__ADS_1


Davin terkekeh geli, melihat sikap polos Aelin yang bahkan tidak ingin menatap nya.


"Lihat aku sayang...!" Pinta Davin lagi dengan sedikit tegas. Membuat ke dua mata Aelin perlahan menatap ke arah wajah Davin yang tepat berada di hadapan nya.


Tatap- tatapan pun terjadi. Di mana Davin menyelami dua mata indah Aelin yang begitu sangat memanja kan dan mampu menenang kan hati nya.


Ia merasa menemukan kebahagiaan nya saat melihat wajah cantik dan ke dua mata yang begitu indah di hadapan nya.


Entah mengapa semakin hari, perasaan yang diri nya miliki untuk Aelin semakin besar. Dan ia tahu hal itu adalah rasa yang salah.


"Kenapa kamu membuat ku jatuh dalam jurang cinta mu Aelin Dirwantar... Aku hanya ingin menjadi kan mu mainan balas dendam ku.. Lalu kenapa kamu menjebak diri ku dengan semua perhatian yang engkau miliki.? Kini aku sudah terjebak dalam pesona mu... Rasa nya keluar dari sana bukan lah hal yang sanggup aku lakukan... Tapi sebuah kenyataan menyadar kan aku.. Jika diri mu bukan lah takdir ku.. Seharus nya rasa ini tidak pernah tumbuh untuk mu.. Aku hanya tahu rasa ini adalah ketidak sengajaan.. Namun tetap saja aku yang kini merasa delima atas semua ini..." Batin Davin menatap Aelin penuh dengan tatapan bersalah.


"Om...!!" Panggil Aelin lembut saat melihat tatapan Davin yang berbeda.


Aelin merasa ada sesuatu yang di sembunyi kan oleh Davin.


Namun tidak, ia tidak ingin memikir kan hal yang buruk.


Mendengar panggilan Aelin, Davin tersentak di mana lamunan nya langsung buyar seketika.


Davin tersenyum kecut , mengontrol ekspresi nya yang terlihat oleh Aelin dengan tidak sengaja.


"Sekarang lihat.. Seperti nya Om masih perlu di rawat di sini.. Aku akan menemui dokter Nashila..." Aelin bergerak hendak bangkit dari pangkuan Davin.


Namun Davin segera mencegah Aelin dengan menangkup wajah Aelin yang pas dengan tangan nya.


Melihat hal itu, tentu saja Aelin panik.


Apa yang harus ia lakukan?


Namun seperkian detik kemudian, wajah Davin tertawa geli. Karna ia sudah berhasil mengerjai dan membuat Aelin panik.


Melihat tawa Davin membuat Aelin kesal. Ternyata Davin hanya mengerjai nya.


Padahal ia sudah hampir pingsan karna panik.


"Aku tidak suka dengan candaan om..." Marah Aelin dengan menatap Davin garang.


"He... He..." Namun Davin masih terus menikmati tawa nya.


Rasa nya ada ribuan kupu- kupu yang tengah mengerayani perut nya. Saat melihat ekspresi wajah marah Aelin yang terlihat seperti kucing kelaparan.


"Dengar... Maaf kan aku sayang.. Tapi aku sungguh jengah karna kamu terus memanggil ku om... Apa aku terlihat setua itu.?"


"Ssstttt...." Telunjuk Aelin langsung menempel di mulut Davin. Membuat mulut Davin bungkam.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu... Aku tidak suka... Umur kita mungkin berbeda sepuluh tahun tapi hal itu bukan menjadi masalah... Biar pun umur mu jauh di atas ku.. Tapi tetap saja wajah mu ini sangat tampan.. Bahkan Lia pun mengakui hal itu..." Tangan Aelin teralih untuk mengelus rahang tegas Davin.


Davin memejam kan ke dua mata nya saat merasa kan sentuhan lembut tangan Aelin di rahang nya.


Tangan nya menyentuh tangan Aelin yang sedang asik bermain di wajah nya.


"Baik lah... Tapi aku tidak mau mendengar bibir mu yang indah itu memanggil ku om..." Davin membuka ke dua kelopak mata nya yang terpejam.


"Tapi aku rasa itu bukan lah hal yang sopan.." Tolak Aelin.


"Tidak ada penolakan.... Aku hanya ingin mendengar persetujuan... Jika kamu memanggil ku om.. Aku jamin aku tidak akan merespon panggilan mu... Mulai sekarang panggil aku sayang, Baby, Atau honey..." Davin mengerjit kan sebelah mata nya genit.


Sementara Aelin semakin salah tingkah di buat Davin.


Rasa nya ia ingin menenggelam kan diri nya di dalam palung laut terdalam.


"Kamu mengerti...?" Seru Davin lagi dengan suara yang di tekan. Yang arti nya tidak ada penolakan atau pun bantahan.


Aelin mengangguk pelan sebagai jawaban.


Davin tersenyum penuh kemenangan.


"Sekarang coba panggil aku...!" Titah Davin yang langsung membuat Aelin tersentak.


Sekarang?


Apa harus sekarang ia memanggil Davin dengan sebutan yang di ingin kan Suami nya?


Tapi sungguh bibir dan lidah nya benar- benar terasa kelu.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2