
...95🍁...
"Tentu saja aku sangat khawatir,, suami ku mengalami kecelakaan bahkan nyawa nya di pertaruh kan.. Aku tidak punya siapa- siapa lagi di dunia ini.. Aku hanya punya dia dalam hidup ku.. Meski awal nya kita menikah karna sebuah keterpaksaan.. Tapi aku tidak mengingin kan hal buruk terjadi pada nya.." Jawab Aelin dengan ke dua mata berkaca- kaca.
Darren terhenyak dengan jawaban Aelin. Ternyata Aelin begitu baik dan tidak pendendam.
Setelah semua yang sudah di lakukan Davin pada nya, namun kini dia adalah orang yang paling mengkhawatir kan kondisi Davin.
"Hati nona Aelin begitu lembut.. Apa tidak salah Tuan membuat hidup wanita malang ini hancur...?" Batin Darren yang langsung mengalih kan tatapan nya pada pintu ruang IGD yang terbuka.
Begitu pula dengan Aelin yang juga melempar tatapan nya ke arah pintu.
Dokter Nashila keluar dari dalam ruangan dengan wajah lega.
"Untung saja kita tidak telat membawa Tuan Davin ke rumah sakit..!" Ucap dokter Nashila dengan menarik nafas nya dalam. Meraup oksigen untuk mengalir ke dalam paru- paru nya.
Setelah melewati situasi yang cukup menegang kan akhir nya diri nya bisa menghirup nafas lega.
Hari ini diri nya benar- benar letih, karna harus menangani dua pasien yang benar- benar kondisi nya memburuk.
"Dokter apa Om Davin baik- baik saja ?" Celetuk Aelin dengan menatap dokter Nashila dengan penuh damba, menunggu kabar bagus yang akan di sampai kan.
Dokter Nashila melempar tatapan nya pada Aelin.
Ia tidak menyadari jika kini ada seorang gadis di sekitar nya.
Apa lagi dengan wajah sembab dan bengkak.
Dokter Nashila mengangkat satu alis nya, melihat kehadiran Aelin.
"Kamu siapa?" Tanya Dokter Nashila.
"Saya istri nya Om Davin.. Apa suami saya baik- baik saja?" Jawab Aelin di iringi dengan sebuah pertanyaan lagi.
Kening Dokter Nashila semakin mengkerut dalam.
Istri Davin?
Bukan kah istri Davin adalah Syaila pasien yang tengah di rawat nya?
Lalu mengapa gadis yang masih berumur tujuh belas tahun di hadapan nya mengaku- ngaku sebagai istri Davin?
Sungguh akal sehat nya tidak bisa mencerna hal ini.
__ADS_1
Melihat ekspresi dokter Nashila yang heran dan bingung, Darren segera menepuk bahu sang dokter.
"Kata kan dokter bagaimana kondisi Tuan Davin?" Tanya Darren untuk mengubah topik pembicaraan.
"Ohh ya.. Tuan Davin baik- baik saja.. Kondisi nya sudah semakin stabil.. Masa krisis nya sudah berlalu.. Tapi ada beberapa masalah yang cukup serius. Pertama luka di wajah nya karna terkena pecahan kaca mobil, luka nya cukup dalam dan mungkin akan meninggal kan bekas di pipi kanan nya.. Lalu kaki kiri Tuan Davin juga mengalami retak di bagian tulang kering nya.. Sehingga beberapa jangka waktu ini dia tidak akan bisa berjalan sampai kaki nya benar- benar sembuh.." Jelas dokter Nashila panjang kali lebar, menjelas kan kondisi Davin yang sebenar nya tanpa menutupi apa pun.
Darren hanya bisa mengangguk mengerti, setidak nya majikan nya bisa selamat.
Namun berbeda dengan Aelin, yang langsung menutup mulut nya di mana lagi- lagi air mata nya luruh begitu saja.
Meski diri nya bersyukur jika Davin masih hidup, tapi ia tetap merasa terluka mendengar kondisi suami nya yang cukup parah.
"Dokter bisa kah saya menemui om Davin..?" Cicit Aelin dengan menahan isakan tangis nya.
Menengahi pembicaraan antara Darren dan dokter Nashila.
Dokter Nashila menatap lekat pada Aelin, sebelum melihat Darren mengangguk kan kepala untuk diri nya memberikan izin.
"Tentu saja.. Tapi kami akan memindah kan Tuan Davin ke ruang ICU dulu baru anda boleh menjenguk nya..." Jawab Dokter Nashila dengan senyum ramah nya, meski kepala nya sudah terlilit dengan banyak nya pertanyaan tentang Aelin.
Aelin mengangguk kecil mengerti akan perkataan sang dokter.
Tak berselang lama, sebuah brangkar dengan tubuh Davin yang tergeletak di atas nya keluar dari ruangan IGD, di mana Frans dan seorang perawat mendorong brangkar tersebut.
Setidak nya kekhawatiran nya sedikit menghilang dan ia sedikit bisa bernafas dengan lega.
"Nona.. Saya akan pergi untuk mengurus administrasi.. Jadi anda bisa langsung menyusul tuan ke ruang ICU.." kata Darren yang langsung mendapat anggukan dari Aelin.
Darren pun melenggang pergi , meninggal kan Aelin yang masih duduk sembari menyender kan kepala nya.
"Terimakasih Tuhan.." Lirih Aelin memejam kan mata nya sebentar, lalu bangkit dari duduk nya dan segera menuju ke ruang ICU.
...----------------...
Aelin membuka pintu ruangan yang tengah di tempati oleh Davin.
Mendorong daun pintu sepelan mungkin, di mana ia tidak ingin Davin sampai terganggu dengan suara decitan pintu.
Aelin berjalan mendekat ke arah brangkar Davin.
Dapat ia lihat tubuh Davin terbujur dengan kaki yang di gift, lalu selang oksigen yang terpasang di hidung Davin. Belun lagi perban yang ada di pelipis nya dan juga plaster yang ada di pipi kanan nya.
Wajah tegas dan tampan Davin kini tertidur dengan begitu lelap, bahkan wajah itu terlihat begitu pucat.
__ADS_1
Aelin membekap mulut nya dengan ke dua tangan nya, di mana air mata nya sudah mengalir dengan begitu deras.
Namun sejenak ia mengontrol emosi dan keperihan yang tengah meremas kuat hati nya , dan menyingkir kan air mata yang terus saja tumpah.
"Aku di sini..!" Lirih Aelin dengan suara bergetar namun coba untuk ia tahan.
Aelin benar- benar sakit melihat keadaan Davin, jika bisa ia memilih mengganti kan Davin untuk melawan rasa sakit itu.
Tunggu, kenapa diri nya berpikir seperti itu?
Entah lah tapi rasa di hati nya tidak cukup penting saat ini.
Aelin menarik sebuah kursi di dekat brangkar Davin, lalu menduduk kan bokong nya di atas kursi.
Aelin menatap lekat wajah Davin, wajah yang selalu ia benci kini menutup rapat ke dua mata nya.
Ia merasa tersiksa melihat Davin memejam kan mata nya, ia ingin ke dua mata elang itu segera terbuka.
Aelin beralih pada tangan Davin yang di infus, lalu meraih dan menggengam tangan itu penuh kehangatan. Sama seperti Davin menggenggam tangan nya saat sang papy meninggal kan diri nya.
"Bagaimana kau bisa seperti ini.. Cepat lah sembuh jangan membuat hati ku tersiksa om.. Om harus sembuh..." Ujar Aelin dengan mengusap lembut punggung tangan Davin.
Menarik tangan yang jauh lebih besar dari tangan nya, menempel kan tangan Davin di pipi nya dan mencium punggung tangan Davin dengan lembut.
Menjatuh kan kepala nya di atas brangkar Davin sembari tangan nya terus memain kan dan mengelus tangan kekar Davin.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1