Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Beri aku kesempatan!


__ADS_3

...166💚...


Aelin termenung dan larut dalam pikirannya sendiri. Ia masih bingung dan masih tidak percaya jika sekarang Davin sedang ada di rumah. Satu pertanyaan yang terus muncul di kepalanya, kenapa Davin meninggalkan dirinya sendiri di hotel? Davin bisa saja memberitahunya bukan?


Mobil Antonio berhenti di depan gerbang sekolah yang mulai sepi. Sepertinya ujian sudah mulai dilaksanakan. Antonio menatap nanar Aelin, yang terdiam sejak tadi tanpa berkata apapun. Aelin hanya meminta dirinya untuk mengantarkannya ke sekolah karna ada ujian. Setelah itu Aelin memilih diam dan sibuk dengan pikirannya. Meski Antonio beberapa kali melempar pertanyaan, tapi Aelin tidak merespon dan terkesan mengacuhkan.


"Ae!" panggil Antonio dengan lembut, akan tetapi Aelin tetap melamun dan tidak bergeming dengan panggilan Antonio.


"Aelin!!" Suara Antonio meninggi.


"Hah?" Aelin terhenyak, bersamaan dengan pikirannya yang terasa semakin kusut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kita sudah sampai di sekolah dan sepertinya ujian sudah di mulai."


Aelin mengalihkan pandanganya ke luar jendela mobil dan benar saja jika kini mereka sudah sampai di sekolah. Aelin mengusap kasar wajahnya, karna memikirkan Davin yang meninggalkannya sendiri di hotel benar-benar membuat kepalanya jengah dan terasa berasap.


"Baiklah terimakasih kak. Sepertinya aku sudah terlambat," jawab Aelin cepat, lalu segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam sekolah.


Antonio menurunkan kaca mobilnya dengan cepat, menyembulkan kepalanya lewat jendela mobil.


"Aelin!!" panggil Antonio, tapi Aelin malah semakin berlari masuk ke dalam sekolah dan hilang di balik dinding.


Buk!


Antonio memukul stir mobil dengan marah. Ia benar-benar tidak sanggup melihat kesedihan Aelin. Aelin baru saja di tinggalkan sendiri oleh Davin tapi wanita itu terlihat begitu hancur. Bagaimana jika Aelin mengetahui semuanya? Antonio tidak bisa membayangkan hal itu.


...----------------...


Aelin menyusuri lorong kelas yang sepi, ujian sudah di mulai dari sepuluh menit yang lalu. Tapi meski terlambat hal itu sama sekali tidak di pikirkan oleh Aelin. Malah sekarang yang ada di pikirannya adalah Davin.


Aelin mengusap wajahnya pelan, menghapus bintik-bintik keringat yang ada di pilipisnya. Menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Aelin jangan pikirkan apapun sekarang. Kamu harus fokus dengan ujianmu. Hanya tinggal dua hari lagi," gumam Aelin menyingkirkan pikiran-pikiran yang sangat mengganggu dari kepalanya.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Aelin mengetuk pintu kelas, serta menyiapkan alasan yang akan ia katakan pada pengawas yang sedang bertugas.


Pintu kelas yang di ketuk Aelinpun terbuka. Terlihat seorang pengawas pria yang cukup berumur menatap Aelin dengan tajam.


"Pak, maaf saya datang terlambat." Aelin menundukkan kepalanya dalam, sebagai bukti ia menyesal karna datang terlambat.


"Karna kamu murid berprestasi maka kali ini bapak toleransi keterlambatan kamu. Tapi jika kamu mengulangi hal ini lagi, kamu tidak akan lulus dan akan mengikuti ujian susulan," tegur pengawas tersebut. Lalu menggeser tubuhnya sedikit, membuat ruang untuk Aelin masuk.


Aelin merasa lega, ia beruntung karna di izinkan untuk masuk dan mengikuti ujian. Ia tidak perlu mengatakan alasan apapun.


Aelin melangkah dengan kepala menunduk menuju kursinya. Dapat Aelin rasakan, semua sorot mata sedang menatapnya sekarang.


"Aku ingin menjawab soal ujian Lia. Mengertilah aku datang terlambat jadi aku harus mengerjakan soal dengan cepat," balas Aelin dengan datar.


"Ck, Baiklah. Tapi aku minta contekan ya seperti biasa!" pinta Lia dengan merenggek.


"Hmmm," dehem Aelin sebagai jawaban final.


Pengawas tersebut, menghampiri kursi Aelin dan meletakkan tiga kertas ujian. Lalu segera pergi dan kembali duduk di tempatnya.


"Untuk sebentar saja, aku harus fokus dengan ujianku," gumam Aelin, mengepalkan ke dua tangannya. mensugesti dirinya untuk fokus mengerjakan soal ujian.


Lia yang sejak tadi memperhatikan tingkah Aelin, menautkan ke dua alisnya. Ia merasa Aelin sedang ada dalam masalah. Hal itu terlihat dari raut wajah tegang Aelin.


...----------------...


Di kediaman Arselion, tepatnya di kamar Davin. Syaila melengkuh, saat merasakan kepalanya yang terasa pusing dan tenaganya yang terasa terkuras.

__ADS_1


Syaila mengerjapkan ke dua matanya secara perlahan. Ingatan tadi malam ketika ia memotong pergelangan tangannya sendiri terbayang.


Kemarin malam saat Davin belum pulang, ia begitu takut jika sampai wanita yang menjadi madunya itu menceritakan semuanya pada Davin. Maka ia akan hancur dan akan di tendang oleh Davin. Ia berusaha memikirkan sesuatu yang bisa membuat Davin bersimpati kepadanya. Maka ia memilih cara ini untuk membuat Davin merasa bersalah karna telah menikahi wanita lain di saat ia sedang koma.


Syaila menggerakkan tangannya yang terasa perih, namun seperti ada sesuatu yang sedang menggengam tangannya.


Syaila menoleh ke arah samping dan mendapati tangan Davin yang menggengam tangannya dengan hangat. Seutas senyum terukir di bibir Syaila.


Davin yang merasakan ada pergerakan, segera membuka ke dua matanya. Dan alangkah leganya, saat melihat Syaila sudah sadar.


Syaila langsung membuang wajahnya, saat tatapannya dengan Davin saling bertabrakan. Dan hal itu berhasil membuat Davin merasa bersalah.


"Syai, maafkan aku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali tidak mengkhianatimu," ujar Davin berusaha membujuk Syaila yang terlihat marah dan terluka.


"Jika ini bukan pengkhianatan, lalu apa Davin? Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika kamu menikah dengan wanita lain. Bahkan itu di saat aku sedang berjuang melawan kematian. Dimana hati nuranimu Davin!!!" bentak Syaila memghempas tangan Davin yang menggengam tangannya. Meski tangannya sedikit merasa nyeri, tapi ia menahannya.


Air mata tumpah begitu saja dari ke dua mata Syaila. Rahangnya mengeras dengan sempurna, serta nafasnya yang terlihat memburu tak beraturan.


"Kamu sudah berjanji pada almarhum mamaku, jika kamu akan selalu melindungiku dan membuatku bahagia. Tapi, kamu malah menyakitiku Davin. Pantas saja kamu tidak mengizinkan aku pulang ke rumah, karna kamu menyembunyikan istri ke duamu di rumah ku. Rumah yang menjadi saksi cinta kita. Kamu tahu rasanya begitu sakit Davin. Aku hancur, hiks ... hiks ..." tangis Syaila semakin pecah dan semakin terdengar memilukan. Rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu namun di selubungi dengan ketakutan.


"Aku tahu aku salah Syai, tapi aku mohon dengarkan aku sekali saja. Aku tidak ingin menyakitimu, ini tidak seperti yang kamu duga. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan semuanya," pinta Davin memohon, bahkan Davin rela berlutut untuk mendapat kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


Ia tidak ingin Syaila tersakiti. Ini memang salahnya, seharusnya ia yang di hukum bukan Syaila yang tidak tahu apa-apa. Dirinya memang laki-laki brengsek.


"Oke karna, cintaku padamu aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


...----------------...


...****************...


Davin. Davin. Kenapa kamu mohon-mohon sama syaila Davin.


Oke jangan lupa like koment gift anda vote ya

__ADS_1


__ADS_2