Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Pertengkaran


__ADS_3

...176...


Malam semakin larut, sinar rembulan yang menyinari bumi terhalang oleh awan yang megumpal cukup tebal. Jam dinding terus berdetik, berpacu dengan waktu bersama kegelapan yang semakin pekat.


Semua mata memilih untuk tidur. Mengistirahatkan ke dua mata mereka untuk kembali melakukan aktivitas yang melelahkan esok hari.


Suara dengkuran halus terdengar seperti alunan musik di tengah heningnya malam. Aelin dan Davin tertidur dengan cukup nyenyak, tanpa mereka sadari pintu kamar mereka yang tidak terkunci terbuka dengan perlahan.


Krieeettt !


Perlahan dua kaki melangkah masuk ke dalam kamar Davin dan Aelin, lalu mendekat ke arah sisi ranjang Davin.


Sebuah tangan lentik dengan perlahan turun mengelus rahang Davin yang sedikit di tumbuhi jambang-jambang halus. Sentuhan yang terasa menggelikan itu membuat tidur Davin terganggu.


Davin menepis tangan tersebut karna mengira jika itu hanya ulah nyamuk yang ingin menghisap darahnya. Namun, sentuhan itu kembali ia rasakan bahkan kini turun ke leher dan dadanya.


Davin mengerjapkan ke dua matanya perlahan. Pandangannya yang kabur mulai jelas, seketika Davin langsung bangkit dengan ke dua mata melebar dengan sempurna saat melihat Syaila tengah menatapnya dengan senyum menggoda.


Davin menautkan ke dua alisnya, seolah mengatakan mengapa Syaila ada di kamar ini. Melihat wajah Davin yang panik dan takut membuat Syaila tertawa lucu.


Syaila meraih tangan Davin dan menariknya. Namun, Davin malah menarik tangannya kembali dan melotot pada Syaila.


Syaila menggunakan isyarat tangan, mengatakan pada Davin untuk ikut dengannya. Akan tetapi Davin malah menggeleng menolak ajakan Syaila.


Syaia mulai kesal dengan Davin yang menolaknya. Ia mengancam jika Davin tidak ikut dengannya, maka ia akan membangunkan Aelin. Tentu saja hal itu mampu membuat Davin bertekuk lutut dan mengikuti keinginan Syaila.


Dengan berhati-hati dan perlahan Davin turun dari ranjang. Menetralisir suara yang akan timbul dari pergerakannya.


Syaila langsung meraih lengan Davin dan membawanya keluar dari kamar. Davin berhenti di depan pintu kamar, sebelum membuka mulut dan melayangkan protes pada Syaila, Davin menutup pintu dengan perlahan. Lalu menatap Syaila dengan tajam.


"Apa yang kamu kamu lakukan Syai? Kenapa kamu masuk ke kamarku dan Aelin? Bagaimana jika Aelin sampai bangun dan melihatmu?" cecar Davin dengan pertanyaan-pertanyaan.

__ADS_1


Syaila memutar bola matanya malas. Apa-apaan ini, ia kemari bukan untuk dimarahi terus menerus. Sejak ia datang Davin selalu saja khawatir jika Aelin sampai tahu tentang dirinya. Dan hal itu membuat Syaila benar-benar kesal.


"Dav kamu ini kenapa sih? Sejak tadi kamu terus saja menolakku. Kamu sangat takut jika Aelin sampai tahu tentang kita. Aku datang ke kamarmu karna aku tidak bisa menerima jika kamu tidur dengan Aelin." Syaila menjeda kalimatnya. Menatap Davin dengan amarah.


"Oh, jangan bilang kamu menerima Aelin sebagai istrimu dan kamu menikmati hal itu," tambah Syaila dengan oktav suara yang meninggi.


Hap!


Dengan cepat Davin membekap mulut Syaila, ia tidak mau apa yang dikatakan Syaila barusan didengar oleh Aelin.


Davin menyeret tubuh Syaila untuk menjauh dari kamar Aelin. Berbicara di depan kamar Aelin bukanlah hal yang bagus.


Syaila yang mendapat perlakuan seperti itu dari Davin, berusaha melepaskan bekapan Davin. Namun sayang, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga seorang pria.


Davin membawa masuk Syaila menuju kamar utama rumah. Kamar yang dulu sampai sekarang menjadi kamarnya dengan Syaila. Tidak lupa, Davin menutup dan mengunci pintu.


"Syaila aku mohon hentikan kegilaanmu ini!" teriak Davin dengan marah. Lama-lama ia muak dengan sikap Syaila yang selalu membangkang perintahnya.


"Sayang, ayolah aku hanya merindukanmu." Syaila mendekat ke arah Davin, menyentuh dada kekar Davin dengan tangan lentiknya. Namun, Davin segera mendorong tubuh Syaila menjauh darinya. Emosi Davin semakin membara, itu terlihat dari dada Davin yang turun naik tidak beraturan.


"Dengar Syaila jangan melewati batas lagi. Kamu tidak berhak untuk masuk seperti itu ke kamarku dan Aelin. Aku tidak ingin kamu mengulangi hal ini lagi. Aku tidak mau jika Aelin sampai tahu tentang dirimu," ucap Davin dengan menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Kalimat peringatan yang ia berikan untuk Syaila.


Tidak ingin semakin marah dan kesal. Davin segera keluar dari kamar tersebut meninggalkan Syaila yang menatap kepergiannya dengan wajah merah padam.


"Aaarrrkkkhhh!!!" teriak Syaila melampiaskan kemarahanya. Untung saja kamar tersebut kerap suara, sehingga suara teriakan Syaila tidak terdengar keluar kamar.


Syaila membanting semua benda yang ada di dalam kamar miliknya dan Davin. Menarik selimut dan bantal yang langsung melayang berpindah tempat ke lantai.


"Persetan dengan wanita itu. Bagaimana kamu bisa membentak dan marah padaku Davin karna wanita itu. Akkkhhh sial, kenapa wanita itu harus masuk dalam hidupku lagi!!" teriak Syaila sambil menjambak rambutnya sendiri.


Kabut amarah menyelubungi Syaila. Membuat seluruh darah yang mengalir dalam tubuh wanita itu bergejolak seperti lahar gunung berapi yang siap untuk dimuntahkan.

__ADS_1


Syaila melangkah ke arah lampu tidur yang ada di atas meja nakas. Namun, ujung kakinya tersandung oleh karpet lantai, sehingga tubuhnya goyah dan jatuh ke lantai.


Bruk!


"Auuuu," erang Syaila saat lututnya yang terluka menyentuh lantai yang keras. Nasibnya memang sangat sial, takdir benar-benar tidak membiarkan hidupnya tenang. Ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Syaila menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menyenderkan punggungnya pada meja di belakangnya. Ia menenggelamkan kepalanya pada dua lutut yang terlipat menyatu dengan dadanya.


Tangis Syaila pecah seketika, suara tangis yang terdengar memprihatinkan. Syaila meluapkan kekesalan dan kemarahan dalam hatinya dengan menangis.


"Hiks ... Hiks ... bahkan kau tidak mengobati lukaku sebelum kau pergi Davin. Apakah kamu sudah jatuh cinta dengan Aelin?" gumam Syaila dengan wajah gelagapan bersimbah air mata.


"Tidak, tidak. Davin tidak bisa jatuh cinta pada Aelin. Aku harus segera menyingkirkan Aelin dari hidup Davin." Syaila menelan ludahnya kasar, lalu menghapus lelehan air mata yang ada di pipinya.


Ini bukan saatnya ia menangis dan duduk diam saja. Ia harus melakukan sesuatu, ia harus segera menemukan ponsel Aelin yang digunakan untuk merekam kejadian sebelum ia mengalami kecelakaan naas itu. Ia tidak bisa membiarkan semua ini makin berlarut. Bagaimanapun caranya ia harus segera mendapatkan ponsel itu dan menghancurkannya. Sebelum ponsel itu jatuh ke tangan Davin dan akan menghancurkan hidupnya.


Syaila bangkit dan segera beranjak keluar dari kamar tersebut. Sebelum melangkah pergi, Syaila merapikan penampilannya yang acak-acakan. Lalu melangkah kembali menuju kamarnya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa untuk


Like


komet


Gift


Vote

__ADS_1


__ADS_2